Modernisasi Pesantren, Inovasi dan Internalisasi Transformatik (Bagian II)

Hakikat Modern Menurut Para Ahli

oleh: Mahmudin, M.Ag.*

Kata modern atau modernisme[1]menurut Prof. DR. H. Harun Nasution[2]dalam khazanah pemikiran barat mangandung makna :fikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[3] Perubahan dilakukan adalah untuk menyesuaikan keadaan masyarakat dengan perkembangan zaman oleh suatu bangsa dalam rangka mengejar ketertinggalan dari bangsa lain.

Perubahan ini mensyaratkan agar memberikan solusi nyata dengan mendatangkan paradigma baru dalam suatu masyarakat untuk mewujudkan suatu kebangkitan bagi umat.Kata modernism menurut Prof. DR. Harun Nasution dianggap mengandung arti-arti negatif disamping arti-arti positif, maka untuk menjauhi arti-arti negatif itu, lebih baik kiranya dipakai terjemahan Indonesianya yaitu pembaharuan.[4]

Hakekat modern menurut Prof. DR. H. Nurwadjah Ahmad, E.Q.,MA. sebenarnya sebuah gagasan yang menghendaki perlunya kita menyesuaikan diri dengan kemajuan danperubahan yang sejalan dengan prinsip nilai keislaman universal dengan mengacu pada nilai nilai dasar Al-Qur’an dan Al-Hadist.[5]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Ciri – ciri Masyarakat Modern.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta mengatakan masyarakat modern sebagai suatu himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.[6]Selanjutnya sering disebut sebagai lawan dari masyarakat tradisional.

Deliar Noer[7] menyebutkan ciri-ciri sebuah masyarakat yang disebut sebagai masyarakat modern adalah apabila mereka memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Bersifat rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran, daripada pendapat emosi. Sebelum melakukan pekerjaan selalu mempertimbangkan terlebih dahulu untung dan ruginya.
  2. Berfikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut pandang fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat.
  3. Menghargai waktu, yakni selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan seefisien mungkin.
  4. Berfikir untuk jauh ke depan (visioner) dan tidak berfikir untuk kepentingan sesaat, sehingga selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh.
  5. Bersikap terbuka, yakni mau menerima saran, masukan, baik berupa kritik, gagasan dan perbaikan diri dari mana pun datangnya.[8]

Dengan pendekatan studi komparatif, penulis akan mencoba mengkomparasikan apakah ciri-ciri masyarakat modern yang di sebutkan itu bertentangan atau sejalan dengan prinsip ajaran Islam, hal ini penting untuk menarik konklusi apakah Islam identik dengan gagasan modern atau justru bertolak belakang dengan ciri masyarakat modern, berikut kami sajikan dalam tabel :

Tabel. 1

Komparasi Ciri Masyarakat Modern dan Nilai Islam Universal

 

No. Ciri Masyarakat Modern Prinsip Nilai Islam Universal DalilNaqliNilai Islam Universal
1. Rasional Agama yang tidak bertentangan dengan akal QS. 2 : 164
2. Objective Prinsip keadilan QS. 4 : 135, QS. 5 : 8
3. Menghargai waktu Demi waktu, semua manusia rugi QS. 103 : 1-3
4. Visioner Menembus dimensi ruang dan waktu (akherat) QS. 59 : 18
5. Bersikap terbuka Tasamuh dan tolerans QS. 2 : 256, dsb

 

Kategorisasi masyarakat bisa dikelompokkan ke dalam tiga bagian, demikian dijelaskan oleh Alvin Toffler, seperti yang dikemukakan oleh Jalal al-Din Rahmat.Pertama, masyarakat pertanian (agricultural society), yakni masyarakat yang mendasarkan perekonomiannya pada sumber daya alam.Mereka masih sangat sederhana dan tradisional, informasi terpusat pada seseorang yang ditokohkan, kekeluargaan mereka menganut sistem batin, yaitu menganut ikatan darah dan keturunan, mereka selalu komitmen dengan lingkungan dan masa lalunya serta banyak menggunakan kekuatan irasional.

Kedua, masyarakat industri (industrial society), masyarakat ini sudah maju dibandingkan dengan masyarakat pertanian, mereka sudah menggunakan mesin-mesin untuk memproduksi berbagai hal, dengan teknologi yang tinggi, efektif dan efisien, informasi sudah tidak terpusat pada seorang tokoh tetapi sudah tersebar pada siapa saja, karena sudah menggunakan media cetak atau tulisan, informasinya bersifat nasional dan terus berkembang bahkan lebih luas lagi jangkauannya, kekeluargaan yang dibangun lebih sempit yakni keluarga inti (orang tua, suami, isteri dan anak) yang hanya mengandalkan peran dan fungsi sosial ekonominya saja, dan sehingga karena persaingan yang ketat dalam masyarakat industri maka yang sangat diperlukan adalah jiwa yang cerdas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi canggih.

Dan ketiga, masyarakat informasi (informatical society), masyarakat ini adalah masyarakat yang perkembangannya lebih maju dibanding dengan masyarakat industri, dari segi teknologi, ekonomi dan industri lebih bersifat pasti, dan mengukur kekayaan dengan kekayaan informasi bukan lagi pada kekayaan materi seperti pada masyarakat pertanian dan masyarakat industri, dan informasi adalah lebih penting dari segalanya. Pada masyarakat ini yang akan bertahan adalah mereka yang berorientasi ke depan dan bijak, sehingga akan membangkitkan kepribadian yang suprareligius, mistikan yang menganggap alam sebagai teman bukan musuh.[9]

 

  1. Kompetisi Global dan ProblematikaMasyarakat Modern.

Kemajuan di bidang teknologi pada zaman modern ini telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah (positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif).Efek positifnya tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap.

Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan.Misalnya penggunaan teknologi kontrasepsi dapat menyebabkan orang dengan mudah dapat melakukan hubungan seksual tanpa harus takut hamil atau berdosa. Jaringan-jaringan peredaran obat-obat terlarang, tukar menukar informasi, penyaluran data-data film yang berbau pornografi di bidang teknologi komunikasi seperti komputer, faximile, internete, dan sebagainya akan semakin intensif pelaksanaannya.

Hal tersebut di atas adalah gambaran-gambaran masyarakat modern yang obsesi keduniaannya tampak lebih dominandaripada spritualnya.Kemajuan teknologi sains dan segala hal yang bersifat duniawi jarang disertai dengan nilai spiritual.

Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuaannya telah tercebur ke dalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual.[10]Jika hal tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa.Semua itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba hidup dengan alam yang kasat mata.

Menurut Nashr, manusia barat modern memperlakukan alam seperti pelacur. Mereka menikmati dan mengeksploitasi alam demi kepuasan dirinya tanpa rasa kewajiban dan tanggung jawab apa pun. Nashr melihat, kondisi manusia modern sekarang mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar dan bersifat spiritual, mereka gagal menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak ada keseimbangan dalam diri. Hal ini akan semakin parah apabila tekanannya pada kebutuhan materi semakin meningkat sehingga keseimbangan semakin rusak. Oleh karena itu, manusia memerlukan agama untuk mengobati krisis yang dideritanya.[11]dan ini hanya akan dapat di peroleh apabila konsepsi pendidikan kita kembali dan mengacu pada pola pendidikan pesantren.

Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran iptek telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern, sebagai berikut :

  1. Desintegrasi ilmu pengetahuan, Banyak ilmu yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada tali pengikat dan penunjuk jalan yang menguasai semuanya, sehingga kian jauhnya manusia dari pengetahuan akan kesatuan alam dan Pencipta (teologi).
  2. Kepribadian yang terpecah (spleet personality), Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah, hilangnya kekayaan rohaniah karena jauhnya dari ajaran agama.
  3. Penyalahgunaan Iptek, Berbagai iptek disalahgunakan dengan segala efek negatifnya sebagaimana disebutkan di atas.
  4. Pendangkalan Iman, Manusia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan hal itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap tidak ilmiah dan kampungan.
  5. Pola Hubungan materialistik, Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material.
  6. Menghalalkan segala cara, karena dangkalnya iman dan pola hidup materialistik manusia dengan mudah menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
  7. Stres dan frustasi, Manusia mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya untuk terus bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Sehingga apabila ada hal yang tidak bisa dipecahkan mereka stres dan frustasi.
  8. Kehilangan harga diri dan masa depannya,Mereka menghabiskan masa mudanya dengan memperturutkan hawa nafsu dan menghalalkan segala cara. Namun ada suatu saat tiba waktunya mereka tua segala tenaga, fisik, fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak dapat mereka lakukan, mereka merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.

 


[1]Modern dalamKamus Ilmiah Populer di artikan : cara baru; secara baru; model baru; bentuk baru; kreasi baru; atau mutakhir. Sedangkan modernisasi di artikan gerakan untuk merombak cara-cara lama untuk menuju bentuk /model kehidupan yang baru ; penerapan model-model baru; pemodernan. Lihat Pius A Parto M.Dahlan Al Barry dalam Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), hal.476

[2] Prof.DR. H. Harun Nasution, tokoh pemikir Islam Modern dari Indonesia yang lahirSelasa, 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatera Utara.Harun memulai pendidikannya di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandche School (HIS) pada waktu berumur 7 tahun.Selama tujuh tahun, Harun belajar bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan umum di HIS itu.Dia berada dalam lingkungan disiplin yang ketat.Di lingkungan keluarga, Harun memulai pendidikan agama dari lingkungan keluarganya dengan belajar mengaji, shalat dan ibadah lainnya.Harun melanjutkan pendidikan ke sekolah agama yang bersemangat modern (MIK).Setelah sekolah di MIK, ternyata sikap keberagamaan Harun mulai tampak berbeda dengan sikap keberagamaan yang selama ini dijalankan oleh orang tuanya, termasuk lingkungan kampungnya.Harun bersikap rasional dan modern sedang orang tua dan lingkungannya bersikap tradisional.

[3] Baca dan bandingkan dengan tulisan Prof. Dr. Harun Nasuion , Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta, Bulan Bintang, 1991, cet. 8, hal. 11.

[4]Op.cit hal.12 danlihat juga padahttps://ading-aday.blogspot.com/2010/07/pendahuluan-perkembangan-ilmu.html.Di akses pada Sabtu 28 September 2013.

[5]Prof.DR.KH. Nurwadjah Ahmad, S.Q,M.A, saat ini menjadi Guru Besar di UIN Bandung dan pernah belajar dan menimba Ilmu dan berguru langsung kepada Prof.DR. H. Harun Nasution di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan penjelasan bahwa yang dimaksud modern adalah yang kembali pada nilai-nilai dasar pada Al-Qur’an dan Hadist, modern secara teknis adalah lebih melihat ke depan. Ungkapan ini disampaikan dalam memberikan mata Kuliah Perkembangan Pesantren di Program Pasca Sarjana (S3) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Sabtu 28 September 2013.

[6] W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia.(Jakarta: Balai Pustaka. 1991). Cetakan XII. hal. 636 dan 653.

[7]Deliar Noer, lahir di Medan, Sumatera Utara, 9 Februari1926 – meninggal di Jakarta, 18 Juni2008 pada umur 82 tahun), adalah seorang dosen, pemikir, peneliti, dan politikus asal Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai rektor IKIP Jakarta, pendiri dan ketua umum Partai Umat Islam. Deliar merupakan sedikit dari intelektual dan ilmuwan politik yang memiliki integritas tinggi dan aktif menulis. Ia juga merupakan salah seorang perintis dasar-dasar pengembangan ilmu politik di Indonesia. Bandingkan https://id.wikipedia.org/wiki/Deliar_Noer

[8] Deliar Noer. Pembangunan di Indonesia. (Jakarta: Mutiara. 1987).hal. 24.

[9]Jalal al-Din Rahmat. “Islam Menyongsong Peradaban Dunia Ketiga” dalam ‘Ulum al-Qur’an 2. vol. 2. 1989. hal. 46.

[10]Agussyafii.blogspot.com/2007/12/problem-dan-solusi-masyarakat-modern.html,di akses 2 Oktober 2013.

[11]Sayyed Hossein Nashr, Man and Nature……..hal.57

*Guru MAN Majenang Cilacap Jawa Tengah,

Mahasiswa S3 UIN Sunan Gunung Jati Bandung

🤔  Nasionalisme Media Pemersatu Bangsa