Tebuireng.online– Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang bukan satu-satunya jaminan yang menentukan kesuksesan seorang mahasiswa/mahasantri di masa depan. Namun tidak bisa dipungkiri pula bahwa pencapaian angka menjadi salah satu tolok ukur seseorang berprestasi dalam bidang akademiknya.

Oleh karena itu, peraih IPK tertinggi atau yang biasa disebut cumlaude menjadi bagian yang disorot oleh berbagai kalangan saat momen wisuda.

Hal ini juga dilalui oleh Ahmad Fauzul Adhim, mahasantri asal Madura yang telah berhasil menyandang status cumlaude di Mahad Aly Hasyim Asy’ari dengan predikat mumtaz dibidang Fiqh dan Ushul Fiqh.

Selain menjadi bukti pencapaian dan keberhasilan dalam menempuh studi di perguruan tinggi, memperoleh IPK tertinggi juga memberikan kebahagiaan tersendiri, terutama bagi para orang tua yang selalu mendambakan anaknya sukses dan berprestasi di bangku sekolah/perguruan tinggi.

Dalam hal ini tim tebuireng.online memiliki kesempatan mewawancarai peraih cumlaude Mahad Aly bidang Fiqh dan Ushul Fiqh, yaitu Ahmad Fauzul Adhim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain menjadi mahasantri ia juga merupakan mahasiswa Unhasy sekaligus aktivis dalam pergerakan mahasiswa. Tentu prestasi ini menjadi salah satu bukti bahwa aktivis pun mampu mengimbangi bidang akademiknya. Mari simak wawancara berikut:

Bagaimana tips menjadi mahasantri terbaik atau mendapatkan nilai mumtaz?

Tentunya belajar karena prinsip saya jangan pernah nyari mumtaz atau cumlaude karena apa kalau misalnya kita nyari mumtaz kemudian kita gagal, kecewa-depresi tapi diniatkan saja yang pertama nyari ilmu dan gimana caranya kemudian ilmu itu manfaat.

Jadi mencari ilmu itu nggak pilih-pilih orang dan nggak pilih-pilih tempat. Kan ada orang yang merasa pintar dan tidak mau belajar sama dengan yang lain, maka jangan seperti itu karena sebenarnya kita harus pro gengsi, gengsi untuk belajar.

Kalau misalnya ada teman yang pintar dan saya tidak mampu, di situ saya datangi orang itu kemudian bergaulah dengan orang tersebut dan nanti InsyaAllah meskipun tidak sepintar dia tapi kita terjembatani.

Intinya  jangan nyari mumtaz atau cumlaude kalau di tanya tips ya itu, jangan gengsi untuk belajar sama siapapun itu, kan ada semisalnya gengsi sama adik kelas, kakak kelas atau sama dosen karena sungkan.

Tapi yang paling  parah dan kebanyakan itu gengsi belajar sama adik kelas. Kalau memang adik kelas itu lebih mumpuni dari kita ya datangi dia.

Setiap orang memiliki metode yang digunakan semasa belajar, lalu metode apa yang anda gunakan?

Kalau metode belajar saya itu lebih banyak diskusi saja sama teman-teman jadi kalau saya baca satu kitab kadang saya tidak paham, tapi kalau didiskusikan sama teman-teman meskipun itu sedikit materi itu lebih nancep.

Kalau metode khusus saya nggak ada, karena yang sangat  saya  tekankan dari dulu ngobrol sama teman. Berlatih untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh teman kemudian saya berlatih untuk menyampaikan apa yang saya dapatkan waktu itu.

Jadi saya dapat dua, mendengarkan kemudian menjelaskan itu yang menurut  saya rasakan sampai sekarang ilmu yang benar-benar nancep ya kayak gitu dari pada cuma  belajar sendiri, karena jujur kalau cuma belajar di kelas doang itu merasa kurang, oleh karena itu kita nyari di luar kalau di kelas kan yang banyak ngomong presentator atau kemudian nanti ada teman yang paham maka dia yang banyak ngomong atau nanggapi.

Apakah kesibukan di luar jam kuliah seperti jadi pembina, aktivis PMII, pengurus BEM: apakah tidak mengganggu kuliah?

Kalau dibilang mengganggu memang sedikit ada gangguan  pada waktu itu karena fokus keilmuan di Ma’had Aly kemudian fokus keilmuan di PMII khususnya, itu sangatlah berbeda karena kalau di Ma’had Aly fokusnya kitab.

Sedangkan kalau di PMII bukan hanya anak Ma’had Aly tapi dari luar maka kita bertolak belakang keilmuaannya, tapi sekali lagi nggak pernah ada salahnya di situ, karena di Ma’had Aly kita dapat ilmu, di luar juga kita dapat ilmu.

Keuntungannya kita tahu banyak jadi kalau ngomong sama anak Ma’had Aly masih nyambung ketika bicara sama anak luar kita juga nyambung jadi bagaimana caranya kita menyesuaikan sama mereka, jadi kalau bicara kesibukan mengganggu ada juga terganggunya  tapi feedbacknya ke kita lebih banyak.

Apakah stereotip aktivis akan gagal dalam dunia perkuliahan itu benar apa tidak?

Kalau menurut saya tidak mesti aktivis itu gagal dalam dunia perkuliahan. Itu semua kembali pada pribadi masing-masing. Karena kebanyakan yang saya temukan orang yang jadi aktivis salah satunya dijadikan pelarian, yang kedua dijadikan alasan dia kegagalan di kampus, kebanyakan seperti itu. Karena kalau memang niatnya nyari ilmu kesibukan seperti apapun keinginannya pasti tercapai.

Selain kesibukan menjadi wakil BEM di Ma’had Aly dan pengurus cabang, anda juga admin galeri_maha, apakah tidak terganggu dan bagaimana membagi waktu?

Kalau bilang mengganggu malah itu salah satu yang mendukung saya karena dulu di program galeri_maha ada quites dosen atau quotes kiai jadi bagaimana setiap hari harus dapat quotes dosen atau kiai karena pada waktu itu kita kuliah.

Maka mau tidak mau kita harus mendengarkan dan nyimak bener-benar apa yang disampaikan dosen. Jadi yang pertama menulis di  buku kemudian mulai mengedit.

Dari mengedit di situ ada banyak pengulangan tidak langsung jadi, oleh karena itu apa yang disampaikan lebih menempel.

Jadi itu bukan malah membuat saya terganggu malah sangat membantu karena belajarnya berkali-kali dan bisa dijadikan bahan untuk terjun ke masyarakat menyampaikan apa yang telah di dapat dalam proses itu. 

Sebagai mahasantri yang mendapat nilai mutaz (cumlaude)  pesan apa yang bisa disampaikan buat para mahasantri yang masih berproses di Ma’had Aly?

Yang paling utama yaitu belajar jangan mikir cumlaude kalau masalah camlaude itu bonus. Harus lebih dari saya, banyak membaca lebih-lebih banyak berdiskusi.

Jangan pernah gengsi untuk terus belajar sama siapapun entah itu lebih tua dari kita atau lebih muda  karena ilmu itu didatangi bukan Ilmu yang mendatangi kita atau datang dengan sendirinya (al ilmu yu’ta wala yu’ti). 

Biodata

  • Nama lengkap: Ahmad Fauzul Adhim
  • TTL: Sumenep, 26 Februari 1998
  • Alamat: Sumenep, Madura

Riwayat pendidikan:     

  • MI. Tarbiyatul Athfal     
  • MTs. Nurul Islam     
  • MA. Nurul Islam     
  • Ma’had Aly Hasyim Asy’ari     
  • Universitas Hasyim Asy’ari

Riwayat organisasi:     

  • Pengurus OSIS MTs. Nurul Islam   
  • Sekretaris OSIS MA. Nurul Islam   
  • PengurusDewan Kerja Cabang (DKC) Kwarcab Sumenep     
  • Wakil Presiden BEM Ma’had Aly     
  • Ketua DPM Ma’had Aly       
  • PCPMII Jombang     
  • Admin @galeri_maha     
  • PR 2016/2017     
  • PK 2017/2018     
  • PC 2018/2019

Pewarta: Dimas Setyawan

SebelumnyaHal yang Tidak Diketahui Manusia
BerikutnyaLuar Biasa! Sibuk Urus Ratusan Santri, Perempuan Ini Jadi Lulusan Terbaik