
Beberapa tahun belakangan, saya kerap mendengar kalimat “harta tak dibawa mati”. Entah di tongkrongan, hingga bahkan di majelis ilmu serta pengajian, setidaknya begitu menurut pengalaman saya, yang tinggal di Jawa Timur. Frasa tersebut, seyogyanya dipakai dengan bijak, alih-alih menggunakannya hanya untuk menjustifikasi kemalasan maupun kemandekan kita dalam hal mencari rezeki.
Tulisan ini mulai diketik setelah saya melamun dan terheran, mengapa frasa “harta tak dibawa mati” ini begitu santer digaungkan di mana-mana, tetapi sering kali penggunaannya tidak tepat. Secara fisik, ketika seseorang meninggal, semua harta benda yang bersifat duniawi (uang, kekayaan, properti) akan ditinggalkan dan diwariskan kepada para ahli warisnya. Si Fulan yang meninggal, tidak membawa serta hartanya, melainkan hanya mengenakan kain kafan.
Dalam hal ini, frasa tersebut hendaknya membuat kita merenung, untuk tidak terlalu berfokus pada duniawi. Sebab pada ujungnya, kita hanyalah calon mayat yang kelak akan dikubur tanpa membawa satu peser pun harta. Begitulah selayaknya penempatan frasa “harta tak dibawa mati” ini digunakan. Yakni untuk mengingatkan mereka, para pekerja di dunia, agar tetap mengingat bahwa ujung perjalanan hidup ialah akhirat.
Pada kenyataannya, saya kerap mendengar frasa ini dipakai untuk mengolok-olok para pekerja yang tengah giat bekerja. “Ngapain terlalu bersemangat ngejar dunia. Ingat… harta nggak dibawa mati”. Atau juga digunakan sebagai tameng ketika seseorang enggan bekerja. “Hidup dibuat santai saja, sebab toh harta tak dibawa mati”. Dua contoh itu merupakan penggunaan frasa “harta tak dibawa mati” yang menurut saya kurang tepat. Alih-alih digunakan untuk merenung, frasa tersebut malah dipakai untuk menjustifikasi kemalasan dalam hal mencari nafkah atau mengais rezeki.
Miskonsepsi Tentang Harta Dalam Cerita Qarun
Salah satu kisah yang sering diceritakan kepada anak-anak sekolah madrasah hingga kepada bapak-bapak maupun ibu-ibu yang ada di pengajian ialah Kisah Qarun. Barangkali Anda sudah sering mendengar kisah ini atau bahkan masih hafal garis besar ceritanya. Secara garis besar, Kisah Qarun adalah tentang seseorang yang kaya raya di zaman Nabi Musa, namun menjadi sombong, kikir, dan menolak perintah zakat, sehingga Allah menenggelamkannya beserta seluruh hartanya ke dalam bumi sebagai azab atas kesombongannya.
Awalnya si Qarun miskin dan meminta Nabi Musa mendoakannya agar kaya, yang kemudian terkabul, tetapi ia justru menjadi angkuh dan membanggakan diri dengan kekayaannya.
Untuk mencerap kisah Qarun, kita seyogyanya tidak terlena pada “harta”-nya yang melimpah ruah. Alih-alih berfokus pada harta dan menyalahkan hartanya, pendengar cerita atau pembaca cerita si Qarun hendaknya mampu memahami bahwa dia diazab oleh Allah dikarenakan sifat angkuhnya serta kebanggaan berlebihannya pada hartanya sendiri. Dalam diri Qarun bersemayam sifat-sifat sombong, kikir, serta sikapnya yang abai terhadap zakat.
Jangan sampai “salah tangkap” dalam mengambil hikmah dari cerita si Qarun ini lantas membuat kita alergi terhadap harta dunia, atau yang lebih parahnya lagi, yakni menjadikan kisah Qarun sebagai tameng untuk tidak berusaha bekerja maupun mencari nafkah. Kisah Qarun yang terkubur oleh hartanya sendiri tidak bisa dijadikan validasi atas keengganan maupun kemalasan seseorang dalam mencari rezeki di dunia.
Tokoh Islam Yang Kaya Serta Memiliki Sumbangsih Besar Untuk Umat Muslim
Di lain sisi, bila saudara-saudara mencari sosok orang kaya yang memiliki sumbangsih besar atas Islam dan umat muslim, maka saudara-saudara bisa mencoba membaca beberapa kisah dari Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Kalau tidak punya harta, tentu Abdurrahman bin Auf tidak bisa menyumbangkan 500 ekor kuda dan 1.500 ekor unta untuk keperluan jihad. Bila Utsman bin Affan tidak kaya, maka kisah pembelian Sumur Raumah takkan pernah ada. Hasil bumi senilai 700 ribu dirham juga tidak akan habis dalam semalam hanya untuk dibagikan kepada fakir miskin di Madinah jika Thalhah bin Ubaidillah tidak memiliki harta yang banyak. Tiga sahabat nabi di atas adalah contoh sekian dari banyaknya orang kaya yang terpuji dan layak dicontoh.
Pada akhirnya, harta ialah benda mati, dan yang menjadikannya berarti ialah manusia itu sendiri. Bila kita dianugerahi banyak harta, semoga bukan kisah si Qarun yang terulang lagi, melainkan kisah tiga sahabat nabi lah yang menuntun kita agar berperilaku terpuji.
Semoga kita semua cukup bijak untuk menempatkan suatu frasa pada tempatnya dan menggunakan suatu frasa dengan konteks yang benar, alih-alih menggunakannya untuk menjustifikasi kemalasan atau keengganan kita untuk lebih berusaha dalam mengais rezeki yang halal. Semangat mencari harta, tetapi jangan lupa tentang akhir dari hidup di dunia!
Baca Juga: Penentu Rezeki Suami Bukan Istri atau Bekerja, Tapi…
Penulis: Uzair Assyaakir
Editor: Muh. Sutan


















