
Sebelum kita bicara tentang KH. Hasyim Asy’ari dan nilai-nilai kemanusiaannya, ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri dengan jujur, apakah pesantren hari ini masih menjadi tempat yang aman?
Aman bagi santri untuk bertanya dan berbeda pendapat. Aman juga bagi perempuan dari berbagai bentuk pelecehan yang terlindungi oleh struktur kekuasaan. Lalu aman bagi yang lemah dari kekerasan yang diberi nama “pembinaan”. Terakhir, aman bagi semua orang yang ada di dalamnya untuk tumbuh sebagai manusia. Pertanyaan itu penting, karena warisan terbesar Kiai Hasyim bukan hanya ilmu haditsnya, atau organisasi Nahdlatul Ulama, tapi cara beliau memperlakukan manusia. Dan cara itu layak kita pelajari kembali.
Pesantren Lahir Dengan Menjauhi Kekuasaan
Dalam sejarah awalnya, pesantren bukan lembaga yang dekat dengan istana. Justru sebaliknya. Para pendirinya, baik guru pertapa pra-Islam maupun para wali, sengaja membangun komunitas belajar mereka jauh dari keraton, di desa-desa dan di pegunungan. Mereka tidak mau bergantung pada patron kekuasaan.
Cita-cita mereka, seperti dicatat dalam sejarah, sangatlah jelas yaitu mengangkat derajat rakyat jelata. Bukan mendekati yang sudah berkuasa tetapi mendekati yang lemah dan tidak punya kuasa.
Gelar “kiai” sendiri bukan gelar akademik yang diberikan oleh institusi. Ia diberikan oleh santri dan masyarakat, berdasarkan ilmu yang diamalkan dan akhlak yang dihidupkan. Artinya, otoritas kiai sejati bukan datang dari posisi struktural, tapi dari pengakuan yang tumbuh secara organik, yaitu karena orang benar-benar merasakan manfaatnya. Itu adalah sebuah perbedaan yang sangat besar. Dan perbedaan itu, sangat disayangkan, kadang kabur dalam praktik pesantren hari ini.
Ketika KH. Hasyim Asy’ari berniat mendirikan pesantren di Tebuireng pada 1899, teman-temannya mencegah. Mereka bilang tempatnya tidak cocok: desa itu terkenal sebagai sarang perjudian, kriminalitas, dan kemungkaran. “Tempat tersebut jauh daripada patut untuk didirikan sebuah pondok pesantren,” kata mereka.
Kiai Hasyim menjawab dengan kalimat yang sederhana: “Menyiarkan agama Islam ini artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, apa yang akan diperbaiki lagi daripadanya.”
Beliau tetap masuk ke Tebuireng. Dan cara beliau masuk adalah cara yang perlu kita catat yaitu bukan dengan ceramah keras, atau dengan labeling dosa kepada warga tapi dengan mendekati mereka dengan penuh rasa kasih. Beliau tidak mau mempermalukan orang lain. Beliau juga sangat anti membangkitkan kebencian orang. Dirinya percaya bahwa pengajaran yang diterima dengan kecintaan meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam daripada kritik dan cercaan. Hal tersebut merupakan sebuah pemahaman mendalam tentang martabat manusia bahwa setiap orang, apapun masa lalunya, adalah layak diperlakukan sebagai seseorang yang masih bisa berubah.
Ketika Santri Diberi Ruang untuk Berpikir
Salah satu hal yang paling menarik dari sistem pengajaran Tebuireng saat itu adalah para santri punya kebebasan. Bebas dalam belajar, memilih pelajaran atau tingkat, bahkan bebas untuk tidak belajar.
Itu bukan ketidakdisiplinan, tetapi pengakuan bahwa belajar adalah proses internal yang tidak bisa dipaksakan dari luar. Kiai Hasyim paham bahwa murid yang dipaksa hadir tidak selalu murid yang sungguh-sungguh belajar. Walaupun kemudian beliau menggagas sistem madrasi seperti yang beliau saksikan di Mekah.
