
Cerita sebelumnya: Kisah Sangat Menyeramkan
Aku pikir kejadian tuyul yang mencoba membawa bonekaku adalah batas tertinggi dari kegilaan yang harus kuterima. Tapi ternyata, itu baru permulaan.
Malam itu, aku tidur sendirian di kamar. Listrik sudah dipadamkan sejak pukul sembilan karena di desa ini tidak banyak aktivitas setelah Isya’. Aku tidur menghadap tembok, membelakangi kamar. Udara terasa dingin, tetapi bukan dingin yang biasa dingin yang seperti berasal dari sesuatu yang tidak hidup.
Entah pukul berapa, aku terbangun, aku tidak tahu apakah itu mimpi buruk atau firasat. Yang jelas, ada perasaan menekan di dadaku, seperti seseorang menatapku dari belakang.
Pelan-pelan, aku meraih selimut dan memeluknya. Dalam hati aku berusaha menenangkan diri
“Ibu mungkin pindah kamar dan tidur di sini. Sudah lama aku tidak tidur ditemani Ibu.”
Aku memberanikan diri menoleh, di balik bayangan kamar, aku melihat sesuatu di sampingku.
Tangan.
Kulitnya putih, pucat seperti susu yang terkena cahaya bulan. Dalam gelap, warnanya terlihat seperti menyala dari dalam bersinar samar. Aku terkesiap. Tapi saat itu pikiranku mencoba waras.
“Bu? Ibu tidur sama aku malam ini?”
Masuk akal. Ibu memang sering datang ketika aku ketakutan, aku menarik napas pelan, mencoba menguasai diri, dan kembali memejamkan mata. Tapi pikiran itu mengganggu
“Kenapa kulit ibu… sampai bersinar?”
Aku kembali membuka mata, sedikit demi sedikit, aku menatap tangan itu lebih lama, dan saat itu, sesuatu yang sangat salah mulai terasa. Tangan itu tidak bergerak. Tidak ada naik-turun napas di balik selimut. Tidak ada suara orang bernapas. Yang ada hanya kesunyian total sunyi yang membuat telingaku berdenging.
Pelan-pelan aku menelusuri bentuknya dengan pandangan. Bentuknya memang seperti tangan manusia.
Tapi… warnanya terlalu pucat, dan tidak ada tubuh. Hanya dua tangan yang tergeletak di sampingku, seakan baru disimpan dengan hati-hati. Kulitnya pucat, abu-abu keperakan, seperti benda basah yang memantulkan cahaya. Tidak ada darah. Tidak ada bekas luka.
Hanya potongan tangan yang bersinar. Saat otakku menyadari apa yang kulihat, tubuhku langsung membeku. Aku ingin menjerit, tapi suara itu terperangkap di tenggorokan.
Tangan-tangan itu bergerak, jari-jari yang tadinya diam, perlahan membuka… lalu menutup seperti sedang mencoba menggenggam udara. Semuanya terjadi tepat di samping wajahku.
Aku tersentak, bangun sepenuhnya, dan tanpa pikir panjang aku langsung bangun dari tempat tidur. Kaki-kakiku gemetar, tapi aku berlari secepat mungkin keluar kamar. Pintu terbuka dengan hentakan keras. Aku tidak menengok lagi ke belakang.
Aku lari melewati dapur yang gelap, hampir tersandung kursi, lalu membuka pintu kamar Ayah dan Ibu.
Suara nafasku terputus-putus.
“Bu… Bu… di kamar aku” (ucapku sambil ketakutan dengan keringat bercucuran)
Ibu terbangun dan segera memelukku. Tangannya hangat berbeda sekali dengan dinginnya tangan yang tadi.
Ayah menatapku dengan wajah serius, tanpa bertanya apa-apa. Ia hanya menghela napas berat seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya.
Dalam tatapan mereka, aku melihat ketakutan yang tidak pernah mau mereka ucapkan. Kini aku yakin makhluk itu tidak hanya memantau.. melainkan Ia mencoba masuk ke dalam hidup kami.
Dan entah kenapa, ia selalu datang ke arahku.
Setelah kejadian tangan itu, malam-malamku terasa semakin berat. Bukan lagi soal takut pada apa yang kulihat, tapi takut pada apa yang tidak kuketahui.
