sumber ilustrasi: google.com

Oleh: Dian Bagus*

Apakah kamu sebaik sebagaimana yang kamu pikirkan? Seberapa kompetenkah kamu dalam sebuah keahlian? Seperti apakah penilaian kamu selama ini atas kehidupan kamu sendiri?

Mungkin pertanyaan di atas kamu anggap hanya tabu belaka, namun pernah kamu sadari, hal ini merupakan sebuah bias kognitif yang membuat orang bodoh seringkali mengaggap dirinya paling pintar.

Orang-orang yang tidak kompeten merasa dirinya paling kompeten dibanding orang lain. Ini bukan hanya sekedar masalah harga diri, namun juga bisa merusak diri sendiri dan bahkan mungkin bisa merugikan pihak lain.

Saya akan coba menjelaskan bagaimana fenomena ini terlalu sering kita temui dalam masyarakat, masalah yang ditimbulkannya serta bagaimana cara kita untuk menghindarinya, atau juga mengatasinya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Berdasarkan riset di dunia psikologi menunjukan bahwa kita memiliki keterbatasan dalam menilai diri sendiri secara pasti. Buktinya, ternyata kita sering melebih-lebihkan kemampuan diri sendiri dalam sebuah bidang atau banyak bidang.

Ahli psikologi sosial, David Dunning dan Justin Kruger menyebutnya efek dunning-kruger. Efek ini membuktikan bahwa banyak orang memperlihatkan superioritas ilusif. Bahwa orang-orang yang tidak memiliki kompetensi kerap mengukurnya secara berlebihan. Atau dalam bahasa lain “orang bodoh ternyata memang kelewat sering merasa dirinya pintar”.

Sebuah bias yang berkaitan dengan ketidakmampuan metakognitif untuk mengenali kemampuan diri sendiri. Tapi mengapa demikian…?

Pertama, mereka membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang keliru. Kedua, rentetan kesalahan yang sama menghambat mereka paham akan kelalaian, dengan kata lain: tingkat kepercayaan diri yang exaggreating, dan terlalu banyak bidang yang dilakukan tanpa satupun yang kompeten.

Bayangkan seseorang menghabiskan satu-dua jam mempelajari cara jitu menjadi penulis, melalui video maupun artikel-artikel. Ia akan merasa begitu percaya diri karena sebelumnya ia tidak mengetahui subjek tersebut.

Namun setelah ia mengetahui sedikit dan mendapatkan moment “Yaahhnya”, ia akan mengaggap telah mengetahui semuanya, sama seperti mereka yang telah menghabiskan tahunan untuk belajar dan mengasah dalam penulisan.

Sialnya, saat ia memutuskan untuk berhenti di sana karena telah mengetahui banyak hal maka ia telah mengalami efek dunning-kruger yakni kesalahan persepsi diri saat menilai kompetensinya.

Bagi yang tidak kompeten, mereka tidak mampu mengintropeksi diri. Sementara yang sangat kompeten, mereka tidak tahu betapa luar biasa kemampuannya.

Padahal, jika proses belajar diteruskan. Kepercayaan diri seseorang akan menurun seiring waktu dan seiring apa yang dipelajarinya. Sebab, semakin banyak hal yang dipelajari, semakin seseorang merasa bahwa dirinya ternyata tidak mengetahui apa-apa. Barangkali pas dengan istilah “Bagaikan padi, semakin berisi semakin merunduk”.

Barulah setelah proses belajar itu berlanjut dan terus berlanjut, tingkat kepercayaan diri seseorang akan mencapai apa yang ia ingin capai. Tentu dengan terus menerus mengasah kompentensinya.

Dalam keseharian kita, efek dunning-kruger dapat ditemukan dimana-mana sebaliknya kita sendiri juga mungkin sering melakukannya. Dalam kadar tertentu mungkin itu hal yang normal karena kepercayaan diri merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan sebagai manusia.

Tapi masalahnya, sebagai sebuah bias kognitif efek dunning-kruger dapat mencipatakan hal-hal yang sangat merugikan, saat ia secara tidak disadari menjangkiti masyarakat dan kehidupan kita. Akhirnya muncul: guru-guru gadungan, intelektual-intelektual karbitan yang sayangnya kerap mendapat dukungan yang berlebihan. Sebab “Tong kosong nyaring bunyinya”.

Sama seperti apa yang dikatakan Imam Ghazali tentang jenis manusia yang paling buruk, yakni jenis manusia yang selalu mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu. Padahal ia tidak tahu apa-apa.

Dan repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Sebab itulah “yang tidak tahu dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu”.

Lalu bagaimana cara untuk mengenali dan menghindari efek dunning-kruger dalam kehidupan kita?

Pertama, mintalah feedback, kritik dan saran dari orang lain, meskipun terdengar menyakitkan, tapi itu adalah ramuan ajaib yang dapat membuka pikiran kita dan menilai kemampuan kita sendiri.

Kedua, Jangan gonta-ganti profesimu dan teruslah berusaha karena tiada usaha yang menghianati hasil. Selalu ingatlah itu.

Dan ini yang paling penting, pada berbagai bidang dan hal yang tidak kita tahu, akuilah bahwa kita tidak tahu dengan berkata “Saya tidak tahu”.

Karena semakin kita mengetahui, semakin kecil kemungkinan kita memiliki kekurangan dalam kompetensi kita. Mungkin, semua bisa disimpulkan seperti pepatah kuno: “saat berdebat dengan orang bodoh, pertama-tama pastikan orang itu tidak melakukan hal yang sama”.

*Mahasiswa Unhasy.

SebelumnyaKeistimewaan dan Amalan Hari Asyura
BerikutnyaSelain Doa, Ini Ajaran Rasulullah Menghadapi Wabah