Oleh: Ma’muri Santoso*

Umat Islam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, tepat 12 Rabi’ul Awwal sebagai hari kelahiran manusia teladan, pemimpin umat sepanjang hayat yang dijadikan suri teladan bagi kaum muslim sedunia. Diutusnya Nabi merupakan rahmat bagi semesta alam.

Membawa rahmat dengan menebarkan cinta kasih, perdamaian dan gerakan yang lahir dari spirit moral untuk memperbaiki keadaan serta karakter manusia dari tradisi jahiliyah. Jahiliyah tidak saja dimaknai sebagai zaman kebodohan ataupun kegelapan melainkan sebuah situasi dan kondisi dimana perilaku umat manusia jauh dari tata kehidupan yang beradab.

Nabi diutus untuk mengembalikan derajat manusia pada posisi yang mulia sebagai insan yang beradab, unggul dan menjaga nilai-nilai universal kemanusiaan itu sendiri.

Memperingati maulid pada hakikatnya adalah membaca sejarah Nabi untuk kemudian dijadikan teladan seseorang dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Di lingkungan keluarga, kita meneladani bagaimana Nabi membangun suasana keluarga yang agamis serta harmonis. Keluarga adalah fondasi utama kehidupan setiap orang.

Dalam lingkungan masyarakat, bagaimana Nabi memberikan contoh kepada kita untuk bisa menciptakan suasana yang rukun, tenteram, menghargai satu sama lain serta mampu hadir sebagai juru damai dan pemberi solusi dari setiap persoalan yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kita dapat meneladani bagaimana Nabi membangun masyarakat madani. Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban, hidup dalam suasana persaudaraan di tengah-tengah fakta kemajemukan yang ada.

Dalam suasana perbedaan setiap kelompok mesti menjunjung tinggi dan melaksanakan konsensus yang telah disepakati bersama demi tercapainya kepentingan umum. Demi tegaknya kemaslahatan umum tentu saja semua pihak mesti bersama-sama terlibat dan ikut andil di dalamnya.

Hal penting lain dari setiap peringatan maulid ialah meneladani sifat Nabi sebagai manusia paripurna. Sifat-sifat luhur yang dibimbing oleh wahyu seperti shiddiq, amanah, tabligh, serta fathanah.

Shiddiq (benar/jujur) adalah fondasi utama seseorang dalam menjalin hubungan dan berinteraksi dengan sesamanya. Sifat jujur akan berdampak cukup besar terhadap tata kehidupan yang tertib dan teratur.

Adanya perilaku korupsi maupun tindak kejahatan lainnya timbul akibat hilangnya rasa kejujuran dalam diri seseorang. Tingkat kesalehan individu seharusnya berkorelasi langsung dengan kesalehan sosial.

Amanah (dapat dipercaya) merupakan sifat kenabian yang mesti kita teladani selanjutnya. Hal ini terkait dengan sebuah tanggung jawab yang diberikan kepada setiap orang.

Dalam konteks jabatan ialah dapat melaksanakan amanah tersebut dengan baik dan bertanggungjawab. Selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi maupun golongan, serta berhati-hati dalam menjalankan sesuatu yang menyangkut urusan publik atau masyarakat luas.

Adapun meneladani sifat tabligh (menyampaikan) dalam konteks saat ini ialah dengan mengajak pada kebaikan, menyerukan hal-hal positif dan produktif untuk kepentingan bangsa dan negara. Ajakan untuk selalu menyerukan kebaikan dirasa penting, guna menandingi maraknya berita bohong (hoaks), ujaran kebencian maupun hal-hal yang mengandung unsur SARA.

Fathanah (cerdas) adalah sifat kenabian yang mengajarkan kepada kita untuk menjadi manusia yang unggul. Unggul dalam ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan karakter kuat serta akhlak yang mulia.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa religius. Oleh karena itu perilaku warganya juga mesti mencerminkan akhlak maupun karakter yang mulia.

Ajaran agama hendaknya mampu menjadi spirit bagi umatnya untuk mencintai ilmu pengetahuan. Sementara ilmu pengetahuan juga semestinya dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk bisa lebih dekat dengan Tuhannya lantaran akan menambah tingkat keimanan dan ketakwaan bagi pemiliknya.

Ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi dengan nilai-nilai luhur agama akan buta, dalam arti berpotensi disalah gunakan dan berbahaya bagi kemanusiaan. Sementara agama tanpa ilmu pengetahuan juga akan lumpuh.

Meneladani sifat-sifat Nabi seperti shiddiq, amanah, tabligh serta fathanah pada hakikatnya ialah upaya menyiapkan dan membentuk SDM yang unggul. Membentuk insan yang berkarakter, berjiwa tangguh, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki keterampilan maupun kecakapan hidup serta memiliki akhlak yang mulia.

Dengan demikian diharapkan antara iptek dan imtak dapat berjalan dengan selaras demi terwujudnya insan yang religius dengan SDM yang unggul.

*Ma’muri Santoso, Dai Instruktur Nasional Jatman PBNU, alumnus PP. Al Aqobah dan PP. Tebuireng Jombang.

SebelumnyaJangan Hanya Kata
BerikutnyaFatimah Binti Abdul Malik, Istri Khalifah yang Tidak Memilih Kemewahan