
Tak semua santri pulang saat lebaran. Sebagian kembali ke rumah dengan wajah berbunga dan penuh bahagia, membawa tas besar serta cerita yang akan mereka bagi kepada keluarga. Namun, sebagian yang lain tetap tinggal di pesantren, memeluk rindu yang tidak bisa diselesaikan dengan perjalanan pulang.
Wita termasuk yang tertinggal.
Sejak pagi, ia melihat teman-temannya satu per satu meninggalkan asrama. Ada yang dijemput ayahnya, ada yang dipeluk ibunya lama di depan gerbang, ada pula yang pulang dengan berjanji akan kembali membawa oleh-oleh banyak setelah liburan selesai.
Ia berdiri di dekat jendela kamar, sembari mengamati halaman yang penuh dan sesak oleh orang-orang yang sibuk mengurusi perpulangan.
Sesekali ia tersenyum ketika melihat temannya melambaikan tangan sebelum pergi. Namun, setelah mereka benar-benar keluar dari gerbang pesantren, senyum itu perlahan hilang.
Pesantren tiba-tiba terasa terlalu luas.
Lorong yang biasanya penuh suara kini terasa sunyi. Banyak kamar kosong tanpa penghuni. Bahkan halaman yang biasanya ramai oleh santri kini hanya dipenuhi angin yang bergerak pelan.
Wita kembali duduk di tempat tidurnya.
Ia sebenarnya juga rindu rumah.
Namun, beberapa hari yang lalu ayahnya sudah menelepon dengan suara yang terdengar sangat hati-hati.
“Wita… lebaran tahun ini di pondok dulu, ya.”
Ia tahu maksud kalimat itu tanpa perlu meminta penjelasan panjang.
“Iya, Yah. Tidak apa-apa,” jawabnya waktu itu.
Malam takbiran pun datang dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Suara takbir tetap menggema di berbagai belahan bumi yang terdengar olehnya, namun jumlah santri yang takbiran di pondok sangat sedikit tahun ini.
Setelah salat Id keesokan paginya, pesantren kembali terasa sepi.
Menjelang siang, salah satu guru yang mengajar di pesantren datang ke asrama.
“Wita,” panggil beliau.
“Iya, Bu?”
“Kalau di sini sepi, ikut lebaran di rumah saya saja.”
Wita sempat ragu. Namun, melihat wajah gurunya yang begitu tulus, ia akhirnya mengangguk pelan.
Rumah gurunya tidak jauh dari pesantren. Rumah sederhana itu terasa hangat oleh tamu-tamu yang datang bersilaturahmi.
Wita pun tidak tinggal diam. Ia sigap membantu di dapur sejak pagi hingga siang—menyusun kue, menyiapkan minuman, dan sesekali membawa hidangan ke ruang tamu.
Di sela kesibukan itu, ia beberapa kali melihat seseorang yang membuat hatinya sedikit tidak tenang.
Namanya Ibnu Sina Fikri Al Zufri. Putra satu-satunya dari Ustadzah Minah dan Ustadz Zufri.
Wita memang sudah mengenalnya sejak lama, meskipun hanya dari kejauhan. Fikri sering datang ke pesantren untuk mengajar kitab setiap harinya.
Ia dikenal sopan, tenang, dan jarang banyak bicara.
Diam-diam, Wita pun mengaguminya.
Namun, perasaan itu tidak pernah ia biarkan tumbuh terlalu jauh. Baginya, mengagumi saja sudah cukup. Ia merasa dirinya sangat tidak pantas jika harus berharap lebih tentang perasaannya itu. Sebab, ia hanya santri biasa dari keluarga yang sangat sederhana, sementara Fikri adalah anak dari gurunya sendiri.
Menjelang sore, tamu mulai berkurang. Rumah Ustadzah Minah kini terlihat lebih tenang.
Ketika sedang membereskan toples dan menyapu, Ustadzah Minah bertanya kepada Wita.
“Nduk, mondokmu sudah mau selesai, ya?” tanya beliau.
“Nggeh, Bu. Tinggal beberapa bulan lagi.”
Beliau mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada yang sangat tenang,
“Kalau begitu… bagaimana kalau setelah Syawal ini kamu menikah saja, Nduk?”
Wita terdiam.
“Menikah, Bu?”
“Iya,” jawab beliau sambil tersenyum. “Dengan anak saya.”
Dunia Wita seakan berhenti sejenak. Ia masih tidak bisa mencerna apa yang barusan ia dengar.
“Sejujurnya, saya sudah bicara dengan ayahmu,” lanjut beliau. “Ayahmu adalah teman saya waktu mondok dulu.”
Wita menunduk.
“Ayahmu bilang kalau kamu setuju, beliau juga rida.”
Hati Wita dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Ia teringat semua waktu ketika ia hanya bisa melihat Fikri dari kejauhan—waktu-waktu ia mengagumi seseorang tanpa berani berharap apa-apa.
Karena dalam pikirannya, dirinya tidak pantas.
Namun, hidup ternyata sering berjalan dengan cara yang tidak pernah manusia bayangkan.
Beberapa minggu setelah lebaran, pernikahan sederhana itu benar-benar terjadi.
Tidak ada pesta besar—hanya keluarga dekat dan beberapa orang dari pesantren yang datang.
Saat akad selesai, Wita merasa semuanya masih seperti mimpi.
Ia tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang selama ini hanya ia kagumi dalam diam justru menjadi orang yang Allah pilih untuk berjalan bersamanya.
Hari itu, ia memahami sesuatu yang sangat sederhana, namun dalam.
Kadang, kita merasa tidak pantas untuk sesuatu yang baik.
Padahal, bisa jadi hal yang kita anggap terlalu indah itu justru sudah Allah tuliskan untuk kita sejak lama.
Dan sering kali, takdir datang bukan dari rencana yang kita buat, melainkan dari jalan yang bahkan tidak pernah kita sangka sama sekali.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















