
Lelah Senyap
Malam menelan suaraku pelan-pelan
tubuh ini jadi rumah yang pintunya karatan
lelah menyelinap seperti kabut
membekap dada tanpa izin pamit
Aku tersenyum
padahal luka menjerit
Aku melangkah
padahal kaki sudah jadi batu
dunia berisik
tapi di dalam diriku senyap
seperti sumur tua yang kering airnya
ya Allah, ini hamba yang letih berjuang
menahan ribut di kepala
menahan rindu di dada
pinjamkan bahumu
pinjamkan tenagamu
agar aku bisa bangun lagi esok pagi
Pundak Lelah
Pundak ini memikul langit yang bukan milikku
beratnya seperti gunung runtuh di atas tulang
setiap langkah terasa menaiki bukit tanpa puncak
napas tersengal dipeluk letih yang tamak
Aku diam
tapi badai menjerit di kepala
Aku tersenyum
padahal mata menahan hujan
waktu menertawakanku
memaksa aku kuat lagi
padahal tubuh sudah jadi kertas basah
Ya Rabb, ringankan beban yang Kau titipkan
jadikan lelah ini saksi
bukan kuburanku
agar besok aku bisa berdiri lagi
menggendong mimpi yang sempat terjatuh
Letih Berbisik
Letih berbisik di balik pintu dadaku
menggesek sunyi sampai dinding hati mengelupas
Ia menenun lelah jadi selimut tebal
membungkus mimpi yang dulu berlari kencang
Aku menelan dunia yang bising dan kejam
sementara jiwaku retak pelan tanpa suara
langit menatapku dingin seperti hakim
bumi menolakku jadi saksi bisu
Tuhan, jika lelah ini bahasa cintamu
ajariku membaca tanpa air mata
ubah bisik letih jadi doa tenang
agar aku tumbuh
bukan terkubur di dalamnya
Penulis: Amalia Dwi Rahmah


















