
Kajian Al-Qanun Al-Asasi yang disampaikan oleh Ustadz M. Rizky Syahrul Ramadhan yang membahas mengenai beragama itu soal fondasi hati dan cara merespons hidup, bukan hanya soal tampilan luar saja. Sejak awal kajian, beliau menekankan bahwa banyak masalah keislaman hari ini bukan karena umat yang kurang tahu dalil, tetapi karena cara memahaminya dan menjalani agama sering kali kehilangan ruhnya.
Dalam forum kajian, Ustadz Syahrul banyak membahas tentang hubungan antara iman dan sikap sehari-hari. Beliau menjelaskan bahwa iman yang benar seharusnya kelihatan dari cara seseorang bersikap, bagaimana cara ia sabar, jujur, dan menahan diri. Kalau iman hanya berhenti di lisan atau status sosial, tetapi tidak mempengaruhi pada akhlak, berarti ada yang belum beres. Agama, menurut beliau, bukan sekadar identitas, tapi proses dalam membentuk karakter manusia.
Baca Juga: Menata Ulang Fondasi Beragama di Tengah Riuh Perdebatan
Beliau juga menyinggung soal ujian hidup. Menurutnya, banyak orang yang masih keliru dalam memaknai ujian sebagai tanda Allah tidak sayang. Padahal, ujian justru menjadi cara Allah dalam mendewasakan hamba-Nya. Di sini, Ustadz Syahrul menekankan bahwa respons seseorang terhadap masalah jauh lebih penting daripada masalah itu sendiri. Orang yang beriman tidak selalu hidup tanpa masalah, tapi ia tahu ke mana harus kembali ketika hidup terasa berat.
Beliau juga mengingatkan soal bahaya merasa paling benar dalam beragama. Ustadz Syahrul menyebut bahwa salah satu penyakit hati yang sering kali muncul adalah merasa amal diri paling lurus, sementara orang lain gampang dinilai salah. Padahal, sikap seperti ini justru bertentangan dengan tujuan agama yang ingin melahirkan kerendahan hati. Ilmu dan ibadah yang seharusnya membuat seseorang makin rendah hati, bukan makin merasa di atas.
Pada hari kedua, kajian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai aspek batin. Ustadz Syahrul menyoroti soal niat. Menurut beliau, banyak amal yang secara lahiriah terlihat baik, tetapj nilainya bisa gugur kalau niatnya bergeser. Ibadah bisa berubah jadi ajang pencitraan, dakwah bisa bergeser jadi ajang pembenaran diri, dan kebaikan bisa kehilangan makna jika tidak dijaga keikhlasannya.
Baca Juga: Dari Fondasi Menuju Kedewasaan Beragama
Beliau juga membahas soal konsistensi (istiqamah). Dalam kajian ini ditegaskan bahwa Allah tidak menuntut kesempurnaan, tapi kesungguhan. Amal kecil tapi rutin jauh lebih bernilai daripada semangat besar yang cepat padam. Pesan ini terasa relevan, terutama di tengah budaya yang serba cepat, di mana ada banyak sekali orang semangat di awal tapi mudah lelah di tengah jalan.
Salah satu poin yang cukup ditekankan adalah soal mengelola emosi dan lisan. Ustadz Syahrul mengingatkan bahwa lisan sering kali menjadi sumber masalah, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Kata-kata yang keluar tanpa kontrol bisa melukai orang lain dan merusak amal sendiri. Dalam beragama, menurut beliau, bukan hanya soal apa yang kita yakini, tetapi juga soal bagaimana cara kita dalam menjaga ucapan dan sikap.
Beliau juga mengaitkan materi dengan realitas anak muda hari ini. Tekanan hidup, ekspektasi sosial, dan tuntutan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” sering membuat orang lupa merawat hubungannya dengan Allah. Di sinilah pentingnya kembali ke agama sebagai tempat pulang, bukan sebagai beban. Agama seharusnya menenangkan, bukan menambah sesak.
Baca Juga: Meneguhkan Fondasi Beragama melalui Al-Qanun Al-Asasi
Secara keseluruhan, kajian dua hari ini terasa membumi dan relevan. Ustadz M. Rizky Syahrul Ramadhan tidak membawa kita ke pembahasan yang rumit, tapi justru mengajak kita untuk jujur melihat diri sendiri. Pesan yang terus diulang adalah bahwa agama bukan soal terlihat yang paling saleh, tetapi soal terus memperbaiki diri, sedikit demi sedikit.
Kajian ini menjadi pengingat pada kita, bahwa menjadi muslim bukan berarti hidup tanpa salah, melainkan punya kesadaran untuk terus belajar, memperbaiki niat, dan menjaga sikap.
Pereview: Amelia (Mahasiswa Magang, UIN Surabaya)


