Aku jadi sering duduk diam di dapur, memandang ibu yang sedang menyiapkan sarapan. Kadang aku ingin langsung bertanya, tapi bibirku selalu terkunci. Bahkan hanya mendengar suara piring beradu saja membuatku teringat suara benda jatuh di rumah lama.
****
Sampai pada suatu pagi, ketika hanya ada aku dan Ibu di dapur, aku memberanikan diri.
“Ibu…” suaraku serak, hampir tenggelam oleh suara sungai di luar.
Ibu berhenti mengaduk kopi. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia pura-pura biasa.
“Apa, Sisi?”
Aku menatap cangkirnya yang penuh oleh uap panas. Aku takut melihat matanya, takut lihat jawaban yang tersembunyi di sana.
“Apa Ibu tahu kenapa makhluk itu Cuma lihat aku?”
Suaraku pecah. “Kenapa Cuma aku yang bisa lihat? Dan kenapa kita harus pindah terus?”
Ibu terdiam, tidak ada suara selain angin yang melewati celah dinding kayu rumah. Ibu tidak langsung menjawab. Matanya memandang jauh keluar jendela, ke sungai yang mengalir pelan. Baru setelah beberapa detik atau menit ia menghela napas panjang.
“Sisi…”
Ia menatapku, dan ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya ketakutan
“Kamu pikir kami pindah karena rumahnya yang berhantu?”
Aku mengangguk kecil.
Ibu menggeleng perlahan, pasti.
“Kita pindah bukan karena rumahnya, tapi karena kamu.”
Jantungku seperti berhenti berdetak. “Maksud Ibu apa?”
Ibu menjulurkan tangannya, menggenggam tanganku erat-erat, seolah aku akan hilang kalau ia melepasnya.
“Hantu itu tidak mengganggu rumah.”
Suara Ibu lirih, retak.
“Hantu itu mengikuti kamu.”
Aku menggeleng tak percaya. “Tapi… kenapa? Aku tidak pernah melakukan apa-apa.”
Ibu menelan ludah, seolah kata-kata itu sulit keluar.
“Karena sejak kamu lahir, kamu sudah dipilih.”
Kata itu “dipilih” menancap seperti duri di tenggorokanku.
Aku ingin bertanya oleh siapa? atau untuk apa? tapi suara itu tidak keluar. Ibu mengusap punggungku pelan.
“Dia tidak menyerangmu karena dia tidak ingin menyakitimu.”
Mata ibu berkaca-kaca.
“Dia ingin kamu melihatnya. Hanya itu.”
Aku terdiam. Dadaku sesak.
Ibu melanjutkan, dengan suara yang hampir berbisik
“Dulu kami pikir kalau kita pindah jauh… dia tidak akan tetap menemukanmu. Tapi nyatanya, sejauh apa pun kita pergi, dia selalu lebih dulu ada di sana. Dia tidak pernah terlambat.”
****
Tiba-tiba aku teringat semua kejadian selama ini, sosok tinggi itu tidak pernah menyentuhku, ia hanya memperhatikan, ia tersenyum setiap kali aku ketakutan.
Seperti… seseorang yang sedang menunggu.
“Aku capek, Bu…” suaraku goyah.
Ibu menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat berbanding terbalik dengan dinginnya tangan-tangan yang pernah muncul di sampingku.
“Maafkan Ibu,” katanya pelan. “Kami tidak tahu bagaimana menghentikannya. Kami Cuma tahu satu cara… yaitu menjauh.”
Aku ingin bertanya banyak hal.
Siapa yang memilihku?
Untuk apa?
Kenapa aku?
Tapi sebelum aku sempat bertanya, langkah kaki Ayah terdengar dari ruang depan. Suaranya terburu-buru.
“Minah…”
Ayah masuk dengan wajah pucat.
“Dia. Ada di belakang rumah.”
Ibu langsung berdiri, menarik tanganku, ibuku tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela, seolah ada sesuatu yang mengintip dari balik tirai malam.
“Ayahmu dan Ibu… tidak pernah sengaja memilih rumah itu, Sisi,” ucapnya lirih. “Rumah itu yang memilih kita.”
Aku menelan ludah. “Apa maksudnya? Kenapa semua teror itu terjadi pada kita? Kenapa… pada aku?”
Ayah menarik napas panjang, seakan setiap kata memiliki berat berton-ton.
“Sisi, kamu bukan diikuti oleh satu makhluk.”
“Di belakang rumah itu… ada penjaganya.”
Aku memiringkan kepala, bingung.
“Penjaga… siapa?”
Ayah memejamkan mata, seperti mengulang kembali teror bertahun-tahun lalu.
Ibuku menggenggam tanganku erat terlalu erat hingga dinginnya merambat ke tulang.
“Waktu kamu masih bayi,” suara ibu bergetar, “ada seseorang yang datang ke rumah lama kita. Perempuan tua, jalannya seperti nggak menginjak tanah… ia bilang sesuatu pada ibu.”
Ayah menyambung, suaranya pelan tapi tegas
“Darahmu bukan darah biasa.”
Aku terpaku.
“Kamu peka. Kamu melihat apa yang tidak boleh dilihat orang lain.”
Dalam gerimis memori itu, ibu menatapku mata yang penuh ketakutan dan rasa bersalah.
“Perempuan tua itu bilang… ‘Anak ini bisa melihat pintu yang tak boleh dibuka.’”
Aku merinding. Pintu apa?
Ayah menatap jauh seakan melihat kembali halaman belakang itu.
“Di belakang rumah itu ada sumur tua. Bukan sumur air… tapi sumur yang menelan jiwa.”
Suasana seketika membeku.
Angin malam menggigilkan dedaunan seakan ikut mendengarkan.
Ayah melanjutkan,
“Orang kampung menyebutnya Lubang Penunggu. Siapa pun yang sensitif terhadap dunia gaib… akan dipanggil.”
Dan saat itu aku merasa perutku mual.
Aku dipanggil?
Bukan kebetulan selama ini aku yang diikuti?
Ibuku menjelaskan sambil menahan isak
“Dia melihatmu sejak kamu bayi. Dari halaman belakang.”
Aku teringat jelas tatapan yang selalu aku rasakan dari luar jendela.
Tatapan yang diam, memantau, tanpa kedip. Ayah menambahkan dengan suara parau
“Makhluk itu, Sisi… bukan hantu biasa. Dia bukan lewat, bukan tersesat. Dia menunggu.”
“Menunggu apa?” tanyaku lirih.
Ayah menatapku dalam-dalam, “Menunggu saat kamu siap untuk membuka pintu itu.”
Dan aku seperti ditarik kembali ke ingatan, sosok yang tersenyum di balik kaca, tuyul yang mengangkat boneka, dua tangan pucat yang jadi selimut horor di sampingku.
Semua itu bukan kebetulan. Itu pemanggilan. Itu pengawasan.
“Dia bukan ingin menyakitimu,” bisik ibu. “Dia ingin… kamu kembali.”
Kembali?
Ke mana?
Untuk apa?
Ayah menatap kosong seakan melihat sosok itu melalui benak masa lalu
“Perempuan tua yang datang dulu bilang… kamu pernah menjadi bagian dari mereka.”
Jantungku berhenti berdetak sejenak.
Bagian… dari mereka?
Ibu menyambung, hampir berbisik
“Mereka menyebutmu anak yang terpilih, yang bisa melihat batas antara dunia kita dan dunia mereka.”
Hening.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan suara tikus pun seakan takut untuk bersuara.
“Dan dia akan selalu menemuimu,” kata ayah.
“Di mana pun kamu pindah.”
Kalimat itu menggema seperti palu yang menghancurkan segala pertahananku.
Malam itu, aku sadar:
aku bukan sedang dihantui. Aku sedang dipanggil pulang.
Aku tidak ingat kejadian itu sebagai anak kecil, tapi setelah semua teror terjadi dan ibuku akhirnya bercerita, potongan-potongan memorinya datang tajam seperti serpihan kaca.
Aku lahir di rumah itu, rumah pertama kami. Rumah yang seharusnya menjadi tempat kebahagiaan baru bukan undangan dari dunia lain, di belakang rumah, ada sumur tua.
Bersambung….
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















