Moderasi antara Negara dan Agama

216
Buku terbitan Pustaka Tebuireng

Judul Buku       : Mendidik Kader Bangsa Nasionalis Religius 

Penulis              : W. Eka Wahyudi

Penerbit            : Pustaka Tebuireng

Tahun Terbit     : 2018

Tebal                 : 251halaman

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Peresensi          : M. Amfa Ka.

Dikotomi antara negara dan agama menjadi sebuah permasalahan yang sangat serius di tengah persatuan. Implikasi antar keduanya sangat memengaruhi bentuk dan karakter bangsa. Hal ini terbukti saat Indonesia dalam masa transisi kemerdekaannya yaitu saat pembentukan ideologi bangsa, Pancasila pada 22 Juni 1945 rumusan hasil Panitia 9 itu diserahkan ke BPUPKI dan diberi nama “Piagam Jakarta” yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”.

Dengan sila pertama yang menyebutkan Islam secara khusus banyak golongan dari nonmuslim menolak bunyi tersebut sehingga pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta. Perubahan tersebut bunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” dihapuskan.

Namun remaja ini ada golongan yang ingin mengubah ideologi negara menjadi negara Islam. Tentu hal ini mengundang perdebatan dari berbagai kalangan banyak golongan yang menolak hal ini bahkan dari kaum Muslim karena memang telah jelas di sejarah pembentukan Republik Indonesia ini hal tersebut sudah pernah diperbincangkan.

Dalam tulisan Prof. Dr. Saifuddin Zuhri, beliau menarasikan hubungan negara dan agama sangat epik  “Nasionalis adalah alami, tegasnya; sifat pembawaan manusia yang dilahirkan sebagai bekal mengarungi atas kodrat dan iradat Allah Tuhan Maha Pencipta, manusia sejak lahir telah membawa nasionalisme, dan tidak bisa memilih nasionalisme macam apa yang dikehendaki. Mehendaki sesuatu nasionalisme itu sendiri sejak gua gerba itu adalah suatu kemustahilan.” Kaleidoskop, Jilid 1, 217

Hubungan antara agama dan negara adalah suatu hal yang alami, tanpa dirumuskan pun sebagai seorang Muslim mempunyai rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap tanah kelahirannya. Pemikiran beliau tentang hal ini lahir karena di tanah kelahirannya merupakan kawasan dimana elit tentara indonesia dilahirkan sehingga banyak jiwa perjuangan yang beliau teladani. Selain itu beliau pun juga seorang santri yang mula-mula belajar di tanah kelahirannya dan juga menjadi santri kelana di Solo selama beberapa bulan. Beliau pun juga seorang yang memiliki ambisi besar untuk mengilangkan haus dahaganya dalam mencari ilmu dan pengalaman.

🤔  Tak Sanggup Mencinta

“Masa mudanya ditempuh dalam keprihatinan untuk mendidik diri sendiri. Ia memasuki pergerakan pemuda dalam tempaan zaman pergerakan politan Gerakan Pemuda Ansor NU merangkap guru madrasah. Sedangkan pada usia 35 tahun menjabat sebagai Sekretaris Jendral organisasi sosial keagamaan yakni NU bahkan merangkap menjadi pemimpin redaksi Duta Masyarakat dan anggota Parlemen Sementara.” Halaman 67

Memang pada usia mudanya ia telah aktif di banyak organisasi, namun tidak sampai di situ peristiwa bersejarah dalam hidupnya dimulai pada tanggal 17 Februari 1962, ia dipanggil untuk membantu pemimpin revolusi tertinggi Indonesia, Bung Karno menjadi Menteri Agama mengganti KH. Wahib Wahab yang pada saat itu telah mengundurkan diri. Dalam kesibukannya mengurusi negara, ia tetap mampu melahirkan banyak karya akademik yang menunjukkan seberapa bobot dan kualitas pemikirannya. Karya berjudul “Berangkat dari Pesantren” adalah bukti nyata yang ia selesaikan menjelang akhir hayatnya.

Buku bertajuk “Nasionalisme Religius”, karya W. Eka Wahyudi yang merupakan sari dari pemikiran Prof. KH. Saifuddin Zuhri tentang hubungan antara agama dan negara yang tidak bisa dipisahkan. Buku ini menjelaskan gagasan beliau tentang pentingnya jiwa nasionalisme dan kesadaran beragama dalam mendidik kader bangsa untuk membentengi dari pemikiran-pemikiran yang terus berusaha menggerus persatuan bangsa dengan mengatasnamakan agama.

Melihat sejumlah mahasiswa ITB yang bersumpah untuk menegakkan khilafah di Indonesia, tentu dalam pendidikan kita masih kurang. Buku ini berkontribusi menyumbang referensi dan gagasan tentang wacana nasionalisme, kebangsaan, dan pendidikan. (Ubaidillah, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Pusat) Mencegah pemikiran-pemikiran yang menganggap negara dan agama adalah suatu yang tidak sejalan.

Buku ini sangat menarik karena berisi tentang cerita seorang teladan yang sarat dengan perjuangan dan kegigihan dalam mengisi ruang kosong kemerdekaan dan juga buku ini berisi tentang gagasan hubungan antara negara dan agama yang hingga sekarang menjadi permasalahan yang begitu rumit. Buku ini bagus dibaca untuk pelajar Indonesia zaman sekarang yang penuh dengan pemikiran-pemikiran yang cenderung mengkikis ideologi bangsa.

Jombang, 08 November 2018

*Penulis adalah Santri yang menggiatkan diri di dunia Kepenulisan dan juga salah satu anggota perkumpulan (swasta) pembaca dan penulis SANTRI JO.