
Dalam kehidupan sehari-hari, ada satu kalimat yang terlalu akrab di telinga banyak perempuan: “Sabar ya.” Ucapan itu terdengar lembut, religius, bahkan penuh empati. Namun entah sejak kapan, sabar dan ikhlas seolah menjadi jawaban paling cepat—dan paling praktis—atas berbagai persoalan yang sebenarnya bisa dan seharusnya diselesaikan bersama.
Perempuan kerap diajak berdamai dengan banyak keadaan, termasuk keadaan yang lahir dari sistem yang timpang. Sejak kecil, tidak sedikit anak perempuan yang dibiasakan bangun lebih pagi, membantu bersih-bersih, memasak, menjaga adik, sementara saudara laki-laki memiliki ruang yang lebih longgar. Pola itu sering berlanjut ketika ia menjadi istri, bahkan ketika menjadi ibu. Beban domestik menumpuk, pekerjaan publik tetap berjalan, tetapi yang terdengar justru nasihat yang sama: “yang sabar”, “yang ikhlas”.
Baca Juga: Keikhlasan Hijrah Ummu Kultsum Binti Uqbah
Ketika akses pendidikan terputus, ia diminta bersyukur. Ketika ruang kerja tidak ramah, ia disarankan memahami keadaan. Seolah-olah keikhlasan adalah solusi final bagi semua bentuk ketidakadilan.
Padahal, tidak semua perempuan memulai hidup dari titik yang sama. Tidak semua tumbuh dalam keluarga yang utuh dan suportif. Tidak semua dibesarkan dalam kondisi ekonomi yang lapang. Ada banyak perempuan yang sejak kecil sudah akrab dengan keterbatasan, konflik rumah tangga, bahkan tuntutan hidup yang datang terlalu dini. Dalam situasi seperti itu, kata “ikhlas” sering kali bukan pilihan sadar, melainkan paksaan yang dibungkus dalam nasihat.
Perempuan dari keluarga miskin, misalnya, kerap memiliki opsi hidup yang jauh lebih sempit. Ketika ia gagal, dunia lebih cepat menghakimi daripada memahami. Ketika ia bertahan, itu dianggap biasa saja. Kesalehan terasa lebih mudah dinilai dari luar, tetapi perjuangan batin tidak selalu terlihat. Bagi sebagian perempuan, sekadar bertahan dalam situasi sulit sudah merupakan perjuangan iman yang luar biasa.
Sesungguhnya, Islam tidak pernah memerintahkan ikhlas sebagai alat pembungkam. Al-Qur’an justru menegaskan keadilan sebagai tujuan utama kehidupan sosial. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang sikap personal, tetapi juga tentang tanggung jawab kolektif membangun tatanan yang adil.
Baca Juga: Perusak Nilai Keikhlasan
Ikhlas adalah kekuatan batin, bukan tameng untuk membiarkan ketidakberesan terus berlangsung. Kesabaran tidak pernah dimaksudkan untuk mengabadikan ketimpangan. Bahkan Nabi Muhammad tidak pernah diam ketika melihat ketidakadilan. Beliau menegur, memperbaiki, dan membangun sistem sosial yang lebih manusiawi—termasuk dalam memperlakukan perempuan di zamannya.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, perempuan sering diminta memahami keadaan tanpa pernah diberi ruang untuk mempertanyakan. Ketika bersuara, ia dianggap kurang bersyukur atau terlalu menuntut. Ketika diam, lukanya tak ada yang tahu. Padahal, Islam tidak pernah melarang perempuan berpikir kritis. Bertanya dan menggugat ketidakadilan bukan tanda lemahnya iman, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan upaya menjaga martabat diri.
Mengubah sistem tidak selalu berarti demonstrasi besar atau perlawanan frontal. Kadang perubahan hadir dalam langkah sederhana: membagi peran rumah tangga secara adil, membuka akses pendidikan seluas mungkin, menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berbicara, serta berhenti menjadikan kata “ikhlas” sebagai solusi instan setiap kali muncul persoalan.
Perempuan memang membutuhkan ikhlas. Namun sistem juga harus dibenahi agar keduanya tidak saling meniadakan. Ikhlas menjaga hati agar tidak mudah runtuh. Perubahan sistem menjaga agar luka tidak terus terulang tanpa penyembuhan.
Baca Juga: Tiga Langkah Mudah Membuat Hati Ikhlas
Pada akhirnya, Islam tidak datang untuk meminta perempuan menanggung segalanya sendirian. Agama ini hadir untuk memuliakan, bukan membebani. Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita ulang bukan hanya, “Sudah seikhlas apa perempuan hari ini?” melainkan juga, “Sudah seadil apa dunia memperlakukannya?”
Dari sanalah ikhlas menemukan maknanya yang paling jujur: bukan sebagai tanda pasrah pada ketidakadilan yang tak berujung, melainkan sebagai kekuatan untuk tetap waras, tetap bermartabat, dan tetap berharap pada perubahan yang lebih baik di masa depan.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















