
Tebuireng.online— Pesantren Tebuireng menerima kunjungan kehormatan dari Konsul Jenderal (Konjen) Tiongkok, Ye Su, pada Jumat (14/11/2025). Konjen Ye Su bersama rombongan disambut langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin), beserta sejumlah dzurriyah yang turut hadir dalam penyambutan di ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Kikin menjelaskan mengenai sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo. “Jadi sosok lukisan yang berada di belakang kita ini adalah tiga tokoh utama Pesantren Tebuireng yang mendapat gelar Pahlawan Nasional. Dan yang terbaru adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur),” ujar Gus Kikin sembari menunjuk lukisan yang terpajang di dinding.
Dua tokoh lainnya, lanjut Ketua PWNU Jawa Timur tersebut, ialah KH. Abdul Wahid Hasyim—ayah dari Gus Dur—yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 28 April 1964, serta Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur yang juga menerima gelar Pahlawan Nasional pada tahun yang sama.
Baca Juga: Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Serahkan Bantuan Videotron untuk Pesantren Tebuireng
Selain memperkenalkan tiga tokoh Pahlawan Nasional dari tiga generasi Pesantren Tebuireng, Gus Kikin turut memaparkan sejarah kepengasuhan pesantren dari masa ke masa. “Pengasuh pertama Pesantren Tebuireng adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Setelah beliau, kepengasuhan dilanjutkan oleh putranya, KH. A. Wahid Hasyim. Pada tahun 1950–1951, KH. Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dan digantikan oleh saudaranya, KH. Abdul Karim Hasyim,” jelas cicit Hadratussyaikh tersebut.

Beliau melanjutkan, setelah wafatnya KH. Abdul Karim Hasyim, kepengasuhan diteruskan oleh KH. Achmad Baidlowi. “Setelah KH. Achmad Baidlowi, pengasuhan Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh KH. Abdul Kholiq, kemudian KH. Yusuf Hasyim, dan selanjutnya oleh KH. Salahuddin Wahid,” tambahnya.
“KH. Salahuddin Wahid ini adalah adik dari Gus Dur. Setelah wafatnya KH. Salahuddin Wahid pada 2020, barulah saya ditunjuk menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng.”
Tidak hanya menyampaikan sejarah kepengasuhan, Gus Kikin juga memaparkan keteladanan perjuangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari kepada Konjen Tiongkok. “Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari adalah sosok ulama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Beliau meninggalkan dua warisan besar, yaitu Pesantren Tebuireng dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ini adalah peninggalan bersejarah yang sangat berarti,” tuturnya.
Baca Juga: Pererat Silaturahmi PHBI Tanah Laut Kunjungi Pesantren Tebuireng
Gus Kikin turut menjelaskan kondisi dan perkembangan Pesantren Tebuireng saat ini. “Bangunan pondok yang ada di sini berdiri di atas tanah seluas sekitar 10 hektare hingga ke bagian belakang. Di atas lahan tersebut, kami membangun asrama santri dan berbagai unit pendidikan mulai tingkat SLTP, SLTA, hingga dua perguruan tinggi,” jelasnya.
Di akhir kunjungan, ia juga menyampaikan mengenai makam Gus Dur yang berada di kompleks pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng dan senantiasa ramai diziarahi. “Tidak jauh dari sini, dan masih berada di lingkungan Pesantren Tebuireng, terdapat makam Gus Dur yang selalu diziarahi oleh banyak orang dari berbagai wilayah di Indonesia. Kemungkinan ada sekitar seribu orang tiap minggunya,” ungkapnya.
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















