Menjahit Waktu Keluarga

46
Ilustrasi keluarga saat bersama-sama

Menjahit Waktu

Pukul empat pagi
dapur lebih dulu bangun daripada matahari.
Bunyi air mendidih
menjadi lagu pertama
yang didengar janin kecil di dalam rahimku.

Aku berdiri dengan rambut masih berantakan,
mencuci beras sambil menahan mual
yang datang seperti ombak kecil
di lambung yang mulai membesar.
Di luar jendela,
langit masih biru tua,
tetapi daftar pekerjaan sudah menunggu
seperti antrean panjang yang tak pernah selesai.

“Bu, kaus kakiku mana?”
“Sayang, jangan lupa rapat jam sembilan.”
“Ibu, nanti jemput aku, ya?”

Suara-suara itu
bergantian mengetuk tubuhku
yang bahkan belum sempat duduk tenang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Aku memasukkan lauk ke kotak makan,
mengikat rambut terburu-buru,
lalu bercermin sejenak.
Di sana ada perempuan
dengan mata kurang tidur,
bibir pucat,
dan lingkar hitam yang semakin jelas,
tetapi anehnya
ia masih sempat tersenyum.

Di kantor,
aku mengetik laporan
sambil sesekali mengusap perutku
yang bergerak perlahan seperti ikan kecil di air.
Anakku,
kau mungkin belum tahu
ibumu sedang belajar menjadi kuat
dalam dua dunia sekaligus.

Di meja kerja
aku adalah pegawai yang harus tepat waktu,
di rumah
aku adalah tangan yang menanak nasi,
melipat seragam sekolah,
mencari obat demam,
dan memeluk anak-anak ketika listrik padam.

Kadang aku ingin menangis.
Bukan karena lemah,
tetapi karena tubuh perempuan
sering dipaksa menjadi matahari
yang harus terus menyala
meski diam-diam terbakar.

Namun malam selalu memberiku alasan bertahan.

Ketika semua tertidur,
aku duduk di lantai kamar
sambil melipat pakaian kecil berwarna putih.
Baju mungil dengan gambar awan itu
kubeli diam-diam dari gaji bulan lalu.
Aku membayangkan wajahmu, Nak
entah matamu akan mirip siapa,
entah nanti kau lebih suka susu hangat atau lagu nina bobo.

Aku menyentuh perutku pelan.

“Sebentar lagi ya,
Ibu sedang menyiapkan dunia
agar cukup nyaman untuk kau datangi.”

Dan di tengah lelah
yang menumpuk seperti cucian akhir pekan,
aku tahu satu hal:

cinta seorang ibu
sering kali tidak terdengar seperti puisi,
tetapi hidup
di antara suara wajan,
alarm pagi,
dan langkah kaki yang terus berjalan
meski lututnya hampir patah.


Menunggu Tangis Pertama

Malam itu hujan turun pelan
di atap rumah kontrakan kami.
Bau minyak kayu putih
bercampur aroma baju bayi
yang baru saja selesai kucuci.

Aku duduk sendiri
di tepi ranjang kecil
dengan tangan memegang perut
yang semakin berat dari hari ke hari.

Sudah sembilan bulan
aku menunggumu seperti bumi menunggu musim hujan.

Aku membayangkanmu setiap waktu
ketika menyapu lantai,
ketika naik motor menuju kantor,
ketika antre membeli sayur,
bahkan ketika tertidur sambil memeluk rasa pegal
di punggung dan pinggang.

Kadang aku takut.

Takut kalau aku belum cukup baik menjadi ibu.
Takut kalau dunia terlalu keras untukmu.
Takut kalau nanti aku tak mampu
memberikan hidup yang layak.

Tetapi setiap kali kau bergerak di dalam rahimku,
ketakutan itu berubah menjadi doa.

Aku mulai berbicara denganmu
meski kau belum mengerti kata-kata.

