
Tebuireng.online– Tokoh pendidikan nasional sekaligus Ketua Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.A., memberikan pembekalan strategis dalam Diklat Calon Pembina Santri Pesantren Tebuireng. Bertempat di Balai Diklat Trensains, Jombok, Ngoro, Selasa (03/03/2026), beliau membedah urgensi “Kontekstualisasi Pengabdian Pembina Santri”.
Dalam paparannya, mantan Rektor UIN Maliki Malang tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pendidikan, pengendalian hawa nafsu, dan pembersihan hati yang konsisten.
Membagikan pengalaman kepemimpinannya selama 16 tahun di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Imam menekankan bahwa keberhasilan sebuah institusi bukan sekadar soal manajemen fisik, melainkan kekuatan spiritualitas civitas akademikanya.
“Saat saya memimpin UIN Malang selama 16 tahun, hal terpenting bukanlah tentang bagaimana nasib universitas ke depan, melainkan bagaimana seluruh staf dan mahasiswa saya tidak melupakan shalatnya,” ujar Prof. Imam.
Menurut beliau, shalat yang berkualitas adalah kunci transformasi perilaku. Seorang pembina harus mampu membimbing santri untuk mencapai derajat kekhusyukan, karena hati yang bersih akan melahirkan sifat sabar, jujur, dan akhlak mulia.
Menghadapi karakter santri masa kini, Prof. Imam mendorong para calon pembina untuk menggunakan pendekatan yang humanis. Beliau mengingatkan bahwa santri tidak dapat dididik dengan paksaan, melainkan harus dirangkul melalui pengakuan dan penghargaan terhadap eksistensi mereka.
“Setiap individu memiliki kebutuhan untuk diakui dan dihargai. Dalam menghadapi santri yang bermasalah, pendekatan spiritual adalah kunci utama. Arahkan mereka untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui shalat,” jelasnya.
Beliau juga menekankan prinsip ibda’ binafsik (mulailah dari diri sendiri). Perubahan perilaku santri akan lebih mudah tercapai apabila dimulai dari keteladanan pembina itu sendiri dalam memberikan contoh akhlak dan disiplin ibadah.
Selain aspek spiritual, Prof. Imam mengingatkan para santri agar membekali diri dengan kemampuan manajerial yang komprehensif. Seorang calon pemimpin wajib menguasai keterampilan menulis, manajemen organisasi, hingga kecakapan berbicara di depan umum (public speaking).
Di akhir sesi yang berlangsung antusias tersebut, Prof. Imam menyampaikan pesan motivasi yang menggugah semangat para peserta diklat untuk melampaui tugas administratif semata.
“Saya berharap kalian jangan hanya sebatas menjadi pembina saja, tetapi semoga kalian menjadi pemimpin yang sejati, diangkat derajatnya oleh Allah, dan mendapatkan ridha-Nya,” pungkas beliau.
Baca Juga: Sinergi Militer dan Akademisi, Pesantren Tebuireng Gelar Diklat Kader Pembina Angkatan ke-22
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















