Bab Dewasa yang Datang Dipaksakan

42
Sebuah ilustrasi realitas kehidupan (ai/ra)

Selamat ya sudah lulus, selamat ya sudah nikah, selamat ya sudah kerja, selamat ya sudah punya anak…. Eh kamu kapan lulus?, belum punya pacar ya, kapan mau nikah kalau begitu, memang sekarang kerja di mana?

Huft, aku sering menghela napas ketika mendengar kalimat pertanyaan paling dasar untuk manusia. Aku juga sering berpikir, bisa tidak kalau pertanyaannya diganti dengan pertanyaan yang lebih sopan, seperti gimana kamu sekarang, sehat? Atau yang lebih halus, gimana nih pencapaian tahun ini sudah sampai mana?

Hidup di masyarakat itu seperti beban moral tersendiri, apalagi aku yang hidupnya di desa. Oh iya, namaku Shella, remaja asal Bohara yang tengah menimba ilmu di universitas kota. Sebagai pelajar, makin ke sini aku makin paham dan makin melek akan kasus sosial di lingkup masyarakat desa sepertiku. Aku mencoba mempelajari itu bersama dengan beberapa temanku yang tergabung dalam kelompok sosial kampus.

Dari awal, misi kelompok kami adalah membantu membuka wawasan dunia untuk masyarakat desa, bahwa hidup itu bukan hanya tentang lahir, dewasa, kerja, nikah, punya anak. Memang tidak dipungkiri, kami sebagai pelajar juga menginginkan hal itu, tetapi ada langkah lain yang juga harus kita perhatikan untuk keberlangsungan hidup.

Kelompok kami baru terbentuk saat kami semester dua, dan sekarang kami sudah semester lima. Bisa dibayangkan kelompok yang masih newbie harus bergelut dengan pola pikir orang awam. Awal kami mencoba pendekatan dengan masyarakat adalah dengan mengadakan workshop kecil-kecilan di satu desa. Kami paham bahwa di desa hal seperti workshop masih terasa tabu untuk diikuti, makanya kami mengemas undangannya seperti undangan yasinan biasa.

Hari itu workshop untuk bapak-bapak. Pembahasan yang akan kami angkat adalah persoalan menikah muda, karena kami sudah berdiskusi bahwa peran kepala rumah tangga sangatlah penting. Dari 70 undangan yang kami sebar, hanya ada 40 orang yang hadir. Ya Alhamdulillah, lebih dari 50 persen mau hadir.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Acara dimulai. Kali ini ketua kelompok kami, Hamka, yang memberi materi kepada bapak-bapak. Awalnya lancar-lancar saja, namun di tengah-tengah ada celetukan salah satu undangan yang membuat suasana gaduh.

“Tau apa kamu, Nak, soal nikah menikahkan? Usiamu saja baru seumur jagung,” ucap salah satu bapak yang duduk di belakang.

“Baik, Pak. Kami memang belum sampai di situ, namun kami sudah melakukan beberapa penelitian dan survei langsung kepada yang bersangkutan di beberapa desa, serta melihat angka kelahiran yang sangat tinggi dari ibu yang masih di bawah umur,” jelas temanku.

“Terus apa masalahnya? Di desa kami aman-aman saja. Anak saya nikah umur 16 dan sekarang umur 17 sudah punya anak, sehat-sehat saja,” imbuh bapak tadi.

“Benar, Pak. Sekarang bapak bisa melihat seperti itu. Lima tahun lagi? Sepuluh tahun lagi? Apakah ada jaminan untuk anak bapak? Anak bapak tidak selamanya akan mempunyai orang tua, dan bapak harus mau memikirkan itu,” tegas Hamka.

“Maksud kamu nyumpahin saya mati?” nada menantang dari bapak itu.

Suasana semakin tegang. Riuh suara semakin pecah. Akhirnya ada dua bapak-bapak yang melerai.

“Bapak-bapak, sudah cukup. Ini adalah penjelasan untuk menambah wawasan kita sebagai kepala rumah tangga. Jangan sampai kita menutup telinga akan fakta yang sudah banyak terjadi,” ucap seorang bapak bertopi.

“Betul, bapak-bapak. Kita kan masyarakat desa. Kalau kita tidak peduli hal seperti ini, mau siapa lagi yang jadi korban di masa depan?” sahut bapak berbaju kotak-kotak.

Aku dan temanku yang perempuan sangat kaget ketika ada kegaduhan ini, dan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti workshop kedua bersama ibu-ibu.

Waktu pengabdian kami tidak lama, hanya lima hari. Tiga hari kami gunakan untuk workshop bersama bapak-bapak, ibu-ibu, dan remaja, meskipun remaja di sini terbilang sedikit.

Malam harinya aku bersiap untuk memberi materi kepada ibu-ibu keesokan hari.

“Kamu bisa, Shella. Kamu kuat,” ucapku dalam hati sambil memegang laptop yang berisi ppt materi.

“Siap-siap, Shel. Besok akan berhadapan langsung dengan ras terkuat di bumi,” ledek temanku.

***

Pagi itu aku datang dengan senyuman sembari menyambut para ibu yang datang. Ternyata tidak hanya ibu-ibu seperti biasanya, ada juga seorang ibu muda yang terbilang di bawah usiaku sedang menggendong anak.

“Pagi, ibu-ibu. Gimana kabarnya hari ini?” sapaku sambil tersenyum.

“Baik,” jawab mereka.

“Hari ini kita tidak akan belajar membuat kerajinan atau apa seperti biasanya. Kita akan belajar bersama dari hati ke hati,” ucapku membuka acara agar semua orang tidak tegang.

“Baik, pertama-tama saya ingin bertanya kepada ibu-ibu. Adakah di sini yang memiliki anak perempuan atau laki-laki?” tanyaku kepada para undangan.

“Saya…”

“Ibu tahu tidak apa cita-cita dari anak ibu?”

“Tidak…”
“Iya…” sahut menyahut dari ibu-ibu.

“Kita sebagai seorang ibu sudah semestinya tahu cita-cita dari anak kita. Kita sebagai ibu juga seharusnya dekat dengan anak kita, dekat secara emosional.”

Di situ aku menjelaskan apa itu kedekatan emosional dan contohnya. Aku juga menyinggung tentang pernikahan dini serta dampaknya terhadap masa depan ibu, anak, dan ayahnya. Di tengah-tengah penjelasanku, ada seorang ibu muda yang bertanya.

“Kak, kalau sudah seperti saya sekarang apakah sudah terlambat untuk mencegah semua itu?”

Kaget sih sebenarnya. Mau tak jawab sudah, tapi aku sedang dalam mode mahasiswa yang berpendidikan dan harus bertoleransi tinggi. Jawabannya agak sulit, karena dia bertanya sambil membawa anak. Apa itu tidak disebut keterlambatan?

“Ibu sekarang usianya berapa kalau boleh saya tahu?”

“18.”

Dan benar, usianya di bawahku. Aku sekarang saja masih berjuang kuliah, mencari kerja, dan masih menjadi tanggungan orang tua.

“Oke baik, ibu tadi menanyakan tentang keterlambatan. Sekarang saya tanya, apakah ibu menyesal dengan keadaan ibu sekarang?”

“Menyesal.”

“Ibu menikah karena dorongan orang tua atau memang pilihan sendiri?”

“Terpaksa karena saya hamil duluan.”

Aku kaget. Syok seketika. Di situ ternyata hal seperti hamil duluan dianggap biasa, dan ya Allah sepanjang acara aku hanya bisa menguatkan diri dalam hati.

“Baik, ibu boleh duduk kembali. Jadi seperti penjelasan saya tadi, bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Ibu harus sudah siap mental untuk menghadapi semua itu. Emosinya harus terkontrol, fisiknya harus kuat,” jelasku.

“Seperti kasus dari ibu tadi, saya akan mengatakan tidak ada keterlambatan jika ibu tadi menyadari penyesalannya. Namun perlu digarisbawahi bahwa itu bukan berarti dibenarkan. Jadi saya berharap kepada ibu Siti untuk belajar dari mana saja, bisa membaca website, YouTube, atau buku tentang cara terbaik menjadi orang tua. Saya punya satu buku tentang parenting, nanti saya kasih ke ibu. Semoga bermanfaat,” imbuhku.

“Jadi ibu-ibu, kita juga harus memikirkan kesehatan mental anak-anak kita, baik perempuan maupun laki-laki. Apalagi sekarang sudah ada HP. Jangan pernah menggunakan nada menginterogasi kepada anak. Hal itu membuat anak tidak bisa terbuka kepada orang tuanya. Kita juga harus memikirkan bagaimana masa depan anak-anak tanpa kita nanti.”

Aku juga memberi contoh dampak negatif pernikahan dini, cara mengatasinya, dan sedikit pesan hati ke hati untuk ibu-ibu.

Semoga setelah ada edukasi dari kelompok kami, ibu-ibu di desa itu sadar akan dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini.

Nah, tibalah hari ketiga, workshop bersama remaja. Temanku Neti akan memandu acaranya. Dan kalian tahu yang hadir hanya berapa orang? Hanya 12 orang, delapan perempuan dan empat laki-laki.

Neti menyapa dan memulai materinya. Baru beberapa materi yang disampaikan, ada salah satu anak yang bilang cita-citanya ingin menikah muda.

Kami menjelaskan perbedaan nikah dini dan nikah muda itu apa, serta dampaknya bagi masa depan mereka nanti.

“Tapi di desa ini tidak ada yang kuliah kok. Ngapain kita harus kuliah jauh-jauh?” tanya salah satu remaja.

“Kuliah itu penting, Dek. Kamu bisa tahu dunia luar seperti apa. Kamu bisa punya pengalaman, teman, dan juga hal baru yang tidak ada di desa,” ucap Neti.

“Tapi kan mahal, capek.”

“Oh tidak. Kami kuliah tidak bayar, lo, Dek, karena kami dapat beasiswa. Jadi kami malah diberi uang saku oleh kampus.”

“Ih kok enak bisa begitu.”

“Kalau kamu mau, pasti bisa. Karena masa depan yang cerah adalah kamu sendiri yang menentukan.”

Setelah tiga hari melakukan workshop, kami sadar bahwa SDM di sini masih jauh di bawah rata-rata. Kami prihatin, tetapi kami hanyalah salah satu suara kecil di negeri ini yang hanya mampu menyuarakan kebenaran lewat desa-desa kecil.

Hari terakhir kami berusaha mendatangi satu per satu rumah masyarakat yang jumlahnya tak lebih dari 100 rumah. Kami mencoba meyakinkan hati mereka tentang kebenaran ini. Kami membagi beberapa kelompok agar cepat selesai.

Aku menangis, iya. Karena merasakan masa depan yang entah akan cerah atau tidak. Semoga setelah kemarin kami memberi sedikit motivasi, mereka akan memikirkan nasib anak-anak kelak selain hanya harus menikah. Karena menikah bukan satu-satunya jalan untuk bahagia, apalagi saat usia masih dini.

Dari situ aku berpikir bahwa pertanyaan yang selama ini aku dapatkan ternyata tidak semenyeramkan apa yang aku lihat selama lima hari ini di desa tersebut. Aku bersyukur dikelilingi oleh keluarga dan teman yang open minded tentang hal-hal seperti itu. Semoga suatu saat hal yang sama juga bisa terjadi di desa ini.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary