
Sebagai seorang santri yang cukup lama bertempat tinggal di pesantren, penulis senantiasa menemukan banyak sekali kunjungan tim media, baik dari tingkat lokal, nasional, hingga internasional, berbondong-bondong meliput segala macam kegiatan dan aktivitas para santri di pesantren. Suatu kali kesempatan, penulis bertanya kepada salah satu kru media yang hendak meliput kegiatan kami (santri), “Mengapa kami seringkali diliput, dipotret aktivitas mengaji dan beribadah kami oleh kalian dari kalangan non-pesantren?” Mendengar pertanyaan tersebut, kru media menjawab, “Karena kehidupan kalian cukup menarik, berbeda dengan kehidupan di luar sana,” ungkapnya.
Kunjungan para tim media akan semakin gencar saat memasuki bulan suci Ramadan. Mereka berusaha memotret kehidupan santri yang sedang beribadah puasa. Bagi dunia entertainment, fenomena santri yang berpuasa adalah hal yang unik. Di saat berpuasa, banyak yang memilih untuk mengurangi berbagai kegiatan, justru para santri diisi dengan kegiatan penuh ngaji kitab. Pengajian kitab ini dimulai sejak setelah Subuh hingga menjelang Magrib, bahkan setelah salat Tarawih pun para santri melanjutkan pengajian kitab sesuai dengan kelasnya masing-masing.
Baca Juga: Genealogi Pesantren dan Warisan Kiai
Pengajian kitab Ramadan tersebut biasa disebut dengan “ngaji pasaran” atau “ngaji kilatan”, sebuah konsep pengajian yang mengejar khatam dalam kurun waktu satu bulan. Memotret kegiatan belajar dan mengaji di pesantren selama bulan suci Ramadan memberikan kesan tersendiri bagi kami (santri) sebagai seseorang yang cukup terbatas akses untuk penggunaan internet atau menonton televisi. Sehingga rasa-rasanya ketika wajah kami terdokumentasikan di layar televisi atau di internet, sudah membawa kebahagiaan bagi kami yang tidak bisa kami gambarkan.
Tetapi, ada satu hal yang kami sadari, bahwa segala bentuk kegiatan kami yang dipotret oleh kru media manapun, bertujuan untuk mengeksploitasi kami semata-mata demi menaikkan rating atau viewers dari media tertentu. Kami tidak keberatan akan hal itu, selama potret kegiatan tersebut sesuai dan tidak menimbulkan hal-hal yang buruk bagi citra kami sebagai seorang santri di pondok pesantren. Sekali lagi, kami sangat terbuka kepada siapapun media yang ingin melihat kehidupan kami lebih dekat.
Media & Framing Jahat Terhadap Pesantren
13 Oktober 2025, dunia pesantren, santri, dan kiai dihebohkan dengan sebuah tayangan yang ditampilkan oleh salah satu media nasional, Trans7, melalui program acara Xpose Uncensored, yang menayangkan segmen yang dianggap menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Yang mana pada tayangan tersebut, lebih kepada menyebarkan hal-hal yang berkaitan dengan hoaks dan framing buruk terhadap KH. Anwar Manshur, salah satu kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo. Yang mana KH. Anwar Manshur secara tidak proporsional diberitakan dengan narasi bernada negatif dan bermegah-megahan. Selain itu, beberapa bentuk penghormatan santri kepada guru yang merupakan tradisi lazim di lingkungan pesantren juga dikritik secara kurang bijak.
Baca Juga: Menyikapi Isu Seputar Insiden Pesantren dengan Nalar dan Nurani
Sontak saja, para santri dari seluruh penjuru tanah air merasa tidak terima terhadap penayangan tersebut, bahkan terkesan melecehkan dan melukai hati para santri. Merespons hal tersebut, pihak Trans7 akhirnya buka suara. Mereka mengirimkan surat resmi berisi permintaan maaf yang ditujukan langsung kepada HM. Adibussholeh, pemimpin PP. Putri Hidayatul Mubtadiaat, Pondok Pesantren Lirboyo. Dalam surat bertanggal 14 Oktober 2025 itu, Trans7 mengakui adanya keteledoran dalam proses penayangan dan mengaku menyesal atas dampak yang ditimbulkan.
Jauh sebelum kejadian framing jahat yang dilakukan oleh media nasional terhadap Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, sekurangnya dua kali Pesantren Tebuireng mendapatkan framing buruk juga dari media nasional. Yang pertama oleh media Tempo pada 26 Januari 2022, yang mana media Tempo asal menggunakan foto santri Pesantren Tebuireng untuk salah satu pemberitaannya bahwa ada ratusan pesantren yang terafiliasi dengan jejaring teroris. Penggunaan foto santri Pesantren Tebuireng ini mengejutkan seluruh civitas Pesantren Tebuireng, karena pada akhirnya akan terbentuk opini publik bahwa Pesantren Tebuireng terlibat dengan jejaring terorisme.
Yang kedua, pencomotan bangunan Pondok Putri Pesantren Tebuireng pada 08 Juli 2022, yang digunakan oleh Media Inews untuk pemberitaan mereka tentang pencabulan santri putri di pondok pesantren. Padahal hal tersebut sungguh tidak pernah terjadi di Pondok Putri Pesantren Tebuireng. Menanggapi dua pemberitaan miring tersebut, Pesantren Tebuireng melalui media official-nya yakni Tebuireng Online, melayangkan flyer untuk menuntut take down pemberitaan tersebut, yang justru merugikan Pesantren Tebuireng, hingga akhirnya kedua media tersebut meng-take down berita tersebut dan meminta maaf kepada Pesantren Tebuireng.
Baca Juga: Framing Negatif vs Realita Kehidupan Pesantren
Pemberitaan mengenai pondok pesantren memang senantiasa dapat mengundang reaksi berbagai macam dari masyarakat secara luas. Maka hal itulah yang disadari oleh para pengelola media dan stasiun televisi untuk senantiasa meliput dan memotret dunia santri, kiai, dan pesantren. Dan semua itu semata-mata untuk menaikkan viewers penonton yang berakhir demi kepentingan komersial semata.
Berangkat dari kasus yang menimpa Pondok Pesantren Lirboyo yang mengakibatkan demo dari para alumni dan santri di kantor Trans7, menyadarkan kita bagaimana etika dalam dunia jurnalistik, bahwa ada batasan-batasan tertentu yang bisa dijangkau dan batasan lain yang tidak boleh dijangkau. Di satu sisi juga, pihak pondok pesantren juga memiliki hak untuk membuat regulasi yang berisikan larangan dan batasan-batasan kepada siapapun yang hendak memotret dan mendokumentasikan segala bentuk kegiatan di pondok pesantren.
Penulis: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















