paud
jambidaily.com

tebuireng.online-Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu pendidikan dasar yang penting bagi tumbuh kembangnya anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Namun ketersediaan PAUD ini masih belum maksimal, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan PAUD.

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi mengatakan, kebutuhan PAUD di Indonesia mencapai 551.779. Namun jumlah  PAUD di Indonesia baru mencapai 174.367.

Dari jumlah tersebut,  termasuk Taman Kanak-kanak (TK) sebanyak 74.487, diikuti Kelompok Bermain sebanyak 70.477. Sedangkan Satuan PAUD sejenis mencapai 26.269 lembaga. Berdasarkan survei nasional BPS pada tahun 2010, anak usia 0-9 tahun telah mencapai 45,93 juta jiwa. Pada tahun 2045, anak-anak tersebut akan berusia 35-44 tahun.

Lydia pun mengatakan, agar program Satu Desa Satu PAUD semakin berkembang, segala sarana dimanfaatkan. Salah satunya,  rumah ibadah juga dijadikan sebagai lokasi pengembangan program PAUD.

Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD, naik dari tahun ke tahun meski masih banyak membutuhkan lembaga PAUD baik TK swasta maupun negeri. Pada tahun 2004, APK PAUD masih 24,75 persen, namun pada akhir 2013 naik menjadi 68,1 persen. “Tahun 2014, kami menargetkan APK PAUD sebesar 72 persen. Kami harap bisa tercapai,” ujar Lydia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi mengatakan, masih terdapat provinsi-provinsi yang tingkat ketuntasannya  program Satu Desa Satu PAUD masih di bawah 50 persen yaitu Maluku Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Papua, dan Papua Barat.

“Kendala geografis menjadi salah satu kendala penuntasan program PAUD di provinsi-provinsi tersebut. Jaraknya juga jauh,” tambah Lydia.

Oleh karena itu dibutuhkan tenaga bantuan yang mampu bahu-membahu menuntaskan program ini, agar anak-anak di desa terpencil pun mampu mendapatkan pengajaran yang sesuai, hingga dapat berguna untuk masa depan Indonesia kelak. (ul)

Sumber : ROL

SebelumnyaKurangnya Guru Bahasa Indonesia di Australia
BerikutnyaAliansi Seniman Mengadakan Solidaritas Budaya Untuk Masyarakat Urutsewu