Aku Masih Bisa Tertawa

95
Ilustrasi seorang perempuan yang bisa tersenyum walau hidupnya hanpa

Pagi datang seperti biasa, tidak membawa kejutan dan tidak juga membawa perubahan besar. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela kamar yang engselnya selalu berbunyi setiap kali dibuka. Kriet… kriet… suara yang sama setiap hari, seperti pengingat bahwa ada hal-hal yang tetap bertahan meski sudah lama usang.

Aku membuka mata dan menatap langit-langit kamar yang warnanya mulai pudar. Retakan kecil terlihat di beberapa sudutnya. Aku menghela napas pelan, lalu bergumam lirih, “Langit-langit aja setia, nggak pernah ninggalin. Walau retak-retak juga.”

Aku bangun, merapikan rambut seadanya, lalu melangkah keluar kamar. Rumah itu tidak benar-benar sepi, tetapi juga tidak terasa hidup. Televisi menyala di ruang tengah tanpa ada yang menonton, seolah hanya menjadi pengisi kekosongan.

Di dapur, ibu sudah berdiri di depan kompor. Aroma telur dadar memenuhi ruangan kecil itu.

“Bu, sarapan apa hari ini?” tanyaku sambil duduk di kursi makan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Telur sama nasi,” jawab ibu singkat tanpa menoleh.

Aku memperhatikan telur dadar di piringku, lalu tersenyum kecil.

“Telur ini mirip hidupku ya, Bu. Dari luar rapi, tapi di dalam tetap berantakan. Cuma dibungkus rapi aja.”

Ibu hanya menghela napas pelan. Tidak menanggapi, tetapi juga tidak terlihat kesal.

Tak lama kemudian, suara pintu depan terdengar. Ayah sudah berangkat tanpa berpamitan. Hal itu sudah terlalu sering terjadi hingga terasa biasa. Aku hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada sarapan.

“Aku berangkat sekolah ya, Bu,” kataku sambil berdiri.

“Hati-hati,” jawab ibu pelan.

Dua kata sederhana itu cukup membuatku merasa masih dianggap ada.

***

Sekolah selalu terasa seperti dunia lain. Lebih ramai, lebih hidup, dan kadang terlalu berisik untuk memikirkan hal-hal berat.

“BUNGAAA!”

Aku menoleh. Alfia datang sambil setengah berlari dengan napas tidak teratur.

“Kamu kenapa sih? Dikejar setan?” tanyaku sambil tertawa kecil.

“Lebih serem. Dikejar tugas,” jawabnya cepat.

Aku terkekeh. “Tenang aja, tugas itu setia. Dia nggak bakal ninggalin kita.”

Alfia menggeleng sambil tertawa. Percakapan singkat itu cukup membuat suasana terasa ringan.

Di kelas, keadaan berubah ketika guru masuk dan langsung mengumumkan ulangan mendadak. Beberapa siswa panik, ada yang buru-buru membuka buku diam-diam, bahkan ada yang mendadak rajin berdoa.

Aku hanya memperhatikan sambil tersenyum tipis.

Kalau semua masalah bisa selesai cuma dengan belajar lima menit sebelum ulangan, hidup pasti jauh lebih mudah, pikirku.

Meski begitu, aku tetap mengerjakan soal sebisanya. Tidak sempurna, tetapi cukup.

Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang. Aku berjalan lebih lambat dari biasanya sambil menikmati sore yang mulai berubah warna. Langit tampak hangat, seolah sedang mencoba menenangkan siapa saja yang melihatnya.

Aku berhenti di warung kecil dekat gang rumah.

“Seperti biasa?” tanya ibu penjual sambil tersenyum.

“Iya, Bu. Tapi kalau ada menu ‘hidup tanpa drama’, saya pesan itu juga.”

Penjual itu tertawa kecil. “Kalau ada, ibu juga beli duluan.”

Aku ikut tertawa. Duduk di bangku kayu sambil memandangi jalanan yang ramai. Orang-orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Dan mungkin memang begitu. Atau mungkin semua orang hanya pandai menyembunyikan ceritanya sendiri.

Beberapa menit kemudian, aku berdiri dan melanjutkan perjalanan pulang.

Saat sampai di rumah, suasana yang sudah akrab kembali menyambutku. Suara perdebatan terdengar dari dalam rumah. Aku berhenti sejenak di depan pintu. Aku sudah hafal pola suara itu nada tinggi, jeda singkat, lalu balasan yang tidak kalah keras.

Aku menarik napas panjang sebelum membuka pintu.

“Assalamualaikum,” ucapku pelan.

Suara pertengkaran itu seperti terpotong sesaat. Tidak benar-benar berhenti, tetapi cukup untuk membuat suasana mereda.

Aku masuk dan duduk di ruang tengah. Tidak langsung berbicara. Aku hanya memperhatikan mereka beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku memang nggak ngerti semuanya. Tapi kalau setiap hari begini, rumah ini bisa ikut capek.”

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menggantung di udara.

Aku berdiri perlahan.

“Aku di kamar dulu ya.”

Di kamar, aku menjatuhkan tubuh ke kasur dan kembali menatap langit-langit yang sama seperti pagi tadi.

Kadang aku merasa seperti penonton dalam hidupku sendiri melihat semuanya terjadi tanpa benar-benar bisa mengubah apa pun. Namun, aku tidak ingin tenggelam dalam perasaan itu terlalu lama.

“Kalau aku nggak bisa ngubah semuanya, ya minimal aku nggak ikut rusak,” gumamku pelan.

Aku tersenyum kecil.

“Lagipula, kalau aku sedih terus, nanti wajahku cepat tua. Padahal belum sempat glowing.”

Aku tertawa kecil pada diriku sendiri. Humor sederhana itu mungkin terdengar sepele, tetapi cukup membuat hatiku terasa lebih ringan.

Malam datang lebih tenang dari biasanya. Tak lama kemudian, ibu mengetuk pintu kamar.

“Bunga, makan.”

Aku keluar dan duduk di meja makan. Ayah sudah ada di sana. Tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa berbeda malam itu.

Aku mengambil nasi, lalu berkata ringan, “Hari ini nggak ada episode debat lanjutan, kan? Aku belum siap jadi penonton season berikutnya.”

Ibu tersenyum tipis. Ayah hanya menarik napas pelan.

Suasana tetap hening, tetapi tidak seberat sebelumnya. Dan itu sudah cukup.

Setelah makan, aku kembali ke kamar. Aku duduk di meja belajar, lalu mengambil selembar kertas kecil. Perlahan, aku menulis:

“Tidak semua yang retak harus hancur.”

Aku terdiam sejenak, lalu menambahkan satu kalimat lagi:

“Kadang, yang retak justru membuat kita belajar bertahan.”

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Hari itu memang tidak sempurna. Tidak ada perubahan besar. Rumahku masih sama, masalahnya pun belum selesai.

Namun, ada satu hal yang masih tersisa dalam diriku.

Aku masih bisa tersenyum. Masih bisa bercanda. Masih bisa melihat sisi lucu dari hal-hal kecil.

Mungkin, itulah yang membuatku tetap berdiri sampai sekarang. Aku mematikan lampu, lalu berbaring di tempat tidur. Dalam gelap, aku berkata lirih kepada diriku sendiri,

“Untungnya aku masih bisa tertawa… dan mungkin, itu sudah cukup untuk membuatku terus berjalan.”



Penulis: Citra Rahayu, Santri Tebuireng Cabang 12 Lampung
Editor: Rara Zarary