“Nak,
di luar sana banyak hal yang tidak mudah.
Ada harga-harga yang naik,
ada orang-orang yang mudah menyakiti,
ada hari-hari ketika manusia lupa cara saling peduli.
Tapi datanglah tetap, ya.
Karena dunia juga punya pelukan,
punya hujan yang indah,
punya aroma nasi hangat,
punya ayah yang bekerja sampai larut,
dan punya ibu
yang akan menjagamu seumur hidup.”

Di lemari kecil
sudah kusimpan selimut bermotif bulan,
botol susu,
dan topi rajut hadiah nenekmu.

Ayahmu bahkan belajar memasang kelambu
melalui video di telepon genggamnya,
meski berkali-kali salah.

Kami menunggumu
dengan cara sederhana,
tetapi sepenuh hati.

Malam semakin larut.
Aku berbaring sambil menahan nyeri kecil
yang datang sesekali.

Mungkin kau sedang bersiap lahir.

Aku membayangkan ruang persalinan,
lampu putih yang terang,
keringat di dahiku,
dan tangis pertamamu
yang akan mengubah seluruh hidupku.

Barangkali sejak saat itu
aku tidak akan lagi tidur nyenyak,
tidak akan lagi punya banyak waktu untuk diri sendiri,
tetapi aku rela.

Sebab seorang ibu
kadang memang dilahirkan
bersamaan dengan tangis anaknya.


Rumah Kecil Cinta

Rumah kami tidak besar.

Dindingnya kadang lembap saat hujan panjang,
genteng dapur pernah bocor dua kali,
dan meja makan itu
sudah penuh goresan bekas pekerjaan rumah anak-anak.

Tetapi di rumah kecil inilah
aku belajar bahwa cinta
tidak selalu hadir dalam bentuk mewah.

Ia hadir
dalam tangan perempuan
yang terus bekerja
meski demamnya belum benar-benar turun.

Pagi-pagi sekali
aku sudah berdiri di depan cermin,
memakai seragam kerja sambil menggendong anak bungsu
yang belum mau lepas dari pelukan.

“Aku ikut Ibu…”

Suara kecil itu
membuat dadaku hangat sekaligus nyeri.

Aku ingin tinggal lebih lama di rumah,
tetapi cicilan harus dibayar,
uang sekolah harus disiapkan,
dan dapur tidak bisa hidup hanya dari pelukan.

Maka aku berangkat
dengan hati yang tertinggal separuh.

Di perjalanan menuju kantor,
aku melihat banyak perempuan lain
di dalam bus kota:
ada yang matanya sembab karena kurang tidur,
ada yang membawa bekal untuk anaknya,
ada yang menelepon rumah sambil bertanya,
“Adik sudah makan belum?”

Kami seperti pasukan sunyi
yang berjuang tanpa tepuk tangan.

Sepulang kerja
langit sudah gelap.

Aku masih harus membeli bawang,
mencuci piring,
mengerjakan tugas sekolah anak,
dan mendengarkan suami bercerita tentang lelahnya hari ini.

Kadang aku iri
pada hujan
yang bisa jatuh begitu saja tanpa ditanya harus kuat atau tidak.

Namun ketika malam tiba,
kami makan bersama di meja kecil itu.

Anak-anak tertawa
karena ayahnya salah menyebut nama tokoh kartun.
Lalu si kecil tertidur di pangkuanku
dengan mulut masih belepotan nasi.

Aku memandang wajah mereka satu-satu.

Ada damai
yang tidak bisa dibeli oleh gaji bulanan.

Aku sadar,
selama ini aku bukan sedang mengejar hidup sempurna.
Aku hanya sedang mempertahankan rumah
agar tetap terasa hangat
meski dunia di luar semakin dingin.

Dan mungkin memang begitu cara perempuan mencintai:

diam-diam,
melelahkan,
kadang tanpa pujian,
tetapi terus dilakukan
setiap hari
dengan seluruh hidupnya.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary