
Bungkusan Perbudakan yang Tampak
Di antara kesempitan yang menghimpun sekian grusak-grusuk miring di sudut pesantren
“Guruku dari Orang-orang Pesantren”
pesantren bukan hanya memberi pengetahuan dan kebudayaan
pesantren menunjukkan kemampuan tidak diukur hanya dari angka dan peringkat
pesantren membuktikan berpendidikan tidak mahal dan inklusif
bagaimana bisa jerihnya hanya terikutkan payah
bagaimana bisa ketenangan dianggap ajaran yang tak karuan dan tak berkemanusiaan
kesadaran kolektif dari satu golongan berbuah pahit di seberang jalan
berdalil dari dan untuk yang terbalik satu sama lain
rasa kesatuan tak lagi dianggap persatuan
kesadaran kolektif itu mengaku menjadi mayoritas dari persatuan
keberadaan yang murah dianggap tak ramah bagi kebebasan
mengibarkan bendera opini liar yang tak saling bertemu dan terus beradu
grusak-grusuk semakin tajam dari hari ke hari
saling bakar kata dan lempar garam di antara luka
saling cakar sikut sana sikut sini
melupakan hidup bersimponi dalam keberagaman
memang kemasan hingga marketing membungkus manis kapitalis yang terus kehausan
Penulis: Moh. Minahul Asna
Editor: Rara Zarary


















