Hukum Niat Puasa Sebulan Penuh di Awal Ramadan

235
Puasa

Oleh: Fitrianti Mariam Hakim*

Dalam perspektif fikih formal (hukum), niat menentukan sah tidaknya suatu amal ibadah. Sedangkan dalan prespektif fikih moral, niat dapat menentukan berpahal atau tidaknya suatu amalan. Oleh karena itu, niat berpuasa merupakan sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang yang berpuasa. Mengapa demikian? Karena ia merupakan rukun puasa, selain menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Hal ini berkaitan dengan hadis Nabi Muhamamd shollallahu ‘alahi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 1 dan yang lainnya, dari Umar bin Khattab r.a. yang berbunyi sebagai berikut :

إنما الاعمال بالنيات

“Sungguh, setiap perbuatan itu tergantung niatnya.”

Dan dijelaskan pula dengan firman Allah SWT pada Surah Al Baqarah ayat 187, yang artinya sebagai berikut, “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam menentukan waktunya, niat puasa Ramadan, Jumhur Fuqaha– yakni mayoritas ulama ahli fiqih- sepakat bahwa waktu niat berpuasa wajib dilakukan pada malam hari bulan Ramadan. Lebih jelasnya yakni mulai dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Hal ini didasarkan pada sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i no. 2331.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak menginapkan niat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. an Nasai)

Dijelaskan pula dalam kitab Fathul Mu’in ma’a Hasyiah I’anatut Tholibin juz 2 halaman 238 dan berikut adalah yang terdapat di kitab al Fiqh al Islamy wa Adillatuhu juz 1 halaman 169.

الفقه الإسلامي و أدلته

واشترط الفقهاء تلك الشروط في الصيام و أضافوا إليها تبييت النية أى إيقاعها ليلا في رأي الجمهور غير الحنيفة وهو الأفضل عند الحنفية لقوله عليه الصلاة والسلام من لم يبيت الصيام قبل طلوع الفجر فلا صيام له واشترط الجمهور أيضا تعين النية في فرض الصيام ولم يشرطه الحنفية والتعيين أن يعتقد أنه يصوم غدا من رمضان أو من قضائه أو من كفارته أو نذره 

Lalu bagaimana dengan niat untuk puasa sunnah?

Untuk puasa sunnah, niatnya boleh dilakukan pada pagi hari sebelum matahari tergelincir di tengah hari. Hal ini disandarkan pada makna subuah hadis shahih dari ‘Aisyah RA, bahwa suatu pagi Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apa pagi ini ada sarapan?” Aisyah menjawab: “Tidak ada”. Maka beliau bersabda: “Kalau begitu saya berpuasa” (HR Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai).

Lalu bolehkah niat puasa Ramadan itu digabung sebulan penuh sehingga tidak harus melakukan niat setiap malam?

Mayoritas ulama ahli fikih berpendapat, bahwa niat puasa harus dilakukan setiap malam di bulan Ramadan. Sedangkan menurut ulama madzhab Malikiyah, niat puasa Ramadan boleh dilakukan tiap malam, tetapi boleh juga dilakukan untuk satu bulan sekaligus dengan tujuan berhati-hati apabila suatu malam lupa niat, maka puasanya tetap sah karena sudah niat berpuasa sebulan penuh. Hal ini dijelaskan dalam kitab Al Bajuri juz 1 halaman 429.

وعند  الإمام مالك أنه  يكفي نية صوم جميع الشهر في أول  ليلة منه وللشافعي تقليده في  ذلك لئلا ينسى النية  في ليلة فيحتاج للقضاء

Menurut Imam Malik diperbolehkan puasa satu bulan hanya dengan niat satu kali pada malam pertama ramadhan, dan bagi madzhab Syafi’iyyah boleh mengikuti (taklid) terhadap pendapat tersebut agar ketika suatu hari lupa niat puasa maka tetap berpuasa dan tidak wajib mengqadhanya.”

Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA. menjelaskan bahwa hal diatas didasarkan pada pemahaman, bahwa kewajiban puasa Ramadan itu sebulan penuh, sebagaimana firman Allah SWT  dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, yang menegaskan: “…karena itu barangsiapa di antara kamu yang menyaksikan datangnya bulan Ramadan, maka berpuasalah…”

Menurut Malikiyah bulan Ramadan adalah nama suatu bulan yang walaupun terdiri dari beberapa hari tetapi tetap merupakan suatu kesatuan tunggal, yakni satu bulan, sehingga niat puasanya pun cukup satu kali di awal bulan. Seperti halnya shalat Dhuhur, walaupun terdiri dari empat rakaat tetapi tetap merupakan satu kesatuan shalat, dengan cukup satu kali niat di awalnya. Begitu juga haji, walaupun terdiri dari beberapa rangkaian rukun dan wajib haji tetapi juga tetap merupakan satu kesatuan ibadah yang disebut haji dengan cukup satu kali niat haji di awalnya.

Dengan demikian kalau kita menganut Malikiyah, kita diperboleh mengambil tindakan ikhtiyaath (hati-hati) pada malam pertama bulan Ramadan dengan melakukan niat puasa sebulan penuh. Apabila ternyata kemudian terjadi ‘udzur (berhalangan), maka harus memperbarui niat untuk hari-hari berikutnya. Namun, Syafiyah, Hanafiyah, Hanabilah, tidak memperbolehkan, alias harus melakukan niat saban malam selama bulan Ramadan.

Mengenai sifat dan ekspresi niat puasa, para fuqaha’ (ahli fikih) berbeda pendapat. Fuqaha’ Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah berpendapat, bahwa niat itu cukup dalam lintasan batin saja; bahkan makan atau minum di waktu sahur karena mau berpuasa, sudah dapat dianggap sebagai niat. Jadi kalaupun tidak mengucapkannya secara eksplisit, maka sudah diakui berniat dan puasanya tentu sah. Berbeda dengan jumhur fuqaha’ di atas, fuqaha’ Syafi’iyah berpendapat, bahwa walaupun boleh dalam lintasan batin, tetapi niat puasa itu harus jelas, misalkan, “Saya besok berpuasa Ramadan karena Allah”, lebih bagus lagi jika diucapkan dengan lisan untuk memantapkannya.

Oleh karena itu di kalangan umat Islam Indonesia (yang mayoritas mengaku Syafi’iyah) ada kebiasaan mengucapkan niat bersama-sama sesudah shalat tarawih dan witir dipimpin seorang imam, agar terungkap niat secara jelas dan tidak terjadi kelupaan niat puasa untuk besoknya. Walaupun yang demikian ini tidak ditemukan pada zaman Nabi, tetapi hal ini merupakan kebiasaan baik yang tidak perlu dipermasalahkan. Apalagi ada kaidah ushul fikih yang menyatakan, “al ‘Aadah al Muhakkamah” (kebiasaan (baik) itu dapat menjadi pertimbangan penetapan hukum).


Sumber:

Buku Fiqh Kontemporer, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA

Tafsir al-Bayan

Fathul Mu’in ma’a Hasyiah I’anatut Tholibin juz 2 halaman 238

al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu juz 1 halaman 169.