
Munajat di Ufuk Cahaya
Di teras yang masih lembab,
Dingin merayap dari ubun-ubun ke telapak kaki,
Sisa kantuk masih menggantung,
luruh bersama basuh air wudhu yang jernih.
Ada rindu yang tak sempat dieja lewat kata,
Hanya sesak yang dititipkan pada tarikan nafas,
Diantara sunyi dan suara jangkrik yang mulai reda.
Setiap rakaat terasa berat,
Seperti membawa beban punggung yang payah,
Namun kening bertemu sujud,
Di sana segala angkuh berubah pasrah.
Fajar belum genap,
Tapi bibir sudah gemetar menyebut Nama,
Mencari pegangan pada seberkas cahaya
yang masih samar menyapa.
Bangkalan, 10 April 2023
Seberkas Cahaya di Waktu Sepi
kadang aku terdiam, menatap langit yang pudar warnanya,
mencari tanda dari-Mu di antara desir angin yang lewat.
Rahmat-Mu, mungkin bukan lautan, tapi sebutir embun
Yang jatuh tepat di dahiku – saat aku hamir penyerah.
Aku pernah tersesat di jalan yang sunyi,
Namun kasih-Mu datang seperti cahaya yang sabar,
Tak menegur, hanya menyapa perlahan,
Mengajakku pulang tanpa suara.
Setiap nafas, ternyata bukan milikku sepenuhnya.
Ada bagian-Mu di sana – yang menuntunku diam-diam
Melewati luka, melewati waktu,
Sampai hati ini belajar untuk bersyukur tanpa alasan.
Dan kini, dibawah hujan yang turun tanpa aba-aba,
Aku mengangkat wajah, membiarkannya membasuh dosa-dosa kecil.
Mungkin beginilah rahmat itu:
Tak selalu megah, tapi selalu tiba di saat paling sepi.
Bangkalan, 15 Juni 2023
Cahaya Kecil di Genggaman Tangan
Kadang Langkah ini gontai,
Batu kecil di jalan terasa ujian besar.
Aku menunduk, terjatuh,
Namun ada bisikan lembut di dada: “teruslah melangkah.”
Iman bukan benteng yang megah,
Ia seperti cahaya kecil di genggaman tangan –
Kadang nyaris padam,
Kadang cukup terang untuk menuntun satu Langkah kedepan.
Aku pernah berhenti di persimpangan do’a,
Menimbang, bertanya, bahkan nyaris berpaling.
Namun dalam sunyi, Kau hadir tanpa suara,
Menyapu debu di hatiku, menegakkan Kembali arah.
Kini, meski jalan masih penuh duri,
Aku berjalan lebih pelan, tapi lebih sadar.
Setiap luka yang kutemui,
Menjadi tanda bahwa Kau masih bersamaku.
Bangkalan, 10 Juli 2023
Cahaya yang Terjepit
Ada hari Ketika semua terasa buntu,
Bahkan lagit Cuma sekedar atap abu-abu yang membosankan.
Aku mencoba mengais arti dari hal-hal yang terlanjur hilang,
Tapi di depan cermin,
wajahku sendiri tampak seperti orang asing yang tak punya jawaban.
Di sela nafas yang pendek dan do’a yang nyaris berhenti di tenggorokan,
Ada sesuatu yang masih berdenyut – keras kepala.
Bukan kilat yang indah,
mungkin cuma sisa bara kecil yang terhimpit lelah,
tapi ia menolak mati,
Meski dihantam berkali-kali oleh ragu yang dating tiba-tiba.
Kini aku berjalan saja, tanpa perlu banyak gaya atau kata-kata puitis,
Cahaya ini ku titipkan di saku, dekat detak jantung.
Kadang hamper padam, kadang sedikit hangat,
Tapi ia ada – bisu, nyata,
Dan tidak pernah membiarkanku benar-benar sendirian.
Bangkalan, 30 Agustus 2023
Sujud di Ambang Sunyi
Lantai terasa dingin di keningku,
Angin masuk lewat jendela yang tak sepenuhnya tertutup.
Di luar, malam menahan napasnya –
Hanya detak jantung dan desah kecil yang tersisa.
Aku tak pandai berdo’a Panjang,
Aku hanya menyebut nama-Mu dengan suara yang nyaris habis.
Antara lelah dan ingin pulang,
Kupasrahkan segalanya dalam diam yang berat tapi damai.
Bintang di langit seperti mata yang mengerti,
Tak berkata apa-apa, tapi ikut menunduk.
Ada sesuatu yang lembut turun dari dada,
Entah air mata atau ketenangan yang lama kutunggu.
Malam tetap gelap, tapi rasanya tak menakutkan lagi,
Ada cahaya kecil di dalam dada,
Tak besar, tak menyilaukan,
Tapi cukup untuk membuatku tahu – Kau masih di sini.
Bangkalan, 12 September 2023
Penulis: Misbahun Nasor
Editor: Rara Zarary


















