ilustrasi: amir/to

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #34

Penulis sering sekali berdiskusi soal penguatan ekonomi umat yang dilakukan Kiai Hasyim selama kiprah beliau sebagai ulama, pengasuh pesantren, dan juga tokoh pergerakan. Dalam diskusi bersama para mahasiswa tekait materi pemikiran Kiai Hasyim soal ekonomi, perbincangan ini cukup alot, karena menakar apakah Kiai Hasyim adalah penggerak di bidang ekonomi ataukah hanya praktisi bisnis.

Lalu, saya mencoba menengahinya, agar kita kembali kepada data sejarah. Sejak Revolusi Industri di Inggris dan Scotlandia yang telah berdamai pada 1760-1850, masyarakat Eropa yang sebelumnya melakukan pekerjaan secara manual beralih secara beransur ke teknologi permesinan. Hal itu juga turut berpengaruh terhadap kolonialisme yang saat itu memang banyak dilakukan oleh Bangsa Eropa, seperti, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Belanda, dan lain sebagainya.

Penjajahan yang asalnya hanya berfokus pada penjarahan sumberdaya alam, rempah, dan hasil pertanian, beralih kepada pengolahan bahan mentah menjadi yang produk siap jual. Akhirnya yang asalnya dipaksa untuk menanam sekarang ditambah lagi dipaksa menjadi buruh pabrik-pabrik milik penjajah. Kejadian itu semakin menjadi-menjadi pada abad 20 di mana semakin banyak pabrik didirikan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tanah-tanah dipaksa untuk dijual murah pada mereka, lalu pemiliknya termiskinkan, dan akhirnya menjadi buruh, para buruh taninya juga akhirnya menjadi buruh penjajah. Di sekitaran lingkaran ekonomi setan itu, ditambah lagi ada prostitusi dan dunia gelap yang dibangun untuk menghabiskan uang para buruh, dan itu menjadi pemasukan tambahan untuk pabrik. Dimiskinkan sekaligus dirusak mental dan moralnya.

Itu juga terjadi di tempat di mana Kiai Hasyim memilih berdakwah, tanah Cukir. Pabrik Gula didirikan di sana. Untuk itulah Kiai Hasyim dan kawan-kawannya dalam jaringan para ulama memurat otak agar masyarakat menjadi sadar bahwa mereka telah dimiskinkan sekaligus dijauhkan dari agama.

Sebelum NU didirikan, terbentuklah tiga organisasi inovatif dari pada ulama dan kaum santri, yaitu Taswirul Afkar (1924), Nahdlatul Wathan (1916) dan Nahdlatut Tujjar (1918). Dari tiga tersebut, yang merujuk pada pergerakan ekonomi, adalah Nahdlatut Tujjar. Jarkom Fatwa menyebut bahwa Gerakan ini dipicu akibat adanya desakan Belanda melalui pedagang-pedagang besar di kota Jombang kepada masyarakat pedagang di desa Cukir. Tentu Gerakan itu digawangi oleh Kiai di Cukir, yaitu pendiri Pesantren Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari yang memulai dengan gerakan bisnis yang dilakukan.

Kiai Hasyim membentuk korporasi usaha yang kongkrit pada sektor real, ada sektor pertanian, peternakan, dan perdagangan. Sektor pertanian dilakukan beliau dengan memberikan ruang luas kepada para petani terdampak kebijakan Belanda untuk ikut serta bekerja dan bergabung pada aliansi ekonomi Kiai Hasyim.

Kiai Hasyim juga memberikan kampanye edukasi cara bertani, memberikan sosialisasi agar para petani tidak mau dibodohi oleh Belanda. Pada sector peternakan, Kiai Hasyim membudidayakan ikan-ikan tambak, unggas, sapi dan kuda. Pada sector perdagangan, Kiai Hasyim adalah pedagang besi tua, selain berjualan hasil pertanian dan peternakan yang beliau kembangkan bersama santri-santri dan pegawainya. Hasilnya tetap sama, untuk pendidikan, pengajaran, dakwah, dan syiar Islam.

Usaha Kiai Hasyim ini, direspon oleh juniornya, KH. Wahab Chasbullah. Kiai Wahab merasa perlu manggandeng Kiai Hasyim untuk dapat menggaet para kiai-kiai lain yang sekaligus saudagar untuk membentuk badan usaha bersama yang menjujung perekonomian umat yang porak-poranda akibat kebijakan Belanda. Didirikanlah Nahdlatut Tujjar (NT) artinya Kebangkitan para Saudagar. NT inilah pilar perjuangan para kiai dalam bidang ekonomi.

