sumber ilustrasi: liputan6.com

oleh: Alfahrizal*

Dunia yang kita tempati ini memang kompleks dengan berbagai entitas dan wujud yang ada. Mulai dari kompleksitas yang general, hingga hal-hal subjektif dan terperinci dalam pribadi insannya.

Perbedaan etnis dan budaya yang dapat ditemui di berbagai wilayah yang terhampar di atas bumi yang luas, hingga perbedaan prilaku dan cara berpikir setiap individu manusia. Tidak ada yang benar-benar sama persis. Semua yang kita lihat dan rasakan, berbeda.

Ini semua merupakan anugerah Tuhan yang dilimpahkan untuk kita semua. Perbedaan sekelumit itu merupakan manifestasi keindahan hidup jika manusia dapat menyadari dan mengerti.

Akan tetapi, problem utama kita adalah manusia yang seringkali melupakan begitu saja manifes Tuhan tersebut sebab sifat kebinatangan manusia itu sendiri. Keserakahan, keangkuhan, merasa paling mulia, paling benar, serta hanya melihat dan fokus pada kelompoknya sendiri, seakan-akan buta bahwa dia juga hidup bergandengan dengan kelompok manusia lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sikap seperti ini, memang tidak bisa dipungkiri terdapat di setiap persona manusia. Akan tetapi perlu juga disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri, tidak hanya kelompoknya saja yang mewarnai dunia, serta perlu juga diingat bahwa kita sama-sama manusia yang hidup di atas bumi yang sama. Sehingga sikap-sikap dan pemikiran bahwa akulah yang benar, kelompokku sajalah yang berkiprah, dapat dipendam karena kesadaran murni tentang manusia seutuhnya.

Pemikiran-pemikiran di atas itu muncul ketika komunitasnya terpandang besar dan banyak mewarnai kehidupan sekitarnya. Maka, saat muncul suatu kelompok kecil yang berbeda secara ideologi dan gerakan dianggap sebagai ancaman. Hanya karena lahir benih baru -yang barangkali membawa perubahan besar dan dapat memajukan kehidupan menjadi lebih baik  itu berbeda, maka tidak dapat ditoleransi dan disambut dengan hangat.

Maka masalah ini sebenarnya adalah minoritas dan mayoritas. Mayoritas merasa dirinya besar, sehingga dengan lantang menginjak minoritas yang belum tentu salah. Hanya karena aktualisasi diri pribadi, bukan berarti yang lain tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal yang sama.

Mari kita ganti posisi. Seandainya kelompok-kelompok mapan tersebut berganti posisi menjadi minoritas, dan merasakan berbagai kecaman dari kelompok besar. Hal yang sama juga akan mereka rasakan tentunya. Barangkali mereka akan merintih untuk dikasihani karena mental petarungnya yang masih belum terbentuk.

Maka perlu disadari oleh kita bersama, bahwa saya dan anda sama-sama manusia. Kita tidak hidup berbentuk “kami”, tapi hidup sebagai “kita”. Perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa dipungkiri. Maka dalam menyikapi perbedaan, harus menjadi kesadaran semua kelompok bahwa kita semua adalah manusia. Maka junjunglah tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

SebelumnyaMensyukuri Musibah, Teknik Menyeimbangkan Mental ala Qur’an
BerikutnyaKisah Murid yang Alim Diseret ke Neraka, Apa Penyebabnya?