KH. Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang.

Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz*

Penting untuk diingat kembali, bahwa Nabi Muhammmad SAW adalah panutan kita. Mulai dari apa yang kita lakukan setidaknya harus meniru Rasul. Dengan diutusnya Rasul, kemudian beliau memberikan petunjuk melalui sunah-sunah.

Hal tersebut menjadi tolok ukur kita dalam menjalankan ibadah kepada Allah maupun muamalah dengan manusia lain. Maka dari itu, dari mana kita tahu bahwa amal kita sesuai dengan tuntunan nabi, kalau tidak dari kesempatan kita saat ini (mencari ilmu)?

Kesempatan itu sangat penting untuk dimanfaatkan. Karena jarak kita dengan Nabi sudah terpaut 14 abad lamanya. Warisan keilmuan beliau juga sangat banyak dan bercabang-cabang.

Wajarlah jika ada oknum yang terkadang menyalahgunakan sunah-sunah beliau. Atau salah paham terhadap hadis beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Nah, tugas kita adalah harus memperdalam keilmuan hadis, apalagi bagi Mahasantri Ma’had Aly. Selain itu, paling tidak ungkapan kegembiraan Maulid Nabi adalah dengan -kalau saya kecil dulu- bertukar kue, lalu dimakan bersama dan masih banyak lagi.

Melalui ungkapan itu kita memiliki semangat tinggi untuk terus memperdalam warisan keilmuan Nabi Muhammad.

Apalagi kita sedang berada di Tebuireng yang pendirinya bersanad hingga ke Rasulullah. Juga memiliki banyak karya tulis yang mestinya kita perdalam dan pelajari.

*Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang.

Pentranskip: Yuniar Indra (Mahasantri Mahad Aly)

SebelumnyaHari Jadi ke-34, HIMASAKTI Bantu Buruh Gendong di Pasar Beringharjo Yogyakarta
BerikutnyaKetahui Cara Pahami Hadis Hijrah