
Ada orang-orang yang datang dalam hidup kita dengan cara yang begitu biasa. Tidak ada pertemuan dramatis, tidak ada cerita besar yang membuat jantung berdebar. Mereka hanya ada di masa kecil kita, di hari-hari yang terasa sederhana, di kenangan yang bahkan sering kita anggap sepele.
Namun kadang justru dari situlah takdir bekerja dengan cara yang paling tidak kita sangka.
Aku mengenal Fahmi sejak kami masih kecil. Rumah kami pun tidak terlalu jauh jaraknya. Setiap sore, setelah mengaji di mushola, anak-anak di kampung akan berkumpul di lapangan kecil dekat pohon mangga.
Fahmi selalu ada di sana.
Ia anak yang paling berisik, paling sering tertawa, dan entah kenapa paling sering menggangguku.
Ia pernah menarik kepangan rambutku sampai aku kesakitan dan menangis. Pernah juga menukar sandal sekolahku dengan sandal jepitnya yang sudah tipis.
“Fahmiiiiiiiiiiiiiiii! Kamu tuh nyebelin banget tauuuuuuuuuu!” teriakku waktu itu.
Ia hanya tertawa, lalu berlari menjauh sambil berkata, “Biar kamu ingat aku terus!”
Aku kesal setengah mati.
Bagiku waktu itu Fahmi hanyalah anak laki-laki jahil yang selalu membuat hari-hariku lebih ribut dari seharusnya.
Namun masa kecil tidak pernah tinggal lama. Waktu berjalan, kami pun tumbuh dewasa, dan kehidupan mulai membawa kami ke arah yang berbeda.
Saat aku lulus sekolah menengah pertama, ayahku mendapat pekerjaan di luar kota. Dan alhasil kami harus ikut pindah bersama ayah.
Hari terakhir sebelum keberangkatan itu terasa aneh bagiku. Beberapa teman datang berpamitan. Ada yang memberi pelukan, ada yang menitipkan surat kecil.
Namun Fahmi tidak datang sejak pagi.
Aku sempat berpikir ia mungkin terlalu sibuk bermain seperti biasanya.
Sampai menjelang sore, ketika mobil kami sudah hampir berangkat, tiba-tiba ia muncul di ujung gang dengan napas sedikit terengah.
“Aku kira kamu sudah pergi, Put,” katanya.
Aku pun menggeleng.
Kami berdiri beberapa langkah saling berhadapan, tapi tidak ada yang benar-benar tahu harus berkata apa.
Untuk pertama kalinya aku melihat Fahmi tidak banyak bicara.
“Fahmi, aku pamit pergi ya,” kataku lirih padanya.
Ia pun mengangguk pelan. “Hati-hati di kota.”
Hanya itu.
Tidak ada pelukan, tidak ada kata-kata panjang seperti di film. Ia hanya berdiri di pinggir jalan ketika mobil kami perlahan meninggalkan kampung itu.
Dari kaca belakang mobil, aku sempat melihatnya masih berdiri di sana sampai rumah-rumah mulai tertutup jarak.
Waktu terus berjalan tanpa pamit.
***
Aku menjalani hidup di kota, melanjutkan sekolah, kemudian kuliah. Lingkungan baru, teman baru, bahkan cerita hidup baru.
Kenangan tentang kampung memang masih ada, tapi hanya sesekali muncul ketika aku sedang rindu rumahku yang dulu.
Termasuk kenangan bersama Fahmi. Manusia yang menyebalkan itu.
Terkadang aku teringat suara tawanya, atau cara ia selalu membuatku kesal. Tapi kenangan itu datang dan pergi seperti bayangan masa kecil yang perlahan memudar.
Aku tidak pernah berpikir kami akan bertemu lagi.
Sampai suatu hari, setelah aku lulus kuliah, ibu berbicara dengan nada sedikit hati-hati.
“Ada keluarga lama yang ingin datang bersilaturahmi,” katanya.
“Siapa?” ucapku.
“Teman ayahmu waktu masih di kampung dulu.”
Aku sama sekali tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang kupikir hanya pertemuan biasa seperti tamu-tamu yang lain yang sekadar singgah saja.
Hari di mana mereka datang, rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Ibu menyiapkan banyak makanan, ayah terlihat berbicara hangat dengan seorang tamu yang ada di ruang depan.
Aku berjalan keluar dari kamar tanpa banyak prasangka buruk.
Namun langkahku terhenti ketika aku melihat sosok manusia yang duduk di sana bersama ayah.
Sosok itu menoleh ke arahku. Beberapa detik aku hanya menatap wajah itu tanpa bisa berkata sepatah kata pun.
Ada sesuatu yang terasa sangat familiar di pikiranku. Mata dan gurat senyumnya.
“Fahmiiiii…?” ucapku pelan.
Ia berdiri dari tempat duduknya.
Senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang entah kenapa terasa amat sama seperti dulu yang sering kulihat di gang kecil saat kita sedang bermain di kampung kami.
“Akhirnya kita ketemu lagi,” katanya.
“Maaf aku datang tidak memberi tahu, tapi sebenarnya aku tidak hanya untuk bersilaturahmi,” sambungnya.
Aku menatapnya bingung.
Ia tersenyum canggung.
“Aku datang untuk melamar kamu, Putri.”
Aku terdiam dan mematung.
“Sejak kamu pindah dulu,” lanjutnya pelan, “aku sudah bilang ke ibuku… kalau suatu hari nanti aku ingin menikah dengan kamu.”
Hati, jantung, dan seluruh organ tubuhku sepertinya sedang dalam mode nge-freeze mendengar ucapan Fahmi barusan.
Aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang selama ini hanya menjadi bagian dari kenangan masa kecil ternyata menyimpan perasaan selama itu.
***
Beberapa bulan kemudian kami benar-benar merealisasikan sunnah rasul tersebut. Mengikat janji suci dengan niat lillah karena Allah. Pernikahan kami memang sederhana, tapi hangat berkat doa-doa yang terpanjat.
Saat akad selesai dan aku duduk di sampingnya, aku menoleh ke arah Fahmi.
Ia berbisik pelan dengan senyum simpulnya, “dulu waktu kecil aku bilang kalau kamu harus ingat aku terus, kan.”
Aku pun tertawa pelan.
“Ternyata kamu serius ya, padahal kamu masih bocah,” ucapku.
Ia pun mengangguk.
“Karena dari dulu… aku sudah berharap kamu tidak hanya mengingatku.”
“Lalu?”
“Namun juga pulang kepadaku.”
Dan saat itu aku akhirnya mengerti satu hal yang sangat sederhana tentang takdir.
Terkadang jodoh tidak datang dari orang yang jauh atau orang yang baru kita kenal.
Terkadang ia adalah seseorang yang sudah berjalan bersama kita sejak lama di masa kecil yang polos, di kenangan yang pernah kita anggap biasa saja.
Sampai suatu hari kita sadar.
Bahwa teman kecil yang dulu sering membuat kesal itu ternyata orang yang Allah pilih untuk menjadi rumah dan tempat berpulang kita bersamanya.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















