sumber gambar: www.google.com

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan menikmati langsung taman bunga yang dirangkai oleh KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.

Baru melangkah masuk taman, tepat di pintu gerbangnya, Gus Mus menanam bunga yang saya rasa adalah bunga godaan. Bunga itu memiliki dua cabang, kehidupan dan kekuasaan. Perlahan saya amati ke bawah, di akarnya terukir kata “manusia”.

Manusia sejak didapuk sebagai khalifah di dunia oleh Allah seolah dalam dirinya tertanam benih untuk terus hidup dan berkuasa. Kecuali khalifah yang mampu menyadari kehambaannya.

Jangan-jangan tangisan dan jeritan bayi saat lahir ke dunia, juga merupakan ungkapan belaka dari keinginan hidup dan berkuasa.

Lihatlah, bayi -seperti menyadari kehidupan dan kekuasaannya- begitu tak peduli terhadap sekelilingnya. Yang penting semua keinginannya terpenuhi. Setiap kali dia ‘menunjukkan kekuasaannya’ dengan senjatanya yang cukup ampuh: menangis! (h.25) Membaca buku ini terasa seperti membaca buku yang ditulis oleh Gus Mus, “Membuka Pintu Langit”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gus Mus adalah tipikal penulis yangg hampir mirip dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari. Tulisan-tulisannya berisi catatan pendek namun banyak (semacam artikel/esai). Beliau tidak menulis satu keilmuan khusus secara lengkap dengan melahirkan karya berjilid-jilid.

Bisa jadi karena Gus Mus adalah tipikal kiai yang dalam kehidupan keseharian sering bersinggungan dengan problem masyarakat dan menuntut beliau turut serta menyelesaikannya. Sehingga beberapa waktunya tersita. Sama seperti Hadratussyaikh. Tentu berbeda dengan tipikal kiai yang fokus pada keilmuan dan memilih berkholwat kemudian melahirkan karya-karya besar.

Kembali lagi ke taman Gus Mus. Buku ini sejatinya kumpulan esai/artikel tentang kehidupan-kehidupan yang dialami Gus Mus. Dan buku ini terbit bukan karena Gus Mus yang mengumpulkan tulisannya. Melainkan inisiatif si penerbit.

Beragam tema yang diusung Gus Mus di dalam buku ini membuat saya merasakan, seolah memasuki “taman bunga” yang berisi bermacam-macam jenisnya. Membuat siapapun betah untuk menikmatinya lama-lama.

Judul: Pesan Islam Sehari-hari
Penulis: A. Mustofa Bisri
Tebal: 336 halaman
Penerbit: Laksana (Diva Press)
Pengulat: Septian Pribadi (siswa “Sekolah Membaca” Majalah Tebuireng)

SebelumnyaMenunaikan Ibadah Puisi
BerikutnyaBerhentilah, Jangan Suka Mencari Kesalahan Orang Lain