Sebenarnya sejak 1905, para saudagar muslim punya organisasi dagang mereka, yaitu Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi. Namun, sayangnya pada 1912 oleh Hadji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto SDI diganti menjadi Sarekat Islam (SI). Sejak itu, organisasi ini tidak lagi fokus pada ekonomi tapi beralih ke politik praktis dan usaha-usaha untuk merebut kekuasaan dan berbasis pemikiran-pemikiran progresif dan modernis. Dari sini justru terbitlah SI merah sebagai embrio Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Semaun dkk.

Pergerakan itulah yang akhirnya fokus utama umat Islam pada kekuasaan, politis, dan isu-isu besar. Padahal isu Pendidikan dan syiar sedang dirong-rong oleh lemahnya ekonomi umat. Untuk para kaum tradisionalis, diwakili oleh para kiai dan santri berusaha meningkatkan syahwat ekonomi umat Islam, khususnya kalangan bawah. Kiai dan Nahdlatut Tujjar mengambil peran yang ditinggalkan SDI lalu SI, dengan mengfokuskan pada pengembangan pendidikan. Artinya, kuatnya ekonomi umat, dapat membangun Pendidikan Islam yang layak, yang tidak dapat ditampung oleh sekolah-sekolah bentukan Belanda yang modern.

“Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom”.

(KH. M. Hasyim Asy’ari dalam deklarasi pendirian Nahdlatut Tujjar)

Atas permintaan Kiai Wahab, Kiai Hasyim didaulat menjadi pemimpin Sarikat atau persekutuan untuk menampung para petani dan pengusaha muslim, yang dinamai “Syirkatul Inan li Murabahati ahli at-Tujjar”. Perserikatan ini awalnhya menyasar pertanian sesuai dengan pidato Kiai Wahab Chasbullah saat deklarasinya, tetapi kemudian merambah kepada perdagangan.

NT dan Syirkatul Inan inilah yang kemudian berperan aktif dalam pengembangan Pendidikan Islam di kalangan bawah, dilakukan oleh para kiai, walau mengalami pasang surut keadaan. Tentunya itu disebabkan oleh ulah penjajah dan tekanan kaum modernis terhadap kaum tradisionalis. Diakui atau tidak, kekuatan ekonomi yang dibangun NT dan Syirkatul Inan inilah yang ikut serta suksesi Komite Hijaz menyelamatkan kebebasan bermadzhab dan pemindahan makam Rasulullah SAW di bawah kendali Ibn Saud, yang berujung pada pendirian Nahdlatul Ulama.

Syirkatul Inan juga terus berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk bergabung ke dalam lingkar ekonomi Islam yang berkawan, bukan ekonomi model penjajah yang menghewan. Banyak di antara rakyat kecil yang tidak jadi menjualkan tanahnya kepada Belanda dengan harga murah, dan memilih bertani bukan menjadi buruh pabrik milik kolonial.

Maka di sini, kita harus menyadari bahwa penguatan ekonomi adalah pondasi yang berpengaruh terhadap jalannya perjuangan, agar tidak “njagakno” kepada umat, orang-orang pihak lain, maupun pemerintah. Kemandirian NU sebenarnya sudah dicontohkan oleh perjuangan Kiai Hasyim dan kawan-kawan melalui NT dan Syirkatul Inan, maupun yang dicontohkan beliau dalam bisnis yang beliau jalankan sendiri. Kita, Nahdliyin era akhir-akhir ini, banyak bicara perdamaian dunia dan keadilan sosial, tapi pada kenyataannya NU masih belum begitu mandiri, apalagi merawat nahdliyin akar rumput yang kesulitan ekonomi.

Survey Poltracking Indonesia menunjukkan lebih dari 40% penduduk Indonesia adalah nahdliyin, artinya sekitar 90 juta jiwa mengaku berafiliasi kepada NU. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menyebutkan bahwa 26,16 juta orang atau 9,54% dari penduduk Indonesia, hidup di bawah garis kemiskinan, maka bukankah potensi besar di antaranya adalah orang-orang NU? Artinya PR soal peran pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umat oleh NU masih sangat besar.

Bolehlah kita berpikir Makro, seperti perdamain dunia, toleransi antar umat beragama, dan lain sebagainya, tapi mari kita contoh para pendahulu kita, seperti Kiai Hasyim, yang tetap memikirkan hal-hal sederhana yang justru menjadi penopang, yaitu ekonomi dan pendidikan bagi umat, khususnya yang tergolong tidak mampu.

*Dosen Unhasy Tebuireng.

SebelumnyaMemahami Metode Belajar yang Baik dan Cocok untuk Anak
BerikutnyaDari Santri untuk Negeri