
Selepas perkuliahan di Ma’had Aly, penulis seperti biasanya mendampingi Kiai Muthohharun Afif membawakan kitab/barang yang diperlukan kiai ketika mengaji menuju idarah. Tak jarang, penulis berbincang dengan Kiai Muthohharun sembari menunggu azan Maghrib, karena kebetulan waktu mata kuliah beliau dimulai selepas asar. Dari obrolan-obrolan ringan itulah cerita-cerita masa muda beliau muncul.
Pada zamannya, santri-santri Kiai Idris Kamali dikenal keras terhadap dirinya sendiri. Hidup mereka diisi musyawarah, mutola’ah, dan puasa; sementara Qur’an mereka tuntaskan dalam sepekan dengan metode fami bisyauqin. Bagi mereka, menjadi santri bukan sekadar belajar tetapi menempa diri. Musyawarah setiap malam mendiskusikan berbagi genre kitab sudah menjadi kebiasaan yang wajib diikuti oleh seluruh santri binaan Kiai Idris. Dari generasi itulah Kiai Muthohharun tumbuh.
Baca Juga: Kisah Guru Murid: Kiai Idris Kamali dan Kiai Tholchah Hasan
Ada satu kisah yang Kiai Muthohharun ceritakan dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Suatu malam selepas jamaah Isya, Kiai Idris berkeliling di masjid mengecek santrinya: siapa yang mengaji, siapa yang musyawarah, siapa yang kedapatan lalai.
Pada malam itu, Kiai Muthohharun muda tidak terlihat. Ia bersama dua sahabatnya; Kiai Rozaq Kediri dan seorang santri dari Jawa Tengah sedang mengikuti pengajian Kiai Ishaq Lathif, larut dalam nahwu dan syarah kitab.
Hari pertama, absen mereka luput. Hari kedua pun masih senyap. Namun hari ketiga, ketika Kiai Muthohharun hendak sowan mengaji, Kiai Idris mengusir mereka bertiga begitu saja.
“Wis, metu sek!” ujar beliau. Tegas, tanpa basa-basi.
Tentu saja tiga santri itu kaget, tapi mereka tidak membantah.
Tak lama dari kejadian tersebut, ketiganya sowan ke kamar sang guru. Dengan suara pelan namun penuh hormat, mereka mengetuk pintu sang Kiai yang jadi saksi banyak adab ditanamkan.
“Assalamu’alaikum, Kiai,”
Belum benar-benar masuk, teguran sudah menjemput mereka. “Kowe ki piye? Aku ora nglarang kowe ngaji karo wong liya. Tapi sing wis tak putuske kudu dilakoni.”
Baca Juga: Keistikamahan dan Kedisiplinan KH. Idris Kamali dalam Mengajar
Makna ucapan itu sederhana, tapi dalam: ilmu boleh dari siapa saja, namun adab dan aturan guru tetap dijunjung.
Menurut keyakinan Kiai Muthohharun, kemarahan Yai Idris lahir bukan soal iri, bukan pula soal larangan. Hanya urusan adab dan adab di pesantren yang selalu dijaga ketat.
Setelah teguran selesai, Kiai Idris mengeluarkan secarik kertas dari bukunya. “Tulis jenengmu. Tanda tangan. Sing manut musyawarah.”
Tiga santri itu menuliskan nama dan membubuhkan tanda tangan.
Yang membuat Kiai Muthohharun muda heran sekaligus kagum adalah apa yang terjadi setelahnya. Begitu buku ditutup, Kiai Idris mengambil jajan dan mulai bergurau. Suasana mendadak cair, seakan marah tadi hanyalah embusan angin yang lewat.
Teguran itu menunjukkan bahwa disiplin belajar dan musyawarah merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan Kiai Idris. Bahkan ketika menegur, yang dipertahankan adalah adab, bukan emosi.
Kerinduan yang Tak Tertahankan
Kiai Idris kerap berkata, “Isun lair ning Makkah, pinginna mati ya ning Makkah.” Kalimat itu bukan sekadar keinginan, melainkan seperti wasiat yang diucapkan kepada dirinya sendiri. Pada tahun 1973, keinginan itu akhirnya mengantarkan langkahnya pulang ke kota kelahiran. Berita kepulangan itu menyusup ke hati para muridnya, menimbulkan rindu yang tak mereka tahu bagaimana menebusnya.
Di antara mereka, Kiai Muthohharun adalah murid yang belajar paling lama kepada Kiai Idris Kamali. Sejak lulus Aliyah pada tahun 1968 hingga keberangkatan sang guru, ia nyaris tidak pernah beranjak jauh dari tempat Kiai Idris menanamkan ilmunya.
Baca Juga: Kisah Yai Idris hingga Gus Sholah Soal Cinta Lingkungan
Kerinduan yang meronta-ronta membuat Kiai Muthohharun muda bersama dua sahabatnya menyusul ke Makkah. Dengan berbekal surat izin di tangan, tercatat tiga nama yang berangkat: seorang santri dari Madura, Kiai Muthohharun, dan Adnan Syarif dari Lumajang. Tak ada alasan lain yang mendorong mereka kecuali rindu dan hormat kepada sang maha guru.
Tidak ada air mata dalam kisah itu—hanya perjalanan yang lahir dari cinta kepada ilmu. Teguran, marah, tawa, dan rindu saling berkelindan, setia mengiringi hubungan guru-murid dalam tradisi pesantren.
Dari cerita itulah penulis mengerti mengapa murid-murid Kiai Idris Kamali kemudian hari menjadi orang-orang alim, bermanfaat, dan memiliki pandangan yang kritis. Semua itu lahir dari didikan Kiai Idris yang tak pernah mengenal lelah, disiplin yang kuat, serta tirakat yang menjadi napas hidupnya.
Penulis: Muhammad Fatkhun Ni’am, Mahasantri M2 Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng
Editor: Rara Zarary


















