Khofifah: Bakti Nyai Aisyah Hamid Baidlowi Luar Biasa

487
KH Salahuddin Wahid, H. Umar Wahid, Ibu Nyai Faridah, KH Abdul Hakim Mahfudz, dan Khofifah Indar Parawansa saat mengikuti prosesi pemakaman Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi di makam keluarga Pesantren Madrasatul Quran pada Kamis (09/03/2018) siang. (Foto: Kopi Ireng).

Tebuireng.online— Suasana duka menyelimuti Pesantren Tebuireng pada Jumat (09/03/2018) Santri, kerabat, dan sahabat mengantarkan jenazah Almarhumah Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi menuju perisitirahatan terakhir. Putri kedua KH. Abdul Wahid Hasyim itu, dikebumikan di komplek Maqbarah Masyayikh Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng usai shalat Jumat.

Dalam kesempatan sambutan atas nama Ketua Umum Muslimat NU, organisasi tempat Nyai Aisyah berkhidmat, khususnya saat menjadi Ketum pada 1995-2000, Khofifah Indar Parawansa menyebutkan Almarhumah telah memberikan jasa yang begitu besar pada Muslimat NU.

Menurut Khofifah, Almarhumah merupakan pribadi yang luar biasa. “Selama hidup membaktikan dirinya untuk kegiatan sosial keagamaan yang luar biasa di Muslimat NU,” ungkapnya dengan sesekali mengusap air mata dengan tisu.

Sebulan lalu, lanjutnya, Nyai Aisyah telah memberinya amanat untuk menggantikannya sebagai Ketua Dewan Pembina yayasan panti asuhan yang selama ini dipimpinnya. “Beliau merintis panti asuhan, jariyahnya beliau banyak. Mudah-mudahan bimbingan beliau selama ini menjadi keteladanan bagi kami,” ungkap mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur tersebut.

Khofifah mengungkapkan, di usianya yang sudah udzhur, Almarhumah masih giat berkhidmat dengan mengomandani 144 panti asuhan, merintis 9800 lebih Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, Taman Kanak-kanak, hingga Raudlatul Athfal atau RA.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Demikian pula sebagai perintis Yayasan Haji Muslimat, juga Induk Koperasi An-Nisa,” ujarnya. Oleh karena itu, tak salah jika ia menyebut bahwa lembaga-lembaga di Muslimat NU, banyak yang dirintis oleh adik Gus Dur tersebut

Bahkan, lanjutnya, komitmen dan tanggung jawab Nyai Aisyah juga dibuktikan sampai seminggu sebelum wafat dengan memimpin rapat 5 yayasan sekaligus. “Sejak jam 10 pagi hingga 5 sore, beliau memimpin rapat di Muslimat NU,” jelasnya.

Khofifah juga mengenang mantan anggotaDPR RI dari Partai Golkar tersebut, sebagai sosok yang sangat teliti dan rinci. “Sosok yang penuh tanggung jawab, berpandangan sangat tajam, teliti dan kritis,” terangnya. Menurutnya, sosok yang demikian tersebut, susah dicari di zaman sekarang.

Pengasuh Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, KH Abdul Hadi Yusuf menyampaikan ungkapan terima kasih kepada pelayat yang hadir dan mengantar dan mendoakan Almarhumah. Tak lupa beliau juga meminta keikhlasan para pelayat agar memaafkan segala kesalahan Almarhumah dan memohon kesaksian bahwa beliau adalah orang yang baik. “Mohon maaf atas kesalahan-kesalahan Almarhumah,” katanya.

Selain itu, putra KH. Yusuf Masyhar tersebut juga mengajak para pelayat dan juga warga sekitar Tebuireng untuk mengikuti tahlilan ba’da Isya malam nanti di Pesantren Madrasatul Qur’an sampai tujuh hari berturut-turut.

Nyai Hj. Aisyah meninggal dunia pada Kamis (08/03/2018) di Rumah Sakit Mayapada. Sekitar pukul 10.30 WIB pada Jumat (09/03/2018) pagi jenazah putri KH. A. Wahid Hasyim itu, tiba di Pesantren Tebuireng. Kedatangan jenazah diterima oleh keluarga Pesantren Tebuireng untuk dishalati dan dimakamkan. Jenazah langsung dibawa ke dalam masjid untuk dishalatkan oleh para santri dan Pengurus Pesantren Tebuireng. Selepas pelaksanaan Sholat Jum’at, jenazah dishalatkan kembali oleh para jamaah Shalat Jumat.

Tak lama kemudian, Jenazah di antar menuju Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng untuk dishalatkan oleh para santri yang sudah menunggu kedatangan mantan anggota DPR RI sejak tahun 1997-2009 itu. Shalat di Masjid MQ dipimpin oleh KH. A. Syakir Ridwan.

Selepas itu, jenazah dibopong menuju peristirahatan terakhirnya di makam keluarga Pesantren Madrasatul Qur’an. Tampak di sekitar makam, keluarga besar Almarhumah, beberapa Kiai, dan tokoh-tokoh penting, di antaranya ada adik-adik beliau, KH. Salahuddin Wahid, H. Umar Wahid, dan Hj. Khadijah Wahid (Lily Wahid).

Selain itu ada juga KH Taufiqurrahman, KH Junaidi Hidayat, KH. Abdul Hakim Mahfudz, Gus Ipang Wahid, KH. A. Muwaffiq, Khofifah Indar Parawansa yang hadir menyampaikan rasa duka cita dan mengikuti prosesi pemakaman.


Pewarta:            Rizky Hanivan

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin