tebuireng.online—“Kekuatan Islam justru terletak pada kemampuannya dalam merawat tradisi”. Itulah yang diyakini dan di perjuangkan oleh Gus Dur yang coba dikupas tuntas dalam Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) Jombang Sabtu-Minggu(6-7/12).

Dalam kelas tersebut, Direktur Pusat Kajian Pesantren dan Masyarakat (PKPM) Hasyim Asy`ari Tebuireng, Roy Murtadho mengatakan bahwa selain berbicara soal kekuatan tradisi dalam islam, Gus Dur dalam kehidupannya juga mengajarkan nilai- nilai Islam yang universal dan lebih memilih Islam yang subtantif bukan Islam yang partikular. Bagi Gus Dur, siapa pun yang menyuarakan kebenaran adalah cahaya, tidak peduli orang yang menyampaikan tersebut dari latar belakang golongan, etnis, maupun agama.

Direktur Tebuireng Media Group itu menjadi pemateri dalam salah satu sesi Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) di Jombang. Acara dilaksanakan di SMP Petra Jombang. Acara ini dibuka sekitar jam 3 sore oleh Romo Edi. Selain mendatangkan beberapa pembicara dari PKPM Hasyim Asy`ari Tebuireng, hadir juga pemateri dari GKI Jombang, Koordinator Gusdurian Jawa Timur, Aan Ansori, Romo Purhastanto, serta Agus Riadi dari Dewan Kesenian Jombang (DKJ). Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai wilayah seperti Magetan, Surabaya, Jombang, Banjarmasin dan sebagainya.

Andreas Kristianto, dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang menyatakan bahwa Gus Dur mengangggap perbedaan di Indonesia bagaikan taman yang dipenuhi beragam bunga sehingga membuat taman tersebut menarik. Pria yang akrab dipanggil Pendeta Andreas ini memaparkan, Gus Dur mengajarkan nilai- nilai demokrasi pada kita semua yang memuat adanya persamaan hak, menghargai pluralitas, tegaknya hukum dan keadilan, serta kebebasan dalam menyampaikan aspirasi. “Orang yang memgampuni hidupnya damai. Kebahagiaan kita temukan ketika kita menganggap orang lain berberharga dan menghargai keunikan- keunikan yang ada pada orang lain”, tambahnya.

“Ada dua kategori manusia. Pertama adalah orang yang mampu menjinakkan hawa nafsu dan memberi manfaat bagi orang lain. Jenis kedua adalah orang yang masih dikuasai oleh hawa nafsu sehingga selalu menjadi biang keresahan dan masalah bagi siapapun .Gus Dur termasuk jenis manusia yang pertama”, kata Romo Purhastanto. Pria candidate Phd dari Sophia University yang sedang meneliti tentang civil society ini juga menambahkan Islam yang diajarkan Gus Dur adalah Islam yang madani dan tidak menggunakan kekerasan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Luar biasa. 20 anak muda yang mengikuti acara gusdurian ini merupakan peserta terbaik hasil seleksi. Saya bangga karena pesertanya dari latar belakang yang berbeda baik dari agama, suku, organisasi serta gender. Dan peserta yang paling jauh adalah dari Banjarmasin.” ungkap Achmad Fathul Iman selaku ketua panitia. Pihaknya juga berharap setelah adanya event ini banyak anak muda yang melestarikan pemikiran Gus Dur dalam hal kebinekaan, toleransi, dan bagi yang muslim juga bisa menunjukkan Islam yang ramah atau Islam nusantara bukan Islam yang marah.

Musyarrafah Sulaiman Kurdi, salah satu peserta kelas pemikiran Gus Dur saat dihubungi via SMS menyatakan, “Acara gusdurian ini sangat mengesankan sekali. Apalagi yang menjadi pembicara langsung orang- orang yang intens memperjuangkan nilai- nilai pemikiran Gus Dur. Jadi langsung paham. Pengemasan acara dan materinya bagus.” Peserta dari Banjarmasin ini mengaku ingin mengenali nilai- nilai yang diusung Gus Dur dan ingin tahu desa pluralis di Jombang. “Ini adalah pertama kalinya bagi saya ikut Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG)”, paparnya.

Acara ini juga diselingi dengan beberapa game yang menarik yang berkenaan dengan pemikiran Gus Dur dan apa yang peserta pahami setelah beberapa pembicara selesai menyampaikan materi. Setelah acara ini selesai dan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin pendeta Andreas. Agar pemikiran dan komunikasi para peserta Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) Jombang ini tetap ada serta terjalin, masing- masing peserta dan panitia diharuskan merangkum satu bab dari salah satu buku tentang Gus Dur yang ditentukan panitia. Lalu langkah selanjutnya dari hasil merangkum tersebut akan didiskusikan pada pertemuan selanjutnya. Ini membantu peserta dapat jauh lebih mengenali dan memahami bagaimana pemikiran Gus Dur dari berbagai bidang seperti pandangan Gus Dur perihal sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Pada puncak acara, seluruh peserta beserta pemateri berziarah ke makam Gus Dur dan mengadakan doa bersama. (dewi/abror)

 
 
SebelumnyaRombongan Gusdurian Jakarta Sambangi Teburieng
BerikutnyaMalapetaka Rabu Wekasan