
Bahu Retak
Bahu ini retak
bukan oleh beban besi
tapi oleh harapan yang tiap hari kau titipkan diam-diam
Ia patah perlahan seperti ranting tua
yang lupa caranya menanggalkan duka di punggungnya
Dulu bahu ini rumah
tempat kau sandarkan tangis dan tawa yang bocor
sekarang ia hanya puing
disemen pakai janji
yang kau lupa lunasi sampai musim berganti
kopi pahit tiap pagi mengejek
katanya aku kuat
padahal remuk
jam kerja memaku tubuhku ke kursi
sementara mimpi kabur lewat jendela yang tak pernah kututup
Tuhan, jika lelah ini dosa
ampuni aku yang masih bertahan
dengan bahu retak
tapi menolak tumbang
sebab ada mulut kecil di rumah
yang menunggu pulang
Titik Nol
Aku berdiri di titik nol
tempat angka berhenti
dan napas tak lagi punya utang
di sini waktu jadi batu
duduk di pojok kamar sambil menghitung retak di dinding
kantongku kosong seperti masjid habis Subuh
tapi doa masih penuh sesak di dada
harapan yang dulu lari kencang
kini tidur di trotoar
berselimut koran bekas
dompet menangis tanpa suara
tagihan datang seperti tamu tak diundang
tapi aku masih di sini
hampa tanpa mahkota
menata ulang puing mimpi yang berserak
Tuhan, jika ini dasar jurang
biarkan aku meminjam tangga dari sujud Mu
sebab dari titik nol
semua arah adalah jalan pulang
Jeda Tahajud
Aku jeda di sepertiga malam
saat jam dinding lelah berdetak
dan dunia tidur pulas
sajadah ini jadi dermaga
tempat air mata berlabuh tanpa ditanya siapa nahkodanya
lelah siang menumpuk seperti debu di rak
tapi tahajud menyapunya pelan
bahu yang retak kemarin sore
kini ditambal Tuhan pakai kalam yang Kau suarakan
doa naik seperti asap kopi
hangat, menguap, sampai ke langit yang tak beratap
di sini aku bukan siapa-siapa
hanya hamba yang menukar letih dengan tunduk
jeda ini bukan kalah
ini cara langit memeluk bumi
yang hampir roboh
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















