Oleh: KH. Salahuddin Wahid*

Di provinsi Hadramaut, Republik Yaman, terdapat kota kecamatan kecil bernama Tarim yang menarik perhatian banyak orang luar Yaman. Tidak kurang dari Dr Mahathir Mohammad dan PM Ahmad Baidhawi pernah mengunjungi kota itu. Sejumlah Kiai penganut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah juga melakukan kunjungan muhibah khusus ke kota itu.

Di antara mereka ada Kiai dari beberapa pesantren besar dan Rektor UIN Malang. Saya beruntung ikut di dalam rombongan itu. Bagi mereka, Yaman amat menarik karena negeri itu adalah sumber dari paham Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Yang menarik perhatian mereka adalah Darul Musthafa, sebuah lembaga pendidikan keagamaan di Tarim yang didirikan pada tahun 1993 oleh Habib Umar al Hafidz. Tingkat pendidikan di sana mulai dari ibtidaiyah sampai pendidikan tinggi.

Kunjungan para Kiai itu adalah balasan terhadap kunjungan Habib Umar ke banyak pesantren di Indonesia beberapa tahun terakhir. Sekitar 300 santri Indonesia belajar di Darul Musthafa. Beberapa di antaranya ialah putra-putri dari kiai-kiai pengasuh sejumlah pesantren besar di Indonesia, yang serius mempersiapkan pengganti mereka sebagai pengasuh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain Darul Musthafa, banyak juga santri atau mahasiswa Indonesia yang belajar di Rubah Tarim dan Universitas al-Ahqaff. Alumni pertama Darul Musthafa dari Indonesia tamat pada 1998. Biaya untuk santri amat murah, Rp 100.000 perbulan, termasuk makan dan tempat tinggal.

Pendidikan di Darul Musthafa memberi penekanan pada tiga aspek, keilmuan, suluk, dan dakwah. Di Darul Musthafa juga ada santri dari Amerika, Eropa, Rusia, dan Afrika.

Konon, santri dari Amerika adalah keponakan Ronald Reagan. Juga banyak pemeluk agama Yahudi yang telah diislamkan oleh Habib Umar. Habib Umar adalah ulama dengan reputasi Internasional. Hafal Al-Qur’an pada usia 7 tahun dan hafal ratusan ribu Hadits.

Beliau sering diundang memberi penganjian ke berbagai negara Timur Tengah, Eropa, dan juga Asia Tenggara. Ceramahnya bagus, sejuk, dan memukau banyak warga Indonesia sehingga setiap tahun beliau diundang ke Indonesia.

Inti ceramah yang disampaikan ialah pentingnya memperbaiki akhlak, menumbuhkan keikhlasan, dan menjalin persatuan. Juga menegaskan bahwa Islam adalah agama kasih sayang, persaudaraan.

Seorang peneliti dari Korea yang melakukan wawancara dengan Habib Umar untuk penelitian tentang manuskrip tua, begitu terkesan akan sosoknya.

Dia pun mulai belajar tentang Islam kepada beliau dan pada akhirnya menjadi muallaf. Menanggapi karikatur yang menghina Rasullullah Saw, beliau meniru cara yang dianggap sesuai dengan cara Rasulullah, yaitu mengirim ulama ke Eropa dan menjelaskan bahwa Rasulullah tidak seperti anggapan mereka, terutama tentang akhlak mulia Rasulullah dengan sejumlah contoh.

Penjelasan itu menurut saya lebih efektif daripada tindakan merusak kantor Konsulat Belanda di Medan sebagai protes terhadap film “Fitna”. Perusakan itu justru memperkuat pesan film Fitna bahwa Islam mengajarkan kekerasan. (Pelita Hati)

*Tulisan ini pernah di muat pada buku KH. Salahuddin Wahid, berjudul “Memadukan Keindonesiaan dan Keislaman” dengan judul “Tarim”.

 

Ditulis ulang oleh: Dimas Setyawan (Mahasantri Mahad Aly Tebuireng)

SebelumnyaSelagi Tuhan Memberi Rahmat
BerikutnyaKisah Mahasantri Tebuireng saat Belajar ke Negeri Cina