
Dekapan Ibu
Ibu…
walau awan mendung dan hujan hari ini turun
tanpa payung akupun tak basah karna dekapanmu Ibu
Ibu…
bila mana hari ini samudera sedang bergejolak
menghantam kerikil dan batu-batu karang
lalu ikan-ikan datang mengambang tanpa nyawa
aku tidak akan lari sebab perahu kasihmu lebih besar
dan mampu menenangkan cemasku
menjadikan tawar rasa takutku
Ibu…
ketika aku suatu hari salah berbuat
bilamana seluruh kata-kata di dunia berkumpul menghujatku
memenuhi segala sisi otakku
dan dengan berani mengusik rasa amanku
maka, segar indah kata-katamulah
yang mampu menjadi perisai jiwaku
Ibu kalau aku lapar dan saat itu aku belum dapat umpan untuk memancing
ikan laukmu kepala pindang yang kau sembunyikan
di dalam kata “sudah kenyang” itulah yang ku makan
mawar melati putih dan bunga sedap malam
Ibu… semerbak harum ikhlasmu mewangi
dalam setiap ruang hidupku
menjadi bumbu penyedap
pada setiap derap langkah arah hidupku
Ibu Petaku
Pada apa yg kurekam
sejak kali pertama kubuka jendela cakrawala
padamu Ibu engkau menjadi peta
lalu kau permudah caraku membaca
tanpa sempat aku mengeja
sebelum abjad telah mampu kucerna
jalan-jalan yang terjal kau beri tanda
sedang yang curam kau beri aba-aba
duri-duri yang tajam kau jadikan tumpul
padamu Tuhan aku bersaksi
bahwa Ibu bertelapak kaki surga ialah nyata
sebab padanya ketemukan kesegaran bak telaga kautsar
yang kau sebut ada dalam surga
sebab padanya pula
kepahitan hidup menjadi manis
kala menatap senyum di wajahmu Ibu
Ibu…
engkau singgasana tempat berlabuh segala keluh kesah
dalam setiap derap ikhtiar mu
ialah doa pada setiap langkah anakmu
Lentera Kehidupan
Pada setiap gelap yang menghadang
suara itu terus terngiang
melekat kuat dalam relung hati
sebuah nasihat yang tak pernah henti
Ibu, lentera yang tak pernah padam
embun segar pagi buta
terkikis pudar oleh hangatnya Mentari
sedangkan kau Ibu
kedua tanganmu mengalahkan hangatnya mentari
memeluk hingga larut malam
melampaui banyak pagi
melewati berkali-kali senja
hingga pada batas usia
kerut pada telapak tanganmu
masih hangat tak berubah
Bu doamu lautan tak bertepian
doamu garis putih di tikungan tajam
cermin melingkar disudut jalan
malam yang tak berkesudahan
bahkan pada sajadah yang telah usang
Penulis: Amalia Dwi Rahmah
Editor: Rara Zarary


















