Oleh:  KH. Fawaid Abdullah*

Dua hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan apapun sekalipun. Dengan harta, pangkat, ataupun jabatan, serta badan yang ada dalam diri seseorang itu sendiri.

Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain itu adalah sebaik-baik derajat manusia. Dihargai orang, diperlukan orang, dipercaya orang, dibutuhkan orang lain adalah indikator seseorang itu dikatakan bermanfaat. Sebaik-baik orang itu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Khairu al-nas anfa’uhum li al-nas.

Manusia yang bermanfaat itu pasti mempunyai hubungan yang baik dengan sesama manusia nya, hablun min al-nas. Tatkala hubungan baik dengan sesama manusia itu dibangun dengan baik. Maka sejatinya betapa penting juga membangun hubungan dengan Sang Khaliq-Nya, Allah Swt. hablun min Allah. Inilah yang dinamakan dimensi keimanan. Iman itu kaitannya pasti dengan Sang Maha Pencipta, Allah Rabb al-‘Alamin.

Orang yang hubungan dengan Allah itu baik, maka seharusnya baik pula hubungan dengan sesama manusianya. Begitu pun sebaliknya. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dimensi vertikal dan dimensi horizontal itu harusnya imbang. Ketika seseorang itu bisa membangun kedua dimensi itu secara imbang. Maka disinilah manusia itu akan mendapatkan derajat yang terhormat dan mulia. Mulia di hadapan Allah dan mulia dihadapan sesama manusianya.

Rasulullah SAW bersabda : “Bangsiapa yang pagi-pagi keluar rumah lalu tidak berniat menzalimi orang lain, maka dosa nya akan di ampuni Allah. Dan Barangsiapa pagi-pagi keluar rumah niat menolong orang yang terzalimi dan memenuhi hajat saudaranya, maka pahalanya seperti pahala orang yang haji mabrur”.

Betapa penting, menjadi manusia yang memiliki kekuatan dua dimensi yang imbang itu. Dimensi vertikal, hubungan ilahiyah atau keimanan yang kuat. Serta dimensi horizontal, hubungan kemanusiaan yang anfa’ dan bermartabat. Wallahu A’lam.

*Khadim Pesantren AL-AULA Kombangan Bangkalan Madura

SebelumnyaKeistikamahan dan Kedisiplinan KH. Idris Kamali dalam Mengajar
BerikutnyaGaun Nikah Muslimah era Modern