Lebih dari itu, ketika kemenakannya, Kiai Muhammad Ilyas, ingin memasukkan pelajaran umum ke madrasah berupa huruf Latin, bahasa Indonesia, berhitung, ilmu bumi, Kiai Hasyim memberikan restunya, meskipun banyak ulama waktu itu menganggap hal itu haram karena berbau Barat. Banyak orang tua santri protes, ulama juga banyak yang menentang. Tapi Kiai Hasyim memilih untuk percaya pada generasi berikutnya.
Dua belas tahun kemudian, ketika Jepang masuk dan melarang penggunaan huruf Arab-Melayu dalam surat-menyurat, justru alumni Tebuireng yang paling siap beradaptasi, dan banyak di antara mereka yang kemudian masuk ke jabatan-jabatan penting.
Pemimpin yang Tidak Mencari Kepatuhan
Ada sebuah prinsip yang Kiai Hasyim pegang dalam memimpin, dan beliau sandarkan pada sabda Nabi Muhammad: “Tidak termasuk golongan kami, siapa-siapa yang tidak kasih sayang kepada yang lebih muda dan tidak menghormati kepada yang tua.”
Dalam kongres Nahdlatul Ulama ke-12 di Malang (1937), terjadi perselisihan tajam antara pengurus besar NU dan pemuda Ansor, dua kubu yang nyaris saling menyerang. Rois Akbar Kiai Hasyim memimpin rapat khusus. Beliau membuka dengan nasihat yang panjang lebar, sampai banyak yang terharu dan tidak dapat menahan air mata. Bukan karena menakut-nakuti, tapi karena beliau berbicara dari hati, dan sampai pula ke hati.
Di akhir rapat, tercapailah kesepakatan, dua kubu yang tadi bertikai setuju untuk saling bermusyawarah sebelum mengambil langkah apapun. Tidak ada yang dipermalukan ataupun dikalahkan. Demikian itu kepemimpinan yang sesungguhnya, bukan kepemimpinan yang menuntut kepatuhan, tapi kepemimpinan yang mengeluarkan sisi terbaik dari orang-orang di sekitarnya.
Kita Perlu Jujur
Tradisi pesantren mewarisi banyak hal yang indah berupa kedalaman ilmu, ikatan komunitas yang kuat, etos belajar yang tidak mudah menyerah, serta kesederhanaan yang bermartabat. Tapi ia juga mewarisi sesuatu yang bias, budaya hierarki yang kadang berubah menjadi pembenaran untuk mengabaikan hak-hak manusia.
Kekerasan yang diberi nama “ta’zir”. Kultus personal yang menutup akuntabilitas. Perempuan yang tidak punya ruang untuk melaporkan pelecehan yang mereka alami, maupun santri yang takut bertanya karena dianggap melawan adab.
Memang benar mungkin bahwa warisan Kiai Hasyim tidak bisa digunakan untuk menutup semua itu. Namun justru sebaliknya, warisan Kiai Hasyim adalah alat untuk membuka dan mempertanyakannya.
Kiai yang mengajar tanpa gaji, pergi ke sawah dua kali seminggu, yang berkata kepada bekas gurunya, “Saya tetap murid tuan, seumur hidup.” Beliau mendekati masyarakat yang hancur dengan cinta, bukan dengan ceramah. Beliau memberi ruang kepada muridnya yang berbeda pendapat, bahkan yang menikahi putrinya sekalipun.
Kiai Hasyim bukan simbol feodalisme. Beliau adalah antitesisnya. Dan kalau kita benar-benar ingin mewarisi semangatnya, maka pesantren harus berani menjadi lembaga yang mengutamakan martabat manusia di atas segalanya, di atas reputasi kiai, stabilitas lembaga, atau kenyamanan mereka yang sudah lama “berkuasa” di dalamnya.
Pesantren bukan kerajaan kecil. Ia adalah rumah. Dan rumah yang baik adalah tempat di mana semua orang yang ada di dalamnya merasa aman untuk tumbuh dengan baik, bertanya, dan menjadi versi terbaik dari diri mereka.
Baca Juga: Kenalkan Perjuangan Kiai Hasyim Melalui Kitab Majmu’ Assanid Wa Ijazat
Sumber bacaan:
Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdiannya (Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
Penulis: Athi Suqya Rohmah
Editor: Sutan


















