Oleh: Faizal Amin*

Karakter jujur adalah suatu kebanggaan bagi pemiliknya. bagaimana tidak, hampir seluruh orang-orang di sekitar nya mencintai orang tersebut. Dia menjadi kebanggaan orang sekitar, menjadi orang kepercayaan, dan menjadi orang yang dicintai seluruh kalangan.

Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang jujur pasti disayang semua kalangan. Satu contoh Nabi Muhammad Saw., semenjak kecil beliau dikenal dengan sebutan al-Amin (yang terpercaya), beliau menjadi anak yang sangat disayangi di Mekah, waktu mudanya beliau sudah dipercaya untuk turut serta meletakan batu (hajar aswat) saat direnovasinya Ka’bah yang hampir menyebabkan pertumpahan darah, dan beliau punlah yang mengerai pertikaian tersebut. Begitulah sifat Nabi Muhammad Saw., jujur, bijaksana hingga akhirnya membuat orang mencintai dan mempercayainya.

Nabi Muhammad Saw bersabda :

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

عَنِ ابنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا. وَ اِياكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اْلفُجُوْرُ يَهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابا. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه و اللفظ له

Dari Ibnu Mas’ud RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seorang hamba itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkannya dan lafadh baginya]

Rasullah Saw juga bersabda:

عَنْ عُبَادَةَ بنِ الصَّامِتِ رضي عنه اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِضْمَنُوْا لىِ سِتًّا مِنْ اَنفُسِكُمْ، اَضْمَنْ لَكُمُ اْلجَنَّةَ. اُصْدُقُوْا اِذَا حَدَّثْتُمْ، وَ اَوْفُوْا اِذَا وَعَدْتُمْ، وَ اَدُّوْا اِذَا ائْتُمِنْتُمْ، وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ، وَ غُضُّوْا اَبصَارَكُمْ، وَ كُفُّوْا اَيدِيكُمْ. احمد و ابن ابى الدنيا و ابن حبان فى صحيحه الحاكم و البيهقى

Dari Ubadah bin Shamit RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara dari dirimu, niscaya aku menjamin surga bagimu : 1. Jujurlah apabila kamu berbicara, 2. Sempurnakanlah (janjimu) apabila kamu berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kamu diberi amanat, 4. Jagalah kemaluanmu, 5. Tundukkanlah pandanganmu (dari ma’shiyat) dan 6. Tahanlah tanganmu (dari hal yang tidak baik)”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid-Dunya, Ibnu Hibban di dalam shahihnya, Hakim dan Baihaqi]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عَمْرٍو رض اَنَّ رَجُلاً جَاءَ اِلىَ النَّبِيِّ ص فَقَالَ: يا رَسُوْلَ اللهِ، مَا عَمَلُ اْلجَنَّةِ؟ قَالَ: اَلصِّدْقُ. اِذَا صَدَقَ الْعَبْدُ بَرَّ، وَ اِذَا بَرَّ آمَنَ، وَ اِذَا آمَنَ دَخَلَ اْلجَنَّةَ. قَالَ: يا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا عَمَلُ النَّارِ؟ قَالَ: َالْكَذِبُ، اِذَا كَـذَبَ اْلعَبْدُ فَجَرَ، وَ اِذَا فَجَرَ كَـفَرَ، وَ اِذَا كَفَرَ يَعْنِى دَخَلَ النارَ. رواه الإمام احمد

Dari Abdullah bin ‘Amr RA ia berkata : Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya : “Ya Rasulullah, apakah amalan surga itu ?” Rasulullah SAW bersabda : “(Amalan surga itu ialah) jujur. Apabila seorang hamba itu jujur berarti dia itu baik, apabila baik dia beriman dan apabila dia beriman maka dia masuk surga”. Orang itu bertanya lagi : “Ya Rasulullah, apakah amalan neraka itu ?” Rasulullah SAW bersabda : “(Amalan neraka itu ialah) dusta. Apabila seorang hamba itu berdusta berarti dia durhaka, apabila durhaka dia kafir dan apabila kafir maka dia masuk neraka”. [HR. Ahmad]

Begitu pentingnya dan mulianya kejujuran hingga Nabi Muhammad Saw., memerintahkan. Bahkan menjadikannya salah satu jaminan untuk masuk surga Tuhan. Begitu juga sebaliknya, sangatlah hina bagi orang-orang yang mempunyai sifat pembohong dan selalu berdusta.

Berangkat dari kejujuran itulah Nabi Muhammad Saw., selain dipercayai beliau juga menjadi orang tersukses hingga hari ini. Mulai dari dagangan beliau hingga dalam penyebaran risalahnya, semua sukses dan terbukti dampaknya.

Itulah kenapa kejujuran adalah salah satu sumber terbesar kesuksesan seseorang. Dengan berprilaku jujur, semua orang akan menyayangi dan mempercayai dalam berbagai hal. Baik dalam pekerjaan maupun sebagai atasan, siapa yang tidak ingin mempunyai karyawan jujur, siapa yang tidak ingin mempunyai atasan yang jujur, itu lah kenapa kesuksesan bersumber dari kejujuran.

Begitu pula sebaliknya ketika kita dikenal dengan sebutan pendusta, pembohong (hilang kepercayaan seseorang), siapa yang mau menjadikan kita karyawan, siapa yang ingin menjadikan kita atasan, siapa yang ingin tempat usahanya dihuni pembohong. Maka dari itu, kunci kesuksesan berawal dari kejujuran. Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa jujur meskipun terkadang hal tersebut kita anggap kurang aman. Sebagian hukama (ahli hukum) pernah berkata:

وَقال بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الصِّدقُ مَنْجِيْكَ وَإنْ خِفْتَهُ، وَالكذِبُ مَرْدِيْكَ وَإنْ أمَنْتَهُ.

“Kejujuran itu pasti akan menyelamatkanmu walaupun kau takut. Kebohongan itu pasti akan mencelakakanmu walaupun kau merasa aman”.

Teruslah berlaku jujur atau mulailah melatih kejujuran, karena semua orang pasti menyukai orang-orang yang mempunyai sifat tersebut. Ketika banyak orang menyukai dan mempercayai kita, pastilah mudah untuk kita memperoleh kesuksesan. Selain manfaat sifat jujur di atas, kita juga harus menggunakan sikap jujur sesuai dengan syariat Islam, karena banyak kemaksiatan berjalan lancar karena pelaku maksiat itu berlaku jujur, seperti orang menjual narkoba, transaksi akan berhasil karena ia menjual narkoba asli bukan tepung terigu. Semoga kita terhindar dari menyalahgunakan sifat jujur ini.

Wallahu’alam.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKetahui Titik Perbedaan Zakat dan Sedekah
BerikutnyaAl-Khwarizmi, Bapak Al-Jabar dan Algoritma Dunia