Oleh: Quratul Adawiyah*

Pada zaman ini menghafal Al-Quran menjadi suatu tradisi yang sudah banyak diminati oleh sebagian kelompok tertentu. Mereka memfokuskan dirinya untuk menghafal Al-Quran. Tradisi ini merupakan salah satu dari sekian banyak fenomena umat Islam dalam menghidupkan atau menghadirkan Al-Quran. Banyak kita jumpai pesantren yang mengkhususkan untuk menghafal Al-Quran.

Program pendidikan menghafal Al-Qur’an adalah program menghafal Al-Quran dengan hafalan yang kuat terhadap lafaz Al-Quran dan menghafal makna-maknanya dengan kuat. Salah satu manfaat yang didapatkan adalah memudahkan menyelesaikan masalah dalam kehidupan, karena Al-Quran senantiasa memberikan penerangan hidup di dalam hati manusia sepanjang waktu.

Namun dalam proses menghafal di sini tidaklah mudah, kita juga harus tahu bagaimana caranya agar kita bisa khusuk dan fokus ketika menghafal Al-Qur’an, tentu saja hal yang pertama dan tentunya sangat ditekankan sekali yaitu janganlah membaca Al-Qur’an hanya sekedar disempatkan saja, maksudnya membaca Al-Quran ala kadarnya, tetapi fokuskan waktu untuk selalu bersama Al Qur’an dalam keadaan apapun itu.

Seperti kisah Syekh Dr. Said bin Musfir bercerita bahwa sewaktu berada di tanah suci Mekkah dan membaca akhir surah An-nisa’, ternyata di sampingnya ada seorang kakek yang berusia lebih delapan puluh tahun. Apabila beliau salah baca, kakek itu membetulkannya secara halus, hingga sempat terjadi sampai beberapa kali ketika Syekh Said bin Musfir menoleh padanya, tampaklah betapa perihatinnya penampilan orang tua itu. Tampak jelas dia sangat sederhana dan ahli zuhud. Syekh bertanya pada orang itu, “Bapak hafal Al-Qur’an?”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Alhamdulillah. Saya hafal Al-Qur’an seperti hafal Al-fatihah. Tidak salah sedikit pun.”

“Bagaimana caranya?”

Kakek itu menjelaskan, “Dulu saya bekerja pada seorang emir di daerah Nejd. Kemudian saya berhenti dan memilih beternak unta. Saya berkomitmen untuk menghafal Al-Qur’an dan itu menjadi rutinitas saya siang dan malam. Saya selalu memegang mushaf sembari menjaga unta-unta milik saya. Mushaf juga di tangan saat saya bertemu kawan-kawan, saat berada di pesawat, di mobil. Akhirnya saya pun berhasil menghafal Al-Qur’an dengan mantap, seperti halnya saya hafal Al-Fatihah. Saya tidak perlu lagi melihat mushaf karena selalu membacanya siang malam, saat menetap maupun bepergian, duduk, berdiri, maupun berbaring (dalam kondisi apa pun).”

Dia melanjutkan, “Demi Allah, rasa gundah dan sedih saya hilang sudah. Saya minta maaf kepada anak-anak dan keluarga karena tidak bisa sering-sering menghadiri acara dan kunjungan keluarga. Sebab al-Qur’an sudah menjadi pelipur lara dan penghibur diri saya. Saya merasa tidak punya waktu kosong, merasa gelisah ataupun sedih. Saya menikmati saat-saat saya bersama Al-Qur’an baik saat bersantai maupun bepergian. Begitu tamat, saya langsung mengulangnya dari awal. Inilah yang membuat saya senang dan bahagia, sekaligus menguatkan hafalan dan menghibur diri saya. Saya menjadi tidak terpikir lagi tentang harta, rumah, kebun atau apa pun, kecuali bagaimana saya bisa bersama kitab yang agung ini. Al-Qur an pun menjadi sebaik-baik teman, pendamping, rekan, dan sahabat.

Oleh karena itu ketika menghafal Al-Quran yang menjadi faktor utama penentu adalah kefokusan. Di mana ketika menghafalkan sebuah ayat Al-Quran sangat membutuhkan kefokusan yang penuh. Sekalipun dalam murajaah harus dalam kondisi fokus yang penuh. Meskipun suasana yang tenang tetapi kadang ada suara bising dari lingkungan sehingga kadang merasa terganggu ketika menghafal.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaBelajar dari Raden Ajeng Kartini
BerikutnyaSepekan Bersama Ramadan Edufest Mahasiswa Unhasy