
Lorong-lorong Sunyi
Segera aku mencatat sunyi
sebelum kata-kata hilang dari papan tulis
mumpung tinta masih menari di ujung pena
aku ingin mengukir mimpi lama
lama tidak kudengar suara harap
hingga deru kelas menunggu bisikan.
Cerita tentang ruang dan waktu
tentang buku yang terbuka dan lembar yang hampa
kau bertarung dengan lupa
kalimat dan makna bersanding rapuh
bagai pelita dan bayang-bayang
berkelana dalam lorong-lorong sepi.
Sejak aku menapaki bangku itu
rindu akan ilmu mengalir perlahan
nyaris terbungkus dalam debu dan dinding
tak ada tawa riang atau sorak ceria
hanya hembusan angin yang berbisik
menganyam asa di balik kaca jendela.
Penuntun Cahaya
Suatu hari nanti, saat kau menatap kembali
setiap jejak kata yang pernah kau titipkan
menjadi lentera dalam gelapnya lorong hati
lalu berbisik lembut pada jiwa yang haus
membimbing langkah tanpa lelah
menghidupkan dunia yang kadang sunyi.
Lalu, dengan sabar yang tak pernah pudar
senyummu menjadi pelita di tengah kabut
suaramu tetap mengalir
mengalun seperti sungai kecil yang terus mengisi
menguatkan akar-akar mimpi yang rapuh
menganyam harapan di tiap lembar pelajaran.
Ajaranmu penuh kesederhanaan
merangkum makna dalam doa-doa terpendam
berjanjilah terus menyala
meski tak selalu didengar gemuruh pujian
dan percayalah suatu hari
ada terima kasih yang tak lekang waktu
meski wajahmu tak selalu tampak di panggung dunia.
Lalu berganti masa
kau pun tetap menyimpan rahasia kesabaran
berkelimpahan pelajaran antara
cinta dan pengorbanan yang tak terucap
sampaikan dengan tulus…
ajaran yang membekas,
cahaya yang tak pernah padam
…di hati kami
di sanubari kami yang selalu mengenang.
Yang Disembunyikan Angin
Ada ladang di mataku
yang selalu hijau tiap kali kusebut namamu
kampung yang membesarkanku dengan nyanyian
rumput-rumput dan doa ibu yang tak pernah lelah
Langit di sana masih menulis surat
dikirim lewat burung-burung kecil yang sesekali tersesat
ke kota yang memudarkan warna kenangan.
Aku membaca kabarmu dari sunyi yang melengkung
di antara bising lalu lintas dan layar-layar yang tak kenal arah.
Pohon jambu di pekarangan dulu
ia tak tumbuh lagi di sini
Ia tinggal di balik ingatanku
menunggu hujan jatuh agar rindunya tumbuh
Oh, betapa aneh
rumah itu tak pernah pindah
tapi aku yang menjauh setiap hari
Seolah jarak telah menjadi agama
yang kuhafal tanpa pernah percaya
Di malam-malam yang kelelahan
kusentuh bayangmu seperti anak kecil
yang menggambar matahari dengan krayon
meski hari hujan
Begitu polos rinduku padamu
hingga bumi pun menangis tanpa sebab
Tapi kampung
kau diam saja, seperti bapak
yang menahan air mata
agar anaknya tetap berani merantau
Dan aku
hanya ingin pulang
tanpa harus bertanya:
“Apakah masih ada yang mengingatku
di jalan yang kini ditumbuhi ilalang?”
Yang Tak Terucap
Di pagi yang tak sempat kau sambut
ada sepasang mata
menitipkan doa
pada embun
yang malu-malu jatuh ke daun.
angin tak pernah tahu
ia membawa harapan
atau kehilangan.
tapi tetap saja ia bertiup
seperti pesan
yang tak pernah sampai
namun tetap dikirimkan.
ada yang bersujud
tanpa suara
dengan tangan gemetar
dan hati yang nyaris pecah
ia tidak minta apa-apa
selain satu:
dipeluk oleh-Nya
tanpa harus menjelaskan luka.
di kursi tua yang mengeluh lirih
di gang sempit tempat anak-anak tak lagi bermain
di wajah-wajah yang tak sempat marah pada hidup
ada doa
yang diam-diam menetes
seperti air
yang tak minta nama
hanya ingin menjadi berkah.
tak semua doa butuh kata
sebab Tuhan pun
mengerti
air mata.
Langit yang Pernah Kita Kenal
Masih kuingat aroma tanah basah
setelah hujan turun tanpa permisi,
dan suara sandal jepit
yang pulang membawa tawa dari surau kecil
tempat kita dulu belajar mengeja langit
Langit itu
pernah menjadi sahabat paling sabar
tak marah saat kita menggambarnya
dengan kapur warna di halaman sekolah
meski bentuk awan selalu keliru.
Pohon mangga di pojok halaman
pernah jadi tempat kita berjanji
bahwa suatu hari
kita akan tumbuh tinggi
dan kembali
meski tak tahu kapan.
Tapi waktu berjalan seperti arus
yang tak pernah menoleh
Kita pun hanyut
tersesat di antara gedung tinggi dan suara klakson
lupa cara memanggil senja
dengan nama panggilan kecil.
Kini aku berdiri
di kota yang sibuk menjual waktu
dan menyembunyikan pelukan
di balik layar-layar terang
Langitnya asing
hanya biru tanpa cerita.
Aku rindu langit yang dulu
yang tahu semua rahasia kita
tanpa harus kita ucapkan
Langit yang tenang
yang tak diatur jadwal
dan tak pernah menilai dari hasil.
Jika nanti aku pulang
dan langit itu masih ada
biarkan aku duduk di bawahnya
walau hanya sebentar
agar jiwaku bisa tenang
meski tubuh ini tak lagi kanak-kanak.
Penulis: Achmad ‘Adzimil Burhan Al-Hanif
Editor: Rara Zarary


















