Suasana siswa saat belajar di dalam kelas. (sumber: mts-sains/afifa)

Salah satu ciri khas pembelajaran di tingkat sekolah dasar ialah pembelajaran yang bersifat holistik. Holistik adalah satu dari banyak sudut pandang filsafat atau cara berpikir yang melihat atau memandang sebuah fenomena dengan cara yang utuh atau menyeluruh. Holistik juga berarti kesempurnaan dan kelengkapan. Hal ini sangat penting dalam dunia pendidikan karena mencakup aspek intelek, emosi, spiritual, dan fisik (Sudrajat & Sufiyana, 2020).

Salah satu model pembelajaran holistik yang digunakan dalam pembelajaran di sekolah menurut (Rohman, 2019) adalah model pembelajaran experensial (experiential learning). Model ini dikembangkan oleh seorang pakar psikologi yang bernama David Kolb. Model experiential learning  merupakan  salah satu model pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik untuk membangun pengetahuan, keterampilan, juga nilai dalam menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik  atau melibatkan peserta didik lebih banyak dan peserta didik belajar berdasarkan pengalaman langsung.

Pembelajaran experensial menekankan bahwa belajar merupakan proses memahami dan mentransfer pengetahuan melalui pengalaman langsung yang melibatkan intelektual, sikap, nilai-nilai, dan keterampilan belajar siswa.

Dikaitkan dengan pembelajaran anak, salah satu ciri khas dari pembelajaran di sekolah dasar adalah pembelajaran konkret atau berdasar dari pengalaman langsung. Siswa SD jika dilihat dari sudut psikologi perkembangan masih berada pada fase berpikir konkrit. Hal ini sudah dijelaskan oleh Piaget dalam penelitiannya, bahwa usia fase operasional konkrit terjadi sekitar rentang umur 7-11 tahun. Pada fase ini, siswa sudah mulai berlatih mempertahankan ingatan terkait suatu substansi dan adanya kemampuan transtivity (Marinda, 2020).

Kemampuan ini untuk mengombinasikan hubungan secara logis untuk memahami kesimpulan tertentu. Maka dari itu. pembelajaran berdasarkan pengalaman-pengalaman langsung sangat membantu siswa dalam memahami materi belajar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Belajar dalam model Eksperiensial dilihat sebagai sebuah proses pengetahuan yang diciptakan melalui transformasi pengalaman yang kemudian ditransformasikan menjadi konseptualisasi abstrak melalui proses refleksi dan eksperimentasi aktif (Aubrey dan Riley, 2022). Melalui transformasi pengalaman yang runtut inilah setiap siswa ikut terlibat dalam sebuah pengalaman belajar.

Adapun secara teoritis siklus belajar Kolb ini dimulai dari Concrete Experience (Pengalaman Konkret) kemudian menuju pada Reflective Observation (Obsservasi Reflektif), selanjutnya siswa diajak Abstract Conceptualisation (Konseptualisasi Abstrak) dan dipuncaki Active Experimentation (Eksperimentasi Aktif). Sebenarnya kata dipuncaki ini tidak menunjukkan ujung dari pembelajaran, tetapi akan menjadi siklus pembelajaran kembali. Untuk lebih mempermudah melihat teori siklus belajar Kolb, silahkan lihat gambar di bawah ini:

Gambar Siklus Model Pembelajaran Eksperiensial.

Berdasarkan gambar 1, maka dalam teori belajar Kolb, setiap tahapan merupakan sebuah proses yang saling terhubung, saling versus, untuk kemudian saling mendukung dalam keberhasilan belajar. Saling versus ini siswa diajak berpikir dari fase pengalaman konkret kemudian nantinya diajak mengkonseptualisasi abstrak. Siswa dari pengalaman belajar yang dialaminya diminta untuk mengkonseptualisasikan secara abstrak. Sebagai contoh, dalam pembelajaran IPS siswa diajak belajar mengalami langsung (pengalaman konkret) berbagai macam relasi sosial, mulai dari relasi positif sampai negatif.

Pengalaman belajar ini bisa melalui bantuan media pembelajaran sampai role playing. Kemudian pada fase ketiga, siswa diajak untuk mengkonseptualisasikan atau menarik kesimpulan dari pengalaman belajar yang sudah diperoleh dengan teori (konseptualisasi abstrak). Harapannya siswa mampu mencapai konsep relasi positif dan negatif dalam interaksi, baik melalui bantuan guru ataupun merujuk pada buku referensi.

Pengalaman versus yang lainnya ada dalam tahap versus mengerjakan. Siswa akan mengalami fase observasi reflektif yang menganjurkan siswa menginterpretasi data yang sudah dikumpulkan berdasarkan pengalaman konkret. Pada fase ini siswa akan bekerja untuk menilai secara jujur terkait pengalaman yang telah dihadapinya.

Terkait dengan contoh di atas, maka siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka atau catatan lapangan (diary) siswa diajari untuk menilai sendiri pengalaman relasi sosial yang telah dialami. Hal ini sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri siswa dalam belajar. Versusnya atau fase keempat dari tahapan belajar Kolb (eksperimentasi aktif) siswa diberi kesempatan untuk melakukan pengujian pengetahuan, konsep atau teori yang sudah diadaptasi. Tujuan akhirnya, siswa dapat meyakinkan dirinya untuk mengubah cara yang mereka pikirkan tentang apa yang dialami (Aubrey dan Riley, 2022). Saling versus dalam model pembelajaran Kolb ini membantu anak atau siswa tingkat sekolah dasar untuk melatih cara berpikir abstrak.

Meskipun ada kritik terhadap terhadap Kolb, akan tetapi tidak dipungkiri bahwa model pembelajaran Eksperiensial ala Kolb ini penting dan dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Terutama terkait relasi antara guru dengan siswa, membangun kepercayaan diri, mendorong anak untuk aktif dan berpikir (refleksi), menghargai pengalaman-pengalaman dan teori, serta memberikan pengalaman belajar nyata dalam diri siswa.

Disusun oleh:

Hawwin Fitra Raharja, Dosen Universitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng

Fajar, Dosen Universitas Negeri Semarang

Muh. Sholeh, Dosen Universitas Negeri Semarang.

SebelumnyaMenuju Pesantren Bersih Sampah, SMA Trensains Gelar Pameran
BerikutnyaKiai Hasyim dan Penguatan Ekonomi Umat