
Datang Lebih Pagi
Ia tiba saat rumah masih belajar bernapas.
Belum ada peta,
belum ada pegangan,
hanya harapan yang digantungkan
seperti pakaian basah di bahunya.
Ia belajar berdiri
agar yang lain punya tempat bersandar.
Jika ia tak jatuh,
itu bukan karena tanahnya ramah,
melainkan karena ia tak diberi pilihan
untuk rebah.
Berjalan di Depan Angin
Seseorang harus membuka jalan,
menyibak semak,
mencoba dulu tajamnya duri.
Langkahnya terdengar tegas,
kadang disangka keras.
Padahal ia hanya
menahan angin paling awal,
agar yang menyusul
mengenal perjalanan
tanpa terlalu banyak luka.
Ia jarang menoleh,
bukan karena tak peduli,
melainkan karena takut ragu
jika berhenti.
Yang Menyimpan Senyap
Ada orang yang belajar
melipat lelah
rapi-rapi.
Menaruh keluh
di tempat yang tak terlihat,
agar ruangan tetap tenang.
Kuat baginya
bukan kebanggaan,
melainkan kebiasaan
yang tak sempat ditawar.
Dan di antara semua diam itu,
ia hanya berharap
ada yang mengerti
tanpa diminta bicara.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















