Mengubur Ari-Ari Bayi, Sunahkah?

771
Ilustrasi dari: Dream.co.id

Oleh: Miftah Alkautsar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Bagaimana hukum dalam Islam mengubur ari-ari atau tali pusar anak ketika lahir? Apakah itu termasuk sunah?

Sugianto, Cikarang

Wa’alaikum salam Wr Wb

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terima kasih kepada penanya, Bapak Sugianto. Semoga Allah senantiasa memberikan limpahan rahmat serta taufik-Nya kepada kita semua. Amiin yaa rabbal ‘alamiin. Adapun uraian jawaban sebagai berikut

Ari-ari/plasenta bayi sangat berfungsi untuk membantu perkembangan jabang bayi saat berada dalam kandungan. Namun, setelah bayi lahir ari-ari sudah tidak berfungsi lagi, yang kemudian dipotong dan dikuburkan. Mengubur ari-ari setelah bayi lahir sering dilakukan oleh sebagian masyarakat khususnya di Pulau Jawa, bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun.

lalu, apakah hukumnya sunah mengubur ari-ari menurut pandangan Islam? Standar perbuatan yang dihukumi sunah itu harus berdasarkan sumber hukum kedua dalam Islam, yaitu hadis. Akan tetapi hadis yang dapat digunakan sebagai sumber hukum yaitu hadis yang sahih secara sanad (runtutan perawi hadis) dan secara matan (lafaz hadis). Namun, ada hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum seperti hadis dhaif (lemah) dan maudhu’ (palsu) sebagaimana penjelasan ulama.

Hadis yang menerangkan mengubur ari-ari hanya terdapat sebagian kecil dalam beberapa kitab hadis, seperti dalam kitab at Tadwin fi Akhbari al Qozwin juz 1 halaman 455 yang disusun oleh Imam ar-Rofi’I di bawah ini

مُحَمَّد بْن علي بْن إبراهيم بْن سلمة بْن بحر أبو إبراهيم بْن أبي الحسن القطان سَمِعَ أَبَاهُ فِي جُزْءٍ رَوَاهُ عن أبي بكر أَحْمَد بْن مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ الذَّهَبِيِّ حَدَّثَنِي أَبُو مُحَمَّدٍ سَعِيدُ بْنُ عَبْدٍ الْفِرْيَابِيُّ بِسَرْخَسَ ثَنَا مَالِكُ بْنُ سليمان هروي ثنا داؤد بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ هِشَامِ بْن عروة عن أبيه عن عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وآله وَسَلَّمَ: “كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ سَبْعَةَ أَشْيَاءٍ مِنَ الإِنْسَانِ الشَّعْرُ وَالظُّفْرُ والدم والحيضة والسن والمشيعة وَالْقُلْفَةُ

“Muhammad bin ‘Ali bin Ibrahim bin Salamah bin Bahr Abu Ibrahim bin Abil Hasan mendengarkan ayahnya yang meriwayatkan hadis dari Abi Bakr Ahmad bin Muhammad bin Hasan ad-Dahabi berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Sa’id bin Abdin al-Firyani, telah menceritakan kepada kami Malik bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdir Rahman dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alahi Wasallam menyuruh untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia yaitu rambut, kuku, darah, darah haid, gigi, ari-ari, dan gumpalan darah”

Namun, pada hadis ini terdapat dua perawi yang terindikasi dhaif.  Yang pertama ialah Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hasan ad-Dahabi, ia dihukumi dhaif oleh Imam Ibn Hajar al Asqalani. Dan yang kedua ialah Malik bin Sulaiman, ia dihukumi dhaif oleh Imam Dar al Qutni. Oleh karena itu, dari uraian di atas terdapat dua perawi yang dihukumi dhaif maka para ulama menghukumi hadis ini adalah dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil atau sumber penggalian hukum.

