Hati yang Tak Pernah Dipilih

34
Ilustrasi perempuan dan kisahnya (sumber: ai/ra)

Aisyah mengenal Faris bukan dari pertemuan yang direncanakan atau janji yang disengaja. Mereka dipertemukan oleh sebuah forum kajian daring, lalu berlanjut pada diskusi buku, dan sesekali saling mengingatkan waktu shalat. Hubungan itu pun tumbuh pelan, seiring berjalannya waktu. Rapi, tertata, seolah keduanya sama-sama tak ingin melanggar batas apa pun yang belum semestinya dilanggar.

Faris selalu berhati-hati dalam bersikap. Ia tak pernah mengumbar kata cinta atau janji yang berlebihan. “Aku ingin semuanya jelas,” katanya suatu malam, “tapi aku juga tidak ingin tergesa-gesa.”
Aisyah hanya mengangguk pelan. Dalam benaknya, kehati-hatian adalah tanda kesungguhan, bukan keraguan.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Pesan-pesan Faris menjelma rutinitas yang mengisi sela-sela kesepian Aisyah. Ia menolak beberapa tawaran ta’aruf yang datang, sebab hatinya sudah tertambat pada satu nama. Nama yang tak pernah benar-benar memintanya menunggu, tetapi juga tak pernah memintanya untuk pergi.

***

Suatu hari, pada sore yang diselimuti cahaya senja, konflik di antara keduanya mulai terasa. Saat itu Faris semakin sering menghilang dengan alasan amanah organisasi dan rencana studi lanjut. Aisyah berusaha memahami. Sebisa mungkin ia menenangkan diri dengan dalih: laki-laki baik pasti punya banyak rencana dalam hidup dan sibuk mempersiapkan masa depan agar tidak gagal di kemudian hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, pada pagi yang terasa begitu sunyi, Aisyah menerima kabar pahit yang menyayat hati. Kabar itu datang dari seorang temannya, yang mengatakan bahwa Faris sedang dalam proses ta’aruf resmi dengan perempuan lain. Konon, keluarga mereka telah saling mengenal sejak lama karena hubungan kolega bisnis.

Mendengar kabar itu, Aisyah terdiam cukup lama. Ia termenung, mencoba mencerna berita yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Dadanya terasa sesak. Bukan karena cemburu semata, melainkan karena rasa lelah telah berjalan terlalu jauh di jalan yang tak pernah dijanjikan sebagai tujuan.

Malam itu, Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.

“Jadi selama ini aku hanya tempat persinggahan?”

Balasan Faris datang cukup lama.

“Aku tidak pernah bermaksud untuk melukai. Aku hanya belum siap untuk memilih.”

Kalimat itu seperti palu yang mengetuk kesadaran Aisyah selama ini. Ia tersenyum pahit. Ternyata, menunggu seseorang yang belum siap memilih sama saja dengan seni melukai diri sendiri secara perlahan.

Beberapa hari kemudian, Faris meminta bertemu. Ia ingin menjelaskan semuanya secara langsung. Di sebuah ruang terbuka pesantren, Faris berkata lirih, “Maaf, aku salah. Aku memang menjaga perasaanmu, tapi aku lupa bertanggung jawab atas arah hubungan ini.”

Aisyah menatapnya dengan tenang. Tak ada air mata, bahkan tak ada suara tinggi yang terdengar. “Aku tidak marah,” katanya pelan. “Aku hanya belajar bahwa rasa saja tidak cukup jika tidak dibingkai niat dan keberanian.”

Faris terdiam. Ia sadar, kehilangan Aisyah bukan karena kehadiran orang ketiga, melainkan karena ketidakmampuannya mengambil keputusan pada waktu yang tepat.

Sejak hari itu, Aisyah mulai merapikan ulang kehidupannya. Ia kembali menata langkah dan membuka diri pada proses yang lebih jujur. Bukan karena ingin segera menikah, tetapi karena ia tak ingin lagi terikat pada hubungan tanpa arah yang jelas.

Beberapa bulan kemudian, Faris mengirim kabar. Proses ta’arufnya gagal. Ia meminta kesempatan kedua.

Aisyah membaca pesan itu cukup lama. Lalu ia menjawab singkat, “Maaf. Aku sudah belajar cukup lama tentang menunggu. Dan sekarang aku belajar untuk lebih memilih diriku sendiri, memilih laki-laki yang bertanggung jawab dan berani mengambil keputusan.”

Ia menutup ponsel, menarik napas dalam-dalam, lalu berdoa. Dalam hatinya, Aisyah tahu: cinta yang benar tak membuat seseorang kehilangan harga diri, apalagi kehilangan arah menuju cinta-Nya yang Ilahi. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar merdeka.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary