Bumi yang Diam-diam Menangis

35
Sebuah ilustrasi bumi sedang sakit (sumber: eposlogicom)

Bumi yang Diam-Diam Menangis
Pohon-pohon tak lagi pandai berbisik
karena akarnya tercekik keserakahan
Sungai mengalir membawa duka
keruh oleh tangan yang lupa menjaga

Langit pun enggan biru seperti dulu
ia menyimpan keluh di balik asap
dan burung-burung kehilangan arah pulang
di antara gedung yang tumbuh tanpa jeda

Wahai manusia,
bumi bukan sekadar tempat singgah
ia ibu yang kau pijak setiap hari
namun jarang kau peluk dengan peduli

Jika esok ia berhenti memberi
masihkah kau ingat
pernahkah kau mencintainya?


Ibu, Rumah yang Tak Pernah Pergi
Di matamu, aku belajar tenang
meski dunia sering datang dengan gaduh
Tanganmu adalah doa yang menjelma hangat
memeluk tanpa syarat, tanpa lelah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kau sembunyikan luka di balik senyum
agar aku tumbuh tanpa takut
Padahal, di setiap malam panjang
namaku kau sebut dalam lirih yang penuh harap

Ibu,
jika cinta punya wajah
maka itu adalah wajahmu
yang tak pernah berpaling dariku


Pada Mereka yang Pandai Mengingkari Janji
Kau ucap setia seperti angin lewat
singgah sebentar, lalu hilang tanpa jejak
Lidahmu manis, namun hatimu berjarak
menghitung untung di balik kepercayaan

Kau kira dunia tak mencatat
jejak-jejak pengkhianatan yang kau tanam
Padahal, waktu adalah saksi paling jujur
yang tak pernah lupa pada luka

Suatu hari nanti
kau akan berdiri di cermin sendiri
dan bertanya,
“mengapa sunyi begitu ramai di hatimu?”



Penulis: Ummu Masrurah