Lebaran yang Tak Sama

72

Akhir Ramadan Tanpa Ibu

Ramadan hampir selesai, Bu.
Langit senja masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya,
tetap jingga, tetap teduh,
tapi entah kenapa terasa lebih sepi dari biasanya.

Aku masih duduk di tempat yang sama,
di dekat meja kecil tempatmu biasa menata kurma dan teh hangat,
menungguku yang sering terlambat pulang.

Dulu, kau selalu bertanya,
“Sudah berbuka, Nak?”
dengan suara yang lembut seperti doa yang tak pernah putus.

Sekarang, tak ada lagi pertanyaan itu.
Hanya suara adzan yang menggema sendiri,
dan aku menjawabnya dalam diam.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Aku rindu, Bu.
Rindu pada tanganmu yang sibuk di dapur,
pada langkahmu yang pelan menuju sajadah,
pada caramu menyebut namaku di antara doa-doa panjangmu.

Ramadan kali ini mengajarkanku satu hal
bahwa kehilangan bukan tentang siapa yang pergi,
tapi tentang siapa yang tak pernah benar-benar hilang,
karena ia hidup di setiap kenangan yang tak bisa aku lepaskan.

Dan di akhir Ramadan ini,
aku hanya bisa berdoa
semoga kau bahagia di sana,
dan semoga doaku sampai,
meski tak lagi kuucapkan di pangkuanmu.


Lebaran yang Tak Lagi Sama

Dulu, rumah ini selalu penuh suara.
Tawa yang saling bertubrukan,
langkah kaki yang berlari ke sana kemari,
dan aroma opor yang tak pernah absen setiap pagi Idulfitri.

Kini semuanya masih ada,
tapi tidak lagi utuh.

Kami masih berkumpul,
masih saling bersalaman,
masih mengucap maaf dengan kalimat yang sama.

Namun ada satu kursi yang kosong,
yang tak pernah benar-benar bisa tergantikan.

Aku melihat ke sudut ruang tamu itu,
tempatmu dulu duduk, Bu,
menyambut kami dengan senyum yang tak pernah lelah.

Sekarang hanya ada diam di sana.

Dan mungkin inilah cara hidup mengajarkan,
bahwa yang pergi tidak pernah kembali,
tapi kenangan akan selalu pulang,
setiap kali kita mencoba mengingat.


Di Meja yang Sama

Aku duduk di meja makan yang sama,
dengan piring yang hampir serupa,
dengan hidangan yang rasanya masih mencoba meniru tanganmu.

Tapi tetap saja berbeda, Bu.

Dulu kau yang paling sibuk,
memastikan semua sudah cukup,
memastikan kami makan dengan senyum,
meski kau sendiri sering lupa duduk.

Sekarang kami yang mencoba menggantikanmu,
meski tak ada yang benar-benar bisa.

Aku melihat wajah-wajah keluarga,
mereka masih di sini,
masih lengkap dalam hitungan jumlah,
tapi tidak dalam rasa.

Ada yang hilang,
dan kami semua tahu itu,
meski tak ada yang berani menyebutnya dengan lantang.

Lebaran ini mengajarkanku diam,
mengajarkanku menerima,
bahwa tidak semua kehilangan bisa dijelaskan.

Untukmu, Bu,
yang dulu menjadi rumah,
yang kini menjadi rindu,
yang tak pernah benar-benar pergi,
meski tak lagi bisa kupeluk setiap pagi.



Penulis: Ummu Masrurah

Editor: Rara Zarary