Malaikat Tak Bersayap

258
(sumber gambar: http://komedi-romantis.blogspot.com)

Oleh: Indah Dwi Lestari*

Wangi aroma embun khas alami di waktu fajar seperti satuan kehidupan yang tidak dapat terpisahkan. Tidak ada salah satunya sama dengan timpang. Begitu pula hidupku. Ketimpangan kami tanpa sang malaikat, malaikat itu adalah Ayah. Ayah yang beberapa tahun terakhir ini tak menyurutkan semangat kami untuk melanjutkan hidup. Ibu membuka warung di rumah dan mengurus dua anak perempuan kelas 3 SMA yang bahkan tidak pernah akur.

Dea, dia adalah sepupuku yang tinggal satu rumah denganku sejak rumah, keluarga, dan harta lainnya hangus terbakar tak bersisa. Ibu menyayanginya. Dea hanya menyayangi ibuku, bukan aku. Kami satu sekolah tapi sama sekali tidak pernah bertegur sapa. Beberapa kali aku coba menyapanya, dia mengacuhkanku dan melenggang pergi begitu saja.

****

“Astaghfirullah, Dea! Jam berapa kamu baru pulang? Rambut acak-acakan. Baju sobek begini. Kamu habis ngapain?” Seruku tak habis pikir.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kepo,” satu kata yang keluar dari mulutnya. Berlalu masuk ke dalam kamar, meninggalkanku dan pertanyaanku di ambang pintu.

Dulu orangtua Dea bekerja di toko Jakarta dan meninggalkan hutang sekitar 100 Juta. Entah hutang apa. Karena itulah Dea memilih bekerja paruh waktu di sebuah toko kue 24 jam dekat sekolah. Waktu pulang Dea seharusnya jam 11 malam sudah sampai rumah, tapi ini sampai dini hari. Mungkin setelah pulang dia berkencan dulu dengan pacarnya. Karena kulihat beberapa kali dia berduaan dengan seorang laki-laki di jalan. Ibu tidak tahu tentang ini.

***

Ibu curiga. Dea bekerja, tapi saat ditanya sudah terkumpul berapa uangnya selalu mengelak dengan mengatakan ‘masih sedikit’. Sudah memasuki enam bulan lebih pasca insiden kebakaran kala itu dan uang itu belum genap 5 juta di rekeningnya. Ibu tau saat membereskan kamar Dea. Akupun ikut penasaran ke mana uang gajinya yang lain.

“Aku sudah besar Bulek, jangan mengaturku!” teriaknya. Ibu yang hatinya lembut selembut sutera tersentak dan pergi meninggalkan kami.

“Kamu gila Dea? Bisa-bisanya kamu mengucapkannya dengan enteng! Kamu pikir makanmu, tidurmu, sekolahmu, dan keperluanmu siapa yang menanggung?” Teriakku memakinya.

“Apa? Gila?” Sambil menarik kerudungku hingga jarumnya terlepas dari kaitannya.

Akupun reflek menjambak rambutnya. Kami berkelahi di ruang tamu dan Ibu menutup telinganya di kamar. Lelah mungkin jika harus melerai kami setiap saat. Dea pun benar-benar tidak tahu diri. Sifatnya semakin hari semakin keterlaluan.

Setelah kejadian berkelahi tadi aku rasanya ingin menangis. Tuhan, tadi aku menjambaknya. Tidak seharusnya aku ikut emosi. Tapi sampai kapan Dea akan terus bersikap seperti ini. Aku lelah.

***

Sudah jam satu lebih Dea belum pulang.  Berulang kali aku menelponnya, tapi tidak aktif.

Aku tidak tidur hingga shubuh. Aku berbohong pada ibu jika Dea sudah berangkat ba’da shubuh ke rumah temannya karena tugas.

Sepulang sekolah aku mencari Dea. Di ujung jalan ada seorang lelaki yang tidak asing bagiku. Kekasih Dea.

“Hey! Apa kamu tidak bersama Dea?” Tanyaku.

“Lo Anita kan? Lo nyari Dea?” Aku mengangguk.

“Gue anter.”

Dia mengajakku menyusuri jalan gang-gang sempit. Entah kenapa perasaanku berubah menjadi was-was. Apa benar Dea pergi ke sini. Apa aku dijebak. Astaghfirullah aku ngga boleh mikir macem-macem. Positive thinking Nita. Positif. Seruku dalam hati.

Kami masuk ke sebuah rumah kumuh. Aku bimbang antara mengikutinya atau tidak. Tapi dia membuatku penasaran. Dia membuka salah satu pintu kamar yang terkunci.

“Astaghfirullah, Dea! Apa yang terjadi?” teriakku kaget melihatnya terikat dan mulutnya tertutup.

Firasatku tidak enak. Benar. Lelaki itu menjadi brutal, seolah ingin menjadikanku santapannya. Mendorongku hingga jatuh ke kasur tepat di samping kursi Dea terikat. Aku berteriak histeris meminta tolong tapi rumah ini jauh dari pemukiman warga. Aku bukan karateka. Sungguh apa yang harus aku lakukan. Oh Tuhan, bantulah aku!

Dia terus memaksa mendekatkan wajahnya ke wajahku dan aku selalu menghindar. Tuhan bantulah aku. Bantu kami.

Dea menyeret kursi duduknya dan menghantamkannya ke lelaki itu. Aku langsung lari ke sisi yang lain menghindarinya. Aku berhasil. Dea menyuruhku pergi dengan isyarat kepalanya. Aku tidak akan meninggalkan dia. Aku akan menolong, Dea. Ayolah Nit pikirkan sesuatu! Gumamku dalam hati. Belum aku menemukan jawaban atas kebingunganku, lelaki itu mendorong Dea dan berlari ke arahku. Aku mengambil apapun yang ada di sekitarku dan melemparkannya ke dia. Tanganku kalah cepat untuk memukulnya. Kini sebuah pisau bertengger di leherku.

🤔  La Decima* yang Indah

“Sekali lo bergerak, pisau ini akan menembus kulitmu,” ancamnya. Dengan menekankan nada di setiap katanya.

Dea mengisyaratkanku berjalan mundur dan menggeser pisau lain yang terjatuh dengan kakiku. Aku melakukannya. Dea berhasil mengambilnya dan melepaskan tali yang mengikatnya. Dea langsung menyerang lelaki tadi dengan sangat antusias. Aku kagum dengan ilmu bela dirinya yang gesit. Penyerangan demi penyerangan dan elakan dari Dea membuatku bergeser mencari posisi aman. Hingga akhirnya darah tempias ke arahku.

“Deaaa…!” Teriakku histeris.

Mereka sama-sama menusukkan pisau ke perutnya masing-masing. Aku langsung menyeret Dea keluar.

Tenang Dea. Aku akan menelpon ambulan. Kurogoh sakuku tapi tidak menemukan handphone. Dimana hapeku. Astaghfirullah tertinggal di kelas. Dea bertahanlah. Aku akan mencari bantuan. Kataku sambil bangkit. Dea terlihat kesakitan, semakin banyak darah yang keluar. Dea mencekal tanganku dan menggelengkan kepalanya.

“To…tolong… ambil… ambil…” katanya terbata-bata menahan sakit. Aku tidak mengerti.

“Ambil… tasku…”

“Tas… di… di… sana,” menunjuk ke arah kamar tadi.

Aku langsung lari mengambil tas Dea. Dea pingsan. Aku panik berteriak ke luar rumah berharap ada yang mendengar. Alhamdulillah ada seorang bapak pemulung menghampiri. Aku ceritakan apa yang terjadi dan beliau membopong Dea ke puskesmas terdekat.

Kami lari sebisanya dan meninggalkan laki-laki jahat itu di sana. Aku segera melapor ke salah satu warga dan mereka menindak lanjuti ke polisi.

Dea langsung dirujuk ke Rumah Sakit masuk ruang ICU. Aku tidak membawa handphone jadi aku belum mengabari ibu.

Aku teringat Dea tadi menyuruhku mengambil tas. Kutemukan sepotong surat dan plastik hitam di sana.

Dear Anita Sepupuku

Aku tahu kelakuanku tidak tahu diri menopang tubuh di istanamu. Aku sengaja membuatmu membenciku. Sungguh, aku selalu pulang tepat waktu. Tapi malam itu aku lihat ada seseorang di depan rumah. Dia mengetahui keberadaanku dan mengejarku. Aku tidak bisa teriak atau apapun itu. Suaraku tiba-tiba hilang. Dia membiusku. Saat aku terbangun aku sudah dalam keadaan tak berpakaian di kamar. Di meja sampingku tertera sebuah hp dan putaran video saat dia melecehkanku. Aku sangat terpukul dan tidak bisa mengatakannya kepada siapapun. Sebelumnya dia memang mengincarmu dan aku selalu mencegahnya agar tidak bertemu denganmu. Lalu dia memerasku. Kalau aku tidak memberinya uang maka dia akan mencelakaimu dan juga Bulek, dan akan menyebarkan video itu ke sekolah. Dia juga berniat memperkosa kalian dan membunuh setelahnya. Aku tau karena dia yang mengancamku. Aku tidak bisa terima itu. Cukup aku saja. Aku tak peduli pulang dalam keadaan acak-acakan.

Tadi malam aku memergokinya lagi di depan rumah. Aku marah. Aku menghajarnya habis-habisan. Tapi aku kehabisan tenaga dan dia berhasil melumpuhkanku. Dia menyeret dan mengurungku di kamar ini. Aku tidak bisa berjanji akan pulang dengan selamat. Tapi aku akan membunuh laki-laki itu bagaimanapun caranya agar kalian aman. Aku juga kemarin menang berjudi. Gunakanlah uang itu untuk membayar hutang keluargaku dan anggap saja itu tabunganku selama ini dan lusa. Aku mohon Nit, bantulah aku dengan uang ini untuk membayarnya. Aku tidak mau merepotkan kalian lebih dari ini. Aku hanya bisa melakukan sedikit untuk kalian dan berjanji akan membunuh lelaki itu. Sampaikan terimakasih pada Bulek telah bersedia merawat dan menampungku di sana. Terimakasih juga untukmu Anita, sepupuku yang sabar dan baik hati. Maafkan aku telah merepotkan kalian.

Sepupumu, Dea.

***

Aku tak kuasa membacanya. Bagaimana mungkin orang yang memusuhiku sangat menyayangiku. Melindungiku dan ibu hingga mengorbankan dirinya. Tuhan, maafkanlah aku atas segala prasangka burukku.

Kuremas surat itu dan bergegas menuju ruang ICU. Seorang dokter menghampiri. “Dea tidak selamat.”

Hatiku remuk seketika. Tangisku benar-benar pecah sekarang. Kupeluk dia. Dia yang terbujur kaku tak berdaya. Tuhan, sesungguhnya semua makhluk yang hidup akan kembali pada-Mu. Tempatkanlah ia di sisi-Mu sebagai penegak keadilan di dunia.

Kini ketimpangan hidupku dan ibu sempurna sudah.  Malaikat tak bersayap itu kembali meninggalkan kami. Malaikatku telah pergi lagi.

*Mahasiswi STAIA Syubbanul Wathon Magelang