Indonesia di Persimpangan

62
Ilustrasi Indonesia (ai/ra)

Indonesia di Persimpangan
Di tanah air ini, gemuruh api sedang bergelora
Membawa tangisan dan sayatan penuh luka-luka

ada wajah-wajah letih yang berbaris di jalan, menunggu kepastian kapan datangnya  perubahan.
ada suara-suara rakyat yang sering tenggelam, dikalahkan  topeng kekuasaan
di ruang-ruang rapat janji dan harapan tega dihunus, pupus.

kata-kata dijual murah seperti komoditas,
digaungkan ke mana-mana, namun akhirnya dilupakan begitu saja. Malah,
mereka dengan tega menjarah rakyatnya.

sementara di gang sempit dan pasar,
orang-orang kecil sibuk menawar bukan harga barang,
melainkan harga hidup:
berapa lama lagi mereka bisa bertahan

dengan uang yang tak pernah cukup,
dengan pekerjaan yang kian sulit,
dengan keadilan yang seolah menjauh.

Indonesia saat ini sedang diuji
menjadi negeri yang benar-benar merdeka,
atau sekadar menjadi panggung sandiwara,
yang dimainkan oleh oknum dengan naskah penuh tipu daya.

Namun aku percaya,
di dada para pemuda yang masih berani bersuara,
di tangan para petani yang masih menanam doa,
di peluh nelayan yang terus menjala harap meski ombak tak bersahabat,

ada bara kecil yang tak pernah padam.
Bara itu akan menjadi api,
membakar ketidakadilan,
menyulut keberanian,

menyuarakan perubahan
dan suatu hari nanti,
Indonesia akan benar-benar bangkit
bukan sekadar nama,
melainkan negara  yang benar-benar merdeka.


Air Mata Doa
Dimatanya tersimpan hujan
namun ia belajar menahan, dengan tersenyum di depan semua orang.
Ia menangis dalam sujudnya,
menyebut nama Tuhan,

dengan suara gemetar.
Segalanya terasa runtuh,
dunianya hancur,
namun ia tahu,
tidak ada kehilangan yang benar-benar hilang, jika dititipkan pada Yang Maha Menjaga.

air matanya adalah doa,
luka-lukanya menjadi jalan pulang.
dan meski takdir telah mencuri banyak hal darinya,

ia tetap berdiri,
Mencoba bangkit sendiri.
sebab ia percaya,
Tuhan akan mengganti sesuatu
yang lebih indah daripada yang pernah ia miliki.

Di balik tangisnya,
ada bisikan lirih:
“Ya Allah, beri aku hati yang kuat,
agar aku tidak hanya bertahan,
tetapi juga menemukan cahaya
di tengah gelapnya kehilangan.”

Dan malam itu,
meski matanya masih basah,
ia merasa lebih ringan,
seakan Tuhan sedang menggenggam tangannya,
membimbingnya menuju ketenangan


Sajak Untuk Qais dan Laila
Di padang pasir, angin berembus
menyimpan bisik nama yang tak henti
Laila… Laila…
seperti doa yang tak pernah selesai.

Qais lelaki yang kehilangan dirinya,
membiarkan cintanya menjelma gila,
menuliskan wajah Laila di setiap langkah kakinya.
meski ombak musim terus menghapusnya,
namun ia tetap setia menunggunya.

dunia menertawakan,
tapi hatinya tak pernah menyerah;
cinta itu bukan sekadar milik dua insan
namun berasal dari nyala kecil cahaya Tuhan.

Laila  mencintai dalam diam
terikat adat, terpasung garis keluarga,
namun hatinya terus bergetar,
setiap kali mendengar langkah Qais di kejauhan.

Mereka terpisah oleh dinding tak kasat mata,
namun dipertemukan di taman rahasia jiwa.
Sebab cinta sejati tidak selalu bersatu,
kadang mereka  menjadi pelita abadi

di langit cerita,
di hati para pecinta yang selalu mengingat nama-Nya.



Penulis: Lusa Indrawati, Komunitas Literasi Competer Indonesia, Kepul, Negeri Kertas dan Pucukmera
Editor: Rara Zarary






Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online