🤔  Denda Telat Bayar Hutang

Lebih dari itu, dalam pandangan hukum Islam terjadi perbedaan pendapat ulama. Akan tetapi ada sebagian ulama menganjurkan untuk mengubur bagian tubuh yang terlepas sebagai bentuk memuliakan manusia, karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Sebagaiamana Imam Syamsudin ar-Ramli dalam kitab Nihayat al Muhtaj juz 2 halaman 495 menerangkan:

وَيُسَنُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ حَالًا أَوْ مِمَّنْ شُكَّ فِي مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍوَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ، وَدَمِ نَحْوِ فَصْدٍ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا

“Dan disunnahkan mengubur bagian yang terpisah dari orang hidup yang tidak mati seketika atau bagian tubuh yang terpisah dari orang yang diragukan kematiannya, seperti potongan tangan pencuri, kuku, rambut, dan segumpal darah serta darah yang keluar dari semacam bekam, sebagai bentuk memuliakan pemilik potongan tubuh tersebut.”

Dipertegas dengan ungkapan Imam al Barmawy dalam kitab Hasyiyah Jamal juz II halaman 190 bahwa ari-ari termasuk bagian tubuh dari manusia.

وَعِبَارَةُ الْبِرْمَاوِيِّ أَمَّا الْمَشِيمَةُ الْمُسَمَّاةُ بِالْخَلَاصِ فَكَالْجُزْءِ؛ لِأَنَّهَا تُقْطَعُ مِنْ الْوَلَدِ فَهِيَ جُزْءٌ مِنْهُ

“Ungkapan Imam al Barmawy, Masyimah (ari-ari) yang juga dikenal dengan nama al Kholash maka seperti bagian tubuh seseorang. Karena ia terpotong dari tubuh seorang anak maka ia bagian tubuhnya.

Dalam ungkapan di atas, bahwa ari-ari itu pernah menjadi bagian dari sang bayi saat dalam kandungan dan dianjurkan menguburnya sebagai bentuk memuliakan kepada manusia.

Dan perlu diingat, dalam mengubur ari-ari tidak boleh memiliki keyakinan kepada suatu hal yang menentukan nasib bagi sang bayi dengan menambahkan barang-barang seperti cabai, pulpen, sisir, menyalakan lampu, dan lain-lain yang nantinya dikhawatirkan hukumnya haram. Keharaman tersebut dikarenakan perbuatan itu bisa menghantarkan kepada perbuatan syirik kecil dan termasuk membuang-buang harta yang tidak ada manfaatnya (tabdzir).

Adapun tentang haramnya tabdzir sehubungan dengan menyertakan segala benda di lingkungan terpendamnya ari-ari terdapat dalam buku Ahkamu al Fuqaha’ Solusi Problematika Umat yang memuat hasil keputusan Bahtsul Masail Nadlatul Ulama dari 1926-2010, yang diambil dari kitab Hasyiyah al Bajuri

المُبَذِّرُ لِمَالِهِ أَيْ بِصَرْفِهِ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ (قَوْلُهُ فِيْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ) وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ يَعُوْدُ نَفْعُهُ إِلَيْهِ لاَ عَاجِلاً وَلاَ آجِلاً فَيَشْمَلُ الوُجُوْهَ المُحَرَّمَةَ وَالمَكْرُوْهَةَ

“(Orang yang berbuat tabdzir kepada hartanya) ialah yang menggunakannya di luar kewajarannya. (yang dimaksud ialah di luar kewajarannya), yaitu segala sesuatu yang tidak berguna baginya, baik sekarang (di dunia) maupun kelak (di akhirat), meliputi segala hal yang haram dan yang makruh.”

Demikian ulasan jawaban kami tentang mengubur ari-ari bayi yang baru dilahirkan. Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat dan menambah keilmuan bagi kita semua. Amiin yaa robbal ‘alamiin. Wallahu ‘alam bisshowab.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan anggota tim tanya jawab agama Tebuireng Online