KH. Hasyim ASy'ariIlmu pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai cara; pertama dengan cara ta’allum yaitu belajar pada guru, Kyai, teman, lingkungan dan menelaah kitab-kitab yang dikarang oelh para ilmuwan; kedua dengan kekuatan gaib. Kedua cara inilah yang telah ditempuh oleh KH. M. Hasyim Asy’ari tatkala mudanya.

Memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara ta’allum merupakan method yang sampai sekarang para ilmuwan belum dapat merumuskan secara eksplisit, berbagai teori telah dipraktekkan, baik yang ansih menggunakan teori salaf, teori modern atau ada yang mencoba menggabungkan keduanya, tapi semuanya masih belum dijumpai, mana metode yang paling jitu.

Pertimbangan itulah, dicoba mengungkap kembali teori yang sangat sederhana dan yang telah membuktikan banyak menghasilkan para ulama. Teori ini memang menekankan pada individu-individu yang menitik beratkan pada metode penggalian ilmu pengetahuan yang bersumberkan Al-Qur’an dan Hadits dan menjurus kepada kerpasrahan diri kepada Yang Maha Tahu, Allah swt.

Keteladanan, kebiasaan, nasehat dan hukuman adalah rangkaian yang tampak dari metode KH. M. Hasyim Asy’ari dalam menuntun para santrinya untuk mendapatkan dan mengamalkanilmu pengetahuan yang sedang digeluti.

Untuk lebih mantapnya, marilah kita ikuti secara cermat fatwa-fatwa beliau ini, dan apabila ternyata dalam tulisan ini terdapat kekurangan, kehilafan, sudilah kiranya handai tolan untuk menegur dan atau memberikan kritik konstruktif.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

TATA CARA SISWA DALAM MENCARI ILMU PENGETAHUAN

1. Tindakan-tindakan siswa sebelum berangkat ke tempat pengajian atau sekolah.

Sebelum siswa berangkat ke sekolah atau ke tempat pengajian, perlu ada beberapa tindakan yang harus dilakukan dengan harapan dapat menjadi suatu kebiasaan, tindakan yang telah diatur oleh syara’ antara lain:

a. disunahkan bersuci (berwudlu’), sehingga ketika kita menerima ilmu nanti dalam keadaan bersih secara lahiriyah dan batiniyah, sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan itu sendiri suci bersih bagaikan cahaya (nur).

b. sunnah memakai pakaian yang bersih dan suci, karena mencari ilmu pengetahuan adalah termasuk ‘ibadah’, sedang orang yang sedang beribadah harus memakai pakaian yang bersih dan suci.

c. sunnah memakai wangi-wangian, karena orang beribadah itu disunnahkan memakai wangi-wangian.

d. disunnahkan bersiwak (menggosok gigi), sebagaimana kita ketahui bahwa menggosok gigi adalah sangat penting sekali.

Sedangkan menurut kebiasaan para siswa/santri sebeblum berangkat ke tempat pengajian/sekolah haruss menyiapkan peralatan untuk sekolah selengkapnya, sehingga ketika pengajian/sekolah berlangsung konsentrasi kita tidak tertanggu dan juga tidak mengganggu konsentrasi teman-teman kita akibat peralatan belajar yang kurang.

2. tata cara siswa ketika dalam kelas/majlis pengajian

Setelah berada di sekolah/majlis pengajian siswa harus memperhatikan beberapa peraturan yang harus ditaati dengan kesadaran yang dalam, yaitu:

a. siswa hendaknya duduk dengan tenang, takut kepada guru dan ilmu

b. duduk di tempat yang wajar (yang telah disediakan) dan hendaknya istiqamah (tidak pindah-pindah)

c. Hendaknya menghadap kepada guru, dan bila memungkinkan (biasanya dalam forum pengajian yang tempatnya tidak ditentukan) menghadap ke kiblat

d. ketika akan dimulai pelajaran, hendaknya terlebih dahulu membaca Basmallah, Shalawat kepada Nabi dan Sahabatnya dan minta kehadirat Allah swt, taufiq (perbuatan kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw., dan dengan akal yang sehat), Irsyad, Hidayah lantaran ilmu pengetahuan, serta membaca Alhamdulillah apabila selesai pelajaran.

e. memperhatikan apa yang sedang disampaikan oleh guru sampai paham betul, dan mencatat sesuatu yang belum faham untuk ditanyakan kemudian.

3. Adab sesudah akhir/pulang sekolah

Siswa yang sedang mencari ilmu pengetahuan, hendaknya seluruh kegiatannya dikonsentrasikan kepada ilmu pengetahuan karena setelah pulang dari sekolah/majelis pengajian, maka yang harus dilakukan oleh siswa adalah:

a. setelah sampai di rumah, hendaknya pelajaran itu diulang sampai faham betul, sehingga pelajaran yang baru saja diperoleh betul-betul masuk ke dalam fikiran

b. diulang kembali pelajaran yang sama ketika akan berangkat ke sekolah pada mata pelajaran yang sama, sehingga betul-betul ilmu tadi mejadi milik siswa (tidak hanya berada dalam catatan atau kitab).

TINGKAH LAKU SISWA/SANTRI

1. Adab Pribadi siswa/santri

Dalam kehidupan sehari-hari, siswa/santri hendaknya:

a. Harus ber-pekerti yang baik dan berbudi luhur (ber-akhlakul karimah), selalu menginginkan keluhuran, sebab mencari ilmu pengetahuan adalah se-unggul-unggulnya perbuatan. Puncak dari ber-akhlaq yang baik adalah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan kita mampu memilih yang baik, dan kebaikan itu adalah menjadi ‘kebiasaan diri’ sehingga memperoleh Irsyad, Taufiq dan Hidayah, dan akhirnya diperolehlah ‘Kebahagiaan’ yaitu hidup sejahtera dan diridhai Allah swt., serta disenangi oleh sesama makhluk.

b. Murid/santri sebagai penuntut ilmu pengetahuan, selalu menghendaki ilmu pengetahuan yang diperoleh itu bermanfaat (berhasil dan berdaya guna) kelak dikemudian hari, baik untuk dirinya sendiri atau untuk masyarakat dimana siswa/santri itu nanti berada, karena santri itu harus menjaga: -makanan yang dimakan harus halal –minuman yang diminum harus halal –pakaian yang dipakai harus halal –alat yang dipakai untuk mencari ilmu pengetahuan harus halal. Hal-hal inilah yang membuat terang dan jenihnya fikiran, sedang ilmu pengetahuan itu mau bertempat hanya di tempat yang terang dan jernih saja

c. Murid/santri supaya men-sedikitkan berbuat perbuatan yang mubah (boleh) dan menjauhi perbuatan yang mendatangkan dosa, sebab dosa yang satu saja telah mampu mengotori fikiran. Imam syafi’i ra., berkata: Tidak memperoleh keuntungan bagi pencari ilmu pengetahuan yang selalu memuliakan dan kehidupan.

d. Murid/santri, harus betul-betul bertindak baik terhadap kedua orang tua, yaitu apa yang diamanatkan (apa yang dikehendaki orang tua dalam hal kebaikan) hendaklah dilakukan sebagaimana mestinya. Murid/santri harus setiap hari mendo’akan kedua orang tuanya dan mengirimi amalan yang berpahala untuk kedua orang tuanya.

Hal-hal ini agar Murid/santri betul-betul menjadi walaupun shaalihun yad’ulahu (Putra/Putri yang berpredikat anak yang shaleh dan mau mendo’akan kedua orang tuanya).

2. Tata-cara Murid/santri kepada Gurunya

Setelah Murid/santri memperlihatkan tingkah lakunya sendiri, maka pada gilirannya, bagaimana Murid/santri harus bertingkah kepada gurunya:

a. Murid/santri, hendaknya meng-‘itikadkan (meyakinkan) keluhuran gurunya, supaya dikemudian hari nanti memperoleh keuntungan.

b. Murid/santri hendaknya membuat relanya guru (ikhlasnya guru), karena ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru kepada Murid/santri dengan ikhlaslah yang menyebabkan siswa pandai

c. Murid/santri, hendaknya mencari ilmu pengetahuan itu jangan pindah-pindah, yang menyebabkan ketidaksuka (senang)nya guru, sebab pindah-pindah tempat lain (tempat pengajian lain) dapat menyebabkan merubah kepahaman Murid/santri itu sendiri. Bahkan menurut Ibnu Shalah, Murid/santri yang sering pidanh-pindah itu dapat merusak pekerti dan beliau menakutkan tidak manfaatnya ilmu pengetahuan yang diperoleh.

d. Hendaklah minta izin kepada guru apabila sangat terpaksa tidak bisa masuk sekolah dengan alasan mengapa ia tidak masuk secara jujur.

3. Tata-cara Murid/santri kepada Ilmu Pengetahuan

Kepada ilmu pengetahuan pun harus bertingkah laku sesuai dengan tata cara yang baik, yaitu:

a. Murid/santri dalam mencari ilmu pengetahuan itu hendaknya dengan kesungguhan hati yang tinggi sampai berhasil, sebab ilmu pengetahuan itu tidak dapat diperoleh hanya dengan seenaknya, dengan banyak pengangguran, dengan banyaknya melakukan hal yang mubah (hendaknya lebih banyak melakukan yang lebih afdhal). Kesungguhan itu harus berjalan bersama antara fisik maupun rohani (akan dijelaskan dalam bab ketiga).

b. Murid/santri, hendaknya terlebih dahulu mengetahui lafadhnya, ayitu susunan kalimat dalam suatu sub bahasan. Setelah lafadhnya telah paham, kemudian bahasanya: bagaimana I’rabnya, bagaimana ma’nanya, bagaimana Mantukhnya dan bagaimana Mafhumnya. Sehingga yata betul apa yang diketahui itu. setelah keduanya faham betul, barulah hafalan kita kuatkan tentang masalah tersebut, terutama yang kita anggap sukar pada masalah itu. Murid/santri yang hanya mencari ilmu pengetahuan dengan mendengar dan menulis, tidak mengetahui rahasianya (sirrinya) atau apa ayng dimaksudkannya, maka Murid/santri itu hanya mendapat pekerjaan yang sia-sia saja dan tidak memperoleh apa-apa.

c. untuk lebih mendalam dan menguasai ilmu pengetahuan itu hendaknya dimusyawarahkan (didiskusikan) bersama-sama atau didiskusikan kepada orang yang lebih pandai (lebih mengetahuinya), sebab, hidupnya ilmu pengetahuan itu tidak ada lain kecuali didiskusikan.

d. Murid/santri dalam mencari ilmu pengetahuan itu  hendaknya dihapalkan paasal demi pasal, dari satu masalah ke masalah lain, kalau demikian insya Allah akan memperoleh apa yang dimaksud (ilmu pengetahuan yang bermanfa’at). Murid/santri dalam mencari ilmu pengetahuan itu jangan sampai dengan ‘borongan’ yaitu ingin menguasai ilmu pengetahuan banyak sekaligus, maka harapan itu akan sia-sia belaka.

e. Murid/santri hendaknya berdisiplin dengan waktu, artinya pandai memanfaatkan dan membagi waktu, sehingga hak-hak dari waktu itu sesuai dengan penggunaannya, jangan ada waktu kosong tanpa ada kegiatan, sebab, siapa pun tidak akan dapat menjalankan programnya dengan baik tanpa pembagian waktu.

f. Murid/santri harus membenci sifat malas dan bosan.

g. Murid/santri hendaknya mengulangi pelajarannya di waktu malam, sehingga waktu itu adalah merupakan suatu kebiasaan atau sudah menjadi terbiasa untuk menganalisa suatu pelajaran (ilmu pengetahuan) dan lebih utama lagi adalah di waktu akhir agar dapat mengikuti jejaknya para ulama.

KESERASIAN FISIK DAN ROHANI

Sebagaimana telah disinggung pada pembicaraan yang lalu maka disini secara khusus akan dibicarakan tentang keserasian fisik dan rohani itu harus seimbang di dalam mengemban ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, maka akan dikutipkan bagaimana KH. M. Hasyim Asy’ari mendalami ilmu pengetahuan.

1. KH. M. Hasyim Asy’ari dalam mencari ilmu pengetahuan telah disampaikan oleh Akarhanaf sebagai berikut:

a. Belajar biasa layaknya kebanyakan orang, yaitu berguru, menelaah kitab dan sebagainya, hal ini dapat digariskan menjadi:

–  Belajar bersungguh-sungguh tekun dengan cara mengembangkan kesadaran untuk maju dan maju terus, kemampuan mendobrak kegagalan, sebab kegagalan adalah benih kemajuan, keuletan adalah daya tahan ketekunan, tidak pernah mundur karena kegagalan dan kesulitan, maju tanpa putus asa dan pantang henti.

–  Belajar dengan rajin dengan didukung oleh kemauan yang kuat, bandingkan macam-macam kemauan:

1. Kemauan yang statis adalah sumber energy

2. Kemauan yang dinamis adalah menimbulkan perbuatan

3. Kemauan yang meletus adalah kemauan yang datangnya secara tiba-tiba apabila ada pendorongnya

4. Kemauan yang kuat adalah kemauan yang dapat bertahan dari segala macam godaan

5. Kemauan biasa adalah kemauan yang hidup dalam kehidupan sehari-hari

6. Kemauan yang lahir tatkala bahaya datang, biasanya disebut kemauan sewaktu-waktu, setelah itu padam kembali.

b. Belajar dengan kekuatan ghaib, yang terdiri dari dua faktor:

–  Faktor dari luar yaitu berupa latihan-latihan istifadha (mengambil pengertian yang mendalam)

–  Faktor dari dalam, yaitu tafakur dan istifadha jiwa dari jiwa seluruhnya

2. KH. M. Hasyim Asy’ari bersikap terhadap mantan gurunya

Tahun 1933 pertengahan bulan ‘Sa’ban sebagaimana kebiasaan KH. M. Hasyim Asy’ari tiap tahun pada saat ini merubah pendidikannya dari kaum muda menjadi kepada orang-orang tua yang biasanya terdiri dari para kyai-kyai yang berdagangan dari berbagai tempat.

Para kyai yang sudah mempunyai pengaruh di daerahnya masing-masing ini menempatkan untuk menimba pengetahuan dari beliau, di antara kyai-kyai itu terdapat seorang mantan gurunya tatkala beliau masih menjadi Murid/santri dahulu dengan mengatakan dengan tegas:

“Memanglah dahulu kami menjadi guru, menjadi kyai yang mengajar Tuan, dan kini, sejak hari ini juga kami nyatakan dengan tegas kepada Tuan, bahwa kami adalah murid Tuan.”

Mendengar pernyataan ini beliau terkejut, dan dengan rasa kerendahan hati beliau menjawab,

“Sungguh tiada terduga oleh kami lebih dahulu, bahwasanya Tuan akan mengucapkan kata-kata disertai dengan ketegasan tindakan sebagai ini. Dan agaknya tiadakah Tuan silab raba “berguru kepada kami, seorang murid tuan sendiri, murid Tuan dahulu, murid Tuan juga sekarang.”

“Benar murid kami dahulu, dan Guru kami sekarang”

Beliau menjawab, “Tidak, tidak, murid Tuan dahulu, dan murid Tuan juga sekarang; ya bahkan menjadi murid Tuan juga selama-lamanya.”

Kyai itu akhirnya menjawab, “Ya, entahlah, kami menyerah bagaimana saja Tuan katakana dan Tuan namakan, namun keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar disini (Tebuireng), menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan.

Nah, kalau begitu kami tiada dapat berkata apa-apa, dan tiada pula dapat berbuat sesuatunya, kami menyerahkan hal itu kepada Tuan kembali, karena Tuan masih menjadi guru kami, Kyai kami. Demikianlah kepercayaan yang teguh dalam hati kami.

Karena kekerasan hati gurunya, maka akhirnya beliau memperturutkannya, dan akhirnya mantan Gurunya itu disuruh menempati tempat pada sebuah rumah yang lengkap dengan peralatannya, karena beliau memang sudah mempersiapkan untuk itu. Mula-mula kyai itu tidak mau menempati rumah itu, karena tidak layak seorang murid bertempat lebih enak dan lebih mentereng dari gurunya.

Akan tetapi dengan senyum yang mengandung arti, semua keterangan dari mantan Kyainya tadi dijawabnya: “Kalau Tuan sudah menganggap kepada Guru kami, tuan harus menurut dan tunduk kepada perintah kami, yaitu pertama, rumah ini harus tuan tempati, kedua, tuan tiada boleh lagi mencuci kain sarung dan pakaian Tuan, sarung dan pakaian kotor harus Tuan serahkan kepada kami untuk dicucikan. Ketiga, apabila Tuan menghajat kepada kami, memerintah kepada kami dan kami siap melayaninya. Demikian kalau memang Tuan menganggap Guru kepada kami, pasti akan Tuan ikut dan Tuan turut perkataan-perkataan kami ini.

Begitulah sikap KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap gurunya terdahulu, bandingkan para murid/santri pada abad ini, manakah yang lebih baik?

3. Fatwa KH. M. Hasyim Asy’ari terhadap kewajiban-kewajiban.

Apabila seseorang meminta fatwa kepada Kyai Hasyim maka akan selalu dinasihatkan sebagai berikut:

a. apakah kewajiban Tuan adalah Allah swt., itu harus terlebih dahulu, kemudian,

b. Apa kewajiban Tuan terhadap diri sendiri

c. Apa kewajiban terhadap rakyat Tuan; atau pemimpin Tuan

d. Kewajiban terhadap Tanah Air Tuan.

Dan kalau yang datang itu adalah pemimpin (pejabat) seperti Presiden Soekarno atau Panglima Besar Jenderal Soedirman pada saat itu, beliau memanfaatkan: “Dan ingatlah, bahwa terkecuali Tuan harus bertanggungjawab terhadap pimpinan Rakyat, pun ada pula yang sungguh lebih berat lagi, yaitu pertanggungjawaban Tuan terhadap Tuhan dihari kemudian kelak.”

4. Fatwa KH. M. Hasyim Asy’ari kepada para murid/santri

Sudah banyak disampaikan di muka tentang tata-cara santri terhadap ilmu pengetahuan, tetapi tampaknya fatwa-fatwa ini mempunyai kedudukan penting sesudah beliau menyampaikan fatwanya kepada pemimpin dan masyarakat awam. Dan ini adalah khusus kepada para murid/santri:

a. Dalam mencari ilmu pengetahuan hendaknya dipasang niat yang baik “Ikhlas semata karena Allah swt.” bukan niat untuk mencari harta dunia keseluruhan, hendaknya menjauhi senang jadi pemimpin, menjauhi rasa senang kalau disanjung oleh manusia, walaupun ia sudah betul-betul menjadi orang besar. Orang yang seyogiyanya mencari ilmu pengetahuan hanya semata karena Allah swt., tetapi diniatkan semata-mata untuk mendapatkan harta dunia, maka kelak di hari akhirat tidak akan memperoleh bau harumnya surga bersama-sama orang yang memperoleh baunya syurga.

b. Murid/santri janganlah menganggap mudah ilmu pengetahuan walaupun menurut perasaan kalian ilmu pengetahuan yang sedang kalian pelajari itu mudah, jangan pindah-pindah, jangan menangguhkan untuk menghafal pelajaran.

c. murid/santri jangan sok super dalam mencari ilmu pengetahuan, seperti: tidak mau menimba ilmu pengetahuan dari orang yang lebih rendah nasabahnya, lebih rendah umurnya dan sebagainya. Tidak bisa menerima ilmu pengetahuan bagi orang yang malu, atau orang yang merasa super, kecuali sudah ada air yang mengalir ke atas atau sudah ada burung gagak yang berbulu putih.

d. Kalau kalian tidak mau menerima kehinaan sebab belajar dengan orang yang lebih rendah, maka kalian akan menjadi bodoh untuk selama-lamanya

e. Jangan sampai ilmu pengetahuan untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang yang besar,  atau sebagai alat untuk membanggakan diri.

f. murid/santri hendaknya mengamalkan ilmu yang pernah didengar atau dipelajari dan mampu memilih pengalaman yang mempunyai kelebihan dari amal-amal yang lain, sebab mengamalkan ilmu pengetahuan itu adalah zakatnya ilmu pengetahuan yang telah dimiliki, di samping menambah hafalnya terhadap ilmu pengetahuan, karena itu, barang siapa yang menginginkan hafal tentang ilmunya hendaklah mengamalkannya.

g. Kalau sudah memperoleh ilmu pengetahuan, walaupun satu kalimat umpamanya, hendaknya disampaikan kepada orang lain, agar tidak dikatakan bakhil dengan ilmu, dan menyampaikannya itu betul-betul ikhlas karena Allah swt.

5. Fatwa KH. M. Hasyim Asy’ari kepada guru dan santri

Kalau guru dan murid ingin mendapatkan kenikmatan yang sempurna dalam ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya, maka berarti guru itu akan mengamalkan kesabaran tawaddu’ dan berakhlak mulia, sedang murid/santri apabila dan menggunakan akalnya, budi pekertinya serta baik pemahamannya (mengerti apa yang telah diberikan oleh guru secara mendalam). Untuk itu secara terperinci beliau menjabarkan ilmu pengetahuan apa sebenarnya yang harus dipahami dan diamalkan oleh guru maupun murid/santri, yaitu sebagai berikut:

1. Pertama kali ilmu pengetahuan yang harus dipelajari murid/santri adalah ilmu Usluhuddin/Aqa’id/Tauhid

2. Keduanya harus mempelajari ilmu pengetahuan “ilmu qiro’ah, ilmu membaca al-Qur’an, ilmu membaca kitab-kitab.

3. Ketiga mempelajari ilmu Tafsir, untuk memahami firman-firman Allah swt.

4. Keempat mempelajari ilmu Hadits, untuk memahami sabda-sabda Rasulullah saw

5. Kelima mempelajari ilmu Ushul Fiqh, untuk dapat istinbathkan hukum

6. Keenam mempelajari ilmu Fiqh, yang ilmu ini akan menuju ke arah ilmu Tarikat (Tasawuf) lalu menuju ke arah hakikat

7. Ketujuh murid/santri harus mempelajari ilmu kedokteran (Ilmu Thib) dan kalau ilmu ini ditinggalkan, maka murid/santri itu sangatlah merugi. Dan karena pentingnya ilmu ini, maka Imam Syafi’I berkata: Ilmu pengetahuan itu ada dua: Ilmu Fiqh untuk agama dan Ilmu  Kedokteran untuk tubuh, juga Imam Al-Ghazali: betapa pentingnya ilmu kedokteran itu.

Sedangkan ilmu alat berjalan bersama-sama dengan ilmu-ilmu yang lain sebagaimana tersebut di atas. Imilah ilmu-ilmu yang banyak tercantum dalam kitab-kitab Syara’.

Menggali Ilmu Pengetahuan bersama-sama dengan ilmu-ilmu yang lain sebagaimana tersebut di atas. Inilah ilmu-ilmu yang banyak tercantum dalam kitab-kitab Syara’.

Menggali ilmu pengetahuan itu harus sampai memperoleh keimanan yang benar,  sehingga akibat berilmu pengetahuanlah menyebabkan naluri yang batal pada diri seseorang itu hilang, dan tidak akan tercampur oleh Bid’ah yang mudah diombang-ambingkan oleh jaman serta pergantian tahun, sebab sebenarnya keimanan adalah syarat untuk selamatnya dari neraka selama-lamanya.

Murid/santri harus mendapatkan ilmu syara’ yang cukup yaitu ilmu Fiqh dan tasawuf, ilmu fiqh harus diketahui semua isinya yang dapat mencukupi semua tingkah lakunya sendiri, agar memperoleh keselamatan dhahir Syari’at, sedang ilmu Tasawuf harus diketahui semua isinya untuk memperoleh keselamatan bathin syari’ah.

Kalau keduanya telah masuk (ilmu fiqh dan tasawuf) barulah boleh menjalankan tarikat, dengan melalui guru yang khusus dan telah memenuhi syarat untuk menempuh ke hakikat.

Dengan demikian, Murid/santri itu harap mempelajari semua ilmu pengetahuan, pilihlah mana yang lebih penting di dahulukan (lihat urutan di atas), baru berturut-turut bergantian jangan sampai hanya mempelajari satu ilmu pengetahuan yang hanya menghabiskan umur.

Jadilah seperti binatang lebah, dapat menghasilkan malam untuk penerangan, madu untuk obat, berarti berbuat satu dapat menghasilkan penggunaannya ganda.

 Drs. Sihabudin Raso

Majalah Tebuireng No.14 Juli 1987M

SebelumnyaKomunitas Islam Amerika Bersatu Memperjuangkan HAM Muslim Amerika
BerikutnyaMasjid Raya Sultan Riau yang unik, berbahan dasar Putih Telur