Oleh: Nur Indah*

Kemajuan dan keterbelakangan suatu negara akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat pendidikan warga negaranya. Bahkan, peradaban dan kebudayaan umat manusia tidak akan pernah muncul tanpa ada lembaga yang mengarahkan manusia. Maka pendidikanlah yang membangun daya dan pengetahuan tersebut dalam jiwa.[1]

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, semakin teknologi berkembang, semakin pula seseorang, terutama murid jiwanya kering dari nilai-nilai spiritual. Kenyataannya, murid tidak lagi memiliki rasa khidmat dan patuh kepada gurunya. Al-Quran banyak sekali mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang di beberapa tempat dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di dalam al-Quran juga terdapat berbagai pesan-pesan yang terkandung di dalamnya yakni mengenai cerita-cerita atau kisah. Di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah) serta mauizah hasanah (nasihat-nasihat yang baik).

Berbicara tentang pendidikan, teringat pada salah satu kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang diabadiakan di dalam al-Quran pada surat Al-Kahfi ayat 66-82, di sana diceritakan bahwasanya Nabi Musa sebagai seorang murid dari dari salah satu nabi yakni Nabi Khidir. Sosok Nabi Khidir as.merupakan sosok Nabi yang sangat misterius, yang dianugerahi Allah beragam keistimewaan dan kecerdasan yang unik, yang tidak dipunyai oleh orang lain, ajaran beliau berupa ajaran ilmu hakikat. Itu merupakan salah satu contoh pendidikan yang bisa diteladani, dari komunikasi dan sikap seorang guru.

Suatu kegiatan pembelajaran yang baik dan memiliki sifat interaktif, hal itu dapat terlaksana bukan disebabkan karena ditentukan melalui sarana dan prasarana yang memadai, akan tetapi keberhasilan itu dapat tercapai karena keberhasilan seorang guru dapat mengaplikasikan kegiatan interaksi yang baik antara dirinya (guru) dan murid. Di sini tugas pokok seorang guru dituntut untuk lebih intens dalam menjalin komunikasi dan relasi yang baik, sehingga dengan terjalinya komunikasi dan relasi yang baik tersebut dapat menguntungkan bagi peserta didik dan pada akhirnya proses transfer value (transfer nilai) dan transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dibutuhkan elemen-elemen penunjang keberhasilan peserta didik. Ada 2 faktor dalam menentukan apakah proses pembelajaran tersebut berhasil atau tidak dalam membangun karakter peserta didik, yang pertama adalah faktor internal dan yang kedua adalah faktor eksternal, untuk faktor internal penunjang keberhasilan peserta didik  adalah sebagai berikut :

Sikap terhadap belajar merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian, adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak atau mengabaikan.

Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinyaproses belajar, motivasi dalam diri siswa dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi atau tidaknya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Oleh karena itu motivasi belajar dalam diri siswa perlu diperkuat terus menerus

Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.

Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siwa.

Terkait dengan proses pembelajaran yang efektif , Yusuf Hadi Miarso (1993) mengemukakan pendapatnya, menurutnya pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat menghasilkan belajar yang bermanfaat dan terfokus pada siswa (student centered) melalui penggunaan prosedur yang tepat. Dalam definisi tersebut mengandung arti bahwa pembelajaran yang efektif terdapat dua hal penting, yaitu terjadinya belajar pada siswa dan apa yang dilakukan oleh guru untuk membelajarkan siswanya.


[1] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi(Yogyakarta:Zanafa Publishing,2012) Cet ke 2, hal.v


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari