Oleh: Asti Maharani*

Salah satu syarat menjadi imam adalah tidak termasuk orang yang ummy. Apa definisi ummy itu?

وهو من يخل بحرف من الفاتحة

“Yaitu seseorang yang merusak bacaan fatihahnya sekalipun satu huruf.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lalu bagaimana status ummy pada orang yang cadel? Bagaimana detailnya batasan ummy itu? Di dalam kitab fathul mu’in:

لا قدوة قارئ بامي وهو من يخل بالفاتحة او بعضها ولو بحرف منها بان يكون يعجز عنه بالكلية او عن اخرجه عن مخرجه او عن اصل تشديدة وان لم يمكنه التعلم ولا علم بحاله

Tidak sah jamaahnya seorang qori’ (bisa membaca al-Fatihah fashih) yang mengikut kepada seorang ummy, yaitu orang yang rusak bacaan fatihahnya atau sebagian fatihahnya sekalipun satu huruf dari Al-Fatihah. Baik karena tidak bisa membaca keseluruhannya atau tidak sesuai makhrajnya atau tasydidnya. Sekalipun itu dikarenakan ia tidak memungkinkan lagi untuk mempelajarinya dan makmum tidak mengetahui keadaannya.

Dalam kutipan ini, orang cadel termasuk dalam kategori ummy disebabkan mengeluarkan huruf tidak sesuai makhrajnya. Maka tidak sah mengikut dengan seorang yang cadel. Akan tetapi di dalam kitab “Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubra” disebutkan:

وان كان لثغة فان كانت يسيرة بحيث يخرج الحرف صافيا وانما فيه شوب اشتباه بغيره فهذا ايضا تصح صلاته وامامته وتكمل الجمعة به ولا يلزمه التعلم

Dan jika si imamnya Al-Tsagh maka jika Al-Tsaghnya sedikit yang mana harusnya keluar huruf itu bersih hanya saja padanya ada kesamaran dengan yang lain maka ini juga hukumnya sah shalatnya dan sah dijadikan imam dan bisa menyempurnakan Jumat dengannya dan dia tidak wajib belajar.

وان كانت لثغة حقيقية بان كان بيدل الحرف بغيره فتصح صلاته لا القدوة به الا لمن مثله

Dan jika Al-Tsagh-nya itu haqiqi/parah dengan gambarannya bahwa dia mengganti huruf dengan huruf yang lain maka sah shalatnya, tapi tidak sah mengikutinya kecuali bagi orang yang serupa dengannya.

Al-Tsagh yaitu orang yang merubah huruf dengan huruf yang lain misalnya الحمد ia menjadikannya الهمد

Maka kesimpulannya diperinci, sah jika bacaan fatihahnya hanya mengulang-ulang huruf atau makhrajnya huruf serupa dengan huruf lain (kurang fasih). Namun apabila kesalahannya fatal sampai merubah huruf atau makna, maka bermakmum kepadanya tidak sah. Dengan catatan seorang tersebut sudah berusaha dengan mempelajari tajwid.

Wallahu a’lam bisshowaab.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, anggota kelas menulis MAHA

SebelumnyaMacam-Macam Bid’ah Menurut Syekh Nawawi al-Bantani
BerikutnyaDokter Otak Kondang, Eka Julianta Berikan Kuliah di Tebuireng