Merawat Budaya di Antara Tradisi dan Modernitas

109
Ilustrasi sebuah budaya (sumber: ai/ra)

Di banyak daerah di Indonesia, festival budaya menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti. Panggung-panggung megah didirikan, pakaian adat dikenakan dengan penuh warna, musik tradisional dimainkan, tarian daerah dipentaskan, dan aneka kuliner khas disajikan. Semua tampak meriah. Semua tampak membanggakan. Sekilas, festival-festival itu memberi kesan bahwa budaya lokal masih hidup dan dicintai.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul satu pertanyaan yang patut direnungkan: apakah budaya benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat, atau sekadar dipertontonkan setahun sekali?

Fenomena festival budaya kini kian marak dan sering dibicarakan. Tradisi yang sejatinya lahir dari kehidupan sehari-hari—dihayati, dipraktikkan, dan diwariskan secara alami—perlahan berubah menjadi komoditas. Budaya dipoles agar menarik wisatawan, menaikkan pendapatan daerah, atau sekadar memenuhi kalender kegiatan tahunan. Pada titik tertentu, hal ini memang tidak sepenuhnya salah. Namun ketika budaya berhenti dipraktikkan dan hanya menjadi tontonan, ia kehilangan ruhnya. Budaya lalu menjelma pajangan: indah dilihat, tetapi jauh dari kehidupan.

Baca Juga: Teladan Rasulullah dalam Berkomunikasi Lintas Budaya

Gejala ini tampak jelas di kalangan generasi muda. Banyak anak muda bangga mengenakan pakaian adat, tetapi hanya demi konten media sosial, lomba sekolah, atau kebutuhan estetika semata. Mereka mengenakan busana tradisional tanpa memahami makna motif, filosofi warna, atau sejarah di baliknya. Budaya direduksi menjadi visual, bukan nilai. Padahal budaya lokal tidak hanya hadir dalam bentuk pakaian, tarian, atau musik, melainkan juga dalam nilai kebersamaan, keharmonisan, penghormatan, dan identitas kolektif yang tumbuh dari sejarah panjang suatu masyarakat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, menyalahkan generasi muda sepenuhnya adalah sikap yang tidak adil. Persoalan ini jauh lebih kompleks. Sistem pendidikan sering kali belum mampu mengenalkan budaya secara mendalam. Bahasa daerah kian jarang digunakan, pelajaran seni budaya lebih banyak berhenti pada teori, bukan praktik. Di sisi lain, lingkungan keluarga dan masyarakat juga perlahan meninggalkan tradisi. Akibatnya, budaya tak lagi hadir sebagai kebiasaan hidup, melainkan hanya sebagai sesuatu yang ditampilkan di panggung atau layar.

Ketika budaya tidak lagi dialami dalam kehidupan sehari-hari, identitas pun perlahan terkikis. Generasi muda kemudian mencari rujukan lain, sering kali dari budaya asing yang lebih dekat dengan keseharian digital mereka. Bukan karena budaya lokal kalah menarik, melainkan karena ia tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang hidup.

Baca Juga: Mengkaji Tradisi Rebutan dalam Perayaan Maulid

Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, masih ada upaya-upaya kreatif yang patut diapresiasi. Komunitas seni, pegiat budaya, dan kreator digital mulai mengemas warisan leluhur dalam bentuk yang lebih relevan. Tarian tradisional dikolaborasikan dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan nilai aslinya. Cerita rakyat dihidupkan kembali melalui animasi dan film pendek. Kuliner daerah diperkenalkan lewat konten digital yang kreatif dan informatif. Upaya-upaya ini membuktikan bahwa budaya tidak harus ditinggalkan demi modernitas—ia justru bisa tumbuh bersama zaman.

Namun, pelestarian budaya tidak cukup jika hanya berhenti pada festival atau konten viral. Budaya harus kembali dihadirkan di ruang-ruang kecil kehidupan: di rumah, di sekolah, di komunitas, dan di lingkungan sosial. Budaya perlu diajarkan, dikaji, dan dipraktikkan, bukan sekadar dipamerkan. Di era digital, pelestarian budaya memang bisa dilakukan melalui media baru, tetapi dengan satu catatan penting: nilai, filosofi, dan sejarahnya tidak boleh hilang, apalagi dikorbankan demi popularitas semata.

Baca Juga: Penjaga Warisan Budaya Batik Tulis Jombang

Pada akhirnya, identitas tidak dibentuk oleh apa yang kita tampilkan sesekali, melainkan oleh apa yang kita jalani setiap hari. Budaya bukan sekadar pertunjukan tahunan atau kepentingan pariwisata. Ia adalah akar yang memberi arah, kekuatan, dan jati diri bangsa. Ketika akar itu patah, kita bukan hanya kehilangan tradisi, tetapi juga kehilangan pijakan untuk melangkah ke masa depan.



Penulis: Muhammad Rivaldi Jalaludin, Mahasiswa KPI Universitas Hasyim Asy’ari
Editor: Rara Zarary