
Pengajian Sahihain di Tebuireng bukan hanya tentang membaca kitab hadis. Ia adalah tentang menjaga sanad, merawat warisan ilmu, dan memastikan mata rantai keilmuan Islam tetap tersambung dari generasi ke generasi.
Setiap Ramadan tiba, suasana Pesantren Tebuireng tidak hanya dipenuhi lantunan Al-Qur’an, tetapi juga pembacaan dua kitab hadis paling otoritatif dalam Islam: Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Tradisi ini bukan hal baru. Ia sudah dimulai sejak pesantren ini berdiri, diampu langsung oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Baca Juga: Gus Kikin Tegaskan Komitmen Tebuireng Jaga Tradisi Ngaji Shahih Bukhari-Muslim
Sejak awal, Hadratussyaikh menjadikan pengajian Sahihain sebagai agenda penting. Tahun pertama yang dikaji adalah Sahih al-Bukhari, lalu tahun berikutnya Sahih Muslim. Bukan sekadar membaca, tetapi benar-benar mengkaji, menyimak, dan meneguhkan sanad. Bahkan guru beliau sendiri, KH. Kholil Bangkalan, disebut hadir dalam majelis tersebut. Ini menunjukkan betapa kuatnya otoritas keilmuan beliau di bidang hadis. Pembacaan Ṣaḥīḥayn (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim) dilaksanakan sejak tanggal 15 Sya’ban hingga 20 Ramadan di masjid pusat Pesantren Tebuireng.
Sanad hadis Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari juga memiliki banyak sekali sumber. Hal ini menunjukkan bahwa beliau belajar dan mengkaji hadis dari sejumlah guru yang kompeten. Untuk sanad Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, beliau memperoleh ijazah dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Syu’aib bin Abdurrahman ad-Dakazī, dan Syekh Nawawi al-Bantani. Adapun sanad Ṣaḥīḥ Muslim, beliau menerimanya dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi dan Sayyid Husain al-Habsyi.
Sanad-sanad tersebut diperoleh melalui metode qirā’ah, yakni beliau membaca di hadapan guru dan guru menyimak bacaannya. Dengan metode ini, beliau mendapatkan legalitas (ijazah) untuk meriwayatkan, mengajarkan hadis, serta menyebarkan sanadnya kepada para murid. Semua ini semakin menegaskan bahwa Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama yang benar-benar memiliki otoritas dalam bidang hadis.[1]
Baca Juga: Kiai Abdul Aziz Sukarto Pimpin Ngaji Shahih Bukhari Bersama Pengurus RMI PBNU di Tebuireng
Meskipun pada masanya beliau bukan satu-satunya ulama yang mengambil hadis dari Syekh Mahfudz at-Tarmasi, keberadaan banyak jalur sanad yang beliau miliki membuat posisinya sangat menonjol. Memang terdapat sanad lain dari Kaliwungu, Kendal, tetapi banyak kiai di Jawa justru mengambil sanad (ijazah) Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim melalui beliau. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa sejumlah ulama besar seperti Kiai Abdul Karim Lirboyo, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, dan Kiai Khudori Tegalrejo datang menuntut ilmu hadis kepada beliau di Tebuireng. Mereka belajar langsung kepada Hadratussyaikh karena reputasinya yang masyhur sebagai ahli hadis, sehingga Tebuireng pun dikenal sebagai salah satu pusat transmisi sanad Ṣaḥīḥayn di Nusantara.[2]
Tradisi pembacaan Ṣaḥīḥayn di Pesantren Tebuireng ini tidak pernah terputus dan terus dijaga oleh para penerusnya. Estafet pengajian kemudian dilanjutkan oleh putra dan murid-murid beliau, seperti KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Idris Kamali, KH. Baidhowi Asro, KH. Syansuri Badawi, Gus Ishomuddin, KH. Habib Ahmad, serta KH. Kamuli Khudlori. Kini, tradisi pembacaan tersebut tetap berlangsung dan berada di bawah asuhan KH. Abdul Aziz Sokarto Faqih, sebagai bentuk kesinambungan sanad keilmuan yang terus terjaga dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Menjaga Warisan Hadratussyaikh Melalui Pengajian Shahih Bukhari-Muslim
Pada akhirnya, pengajian Sahihain di Tebuireng bukan hanya tentang membaca kitab hadis. Ia adalah tentang menjaga sanad, merawat warisan ilmu, dan memastikan mata rantai keilmuan Islam tetap tersambung dari generasi ke generasi.
[1] Iqbal Nursyahbani, “KH. Syansuri Badawi’s Method in The Study of Riwayah and Dirayah Hadith at Pesantren Tebuireng,” Nabawi: Journal of Hadith Studies 3, no. 1 (2022), https://doi.org/10.55987/njhs.v3i1.61.
[2] Muhammad Fatkhun Ni’am, PERKEMBANGAN TAḤAMMUL WA AL-ADĀʼ DI PESANTREN TEBUIRENG: Studi Tradisi Pengajian Ṣaḥīḥayn Tahun 2020-2025, Diya al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis, https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/diya/article/view/21412
Penulis: Muhammad Fatkhun Ni’